Pesona Gadis Desa

Pesona Gadis Desa
Bab 29 PGD


__ADS_3

Leon pun berangkat dengan hati yang masih tertinggal.


''Ana aku mencintaimu,'' gumam Leon pelan.


''Dirga, tolong kamu awasi terus Lufi. Jika ada apa-apa jangan lupa beritahu aku!'' perintah Leon.


''Baik Tuan,'' ucap Dirga.


''Dan satu lagi. Tolong juga awasi teman Lufi yang pernah tinggal di rumah, cukup di awasi dari jauh,'' ucap Leon.


''Baik Tuan,'' ucap Dirga.


''Aku berangkat dulu. Jaga perusahaan baik-baik. Aku percaya sama kamu,'' ucap Leon menepuk pelan pundak Dirga.


''Hati-hati Tuan,'' ucap Dirga.


Leon meninggalkan Dirga yang masih menatapnya.


''Ana, aku sudah mengabulkan apa yang kamu inginkan. Aku akan pergi, dan tak akan kembali An, semoga kamu bahagia,'' batin Leon.


*


*


Lufi memilih mengurung diri di kamarnya. Sebenarnya ia kecewa dengan keputusan Kakaknya, ia juga kecewa dengan sahabatnya, Ana. Tetapi mau bagaimana lagi, Kakaknya sudah pergi dan tak akan kembali lagi ke Jakarta. Ia memilih merelakan daripada berjuang.


Di lain tempat.


Ana memilih tak keluar dari kamar. Rasanya ia malas untuk hanya membeli makan. Perutnya pun tak merasa lapar seharian. Ana juga memutuskan untuk tidak pergi bekerja malam ini.


''Kak Leon. Andaikan tadi malam aku tak menerima cinta dari Kak Fadil, mungkin sekarang kita sudah bahagia Kak. Aku bodoh! Aku bodoh Kak. Maafkan aku yang telah menyakiti hatimu,'' ucap Ana.


Ana mengingat kembali saat pertama kali bertemu dengan Leon. Saat ia di usir dari rumah, di tuduh yang tidak-tidak oleh Leon, Ana mengingat semuanya. Ana juga mengingat pertemuannya yang kedua kali dengan Leon. Saat Leon menolongnya, membersihkan luka kakinya saat terkena pecahan mangkuk dan menggendongnya ke dalam kamar.


''Bibir ini, bibir ini pernah kamu jamah Kak. Aku tak akan pernah bisa melupakan kamu Kak Leon,'' Ana meraba bibirnya yang sudah tidak perawan lagi. Dan yang melakukan itu tak lain dan tak bukan adalah Leon. Ana teringat saat Leon mencium sekilas bibirnya, namun setelah itu, Leon berucap kata yang membuat hati Ana sakit.


*


*

__ADS_1


Hari pun berganti, hari ini Ana memutuskan untuk pergi ke kampus, ia tak mau terus menerus larut dalam kesedihan.


''Semangat An, semangat! Lupakan dia, kamu tak pantas bersanding dengannya,'' ucap Ana menyemangati dirinya sendiri. Saat Ana membuka pintu, Lufi sudah berdiri di dekat pintu dengan bersedekap dada. Lufi menatap Ana dengan tatapan yang sulit di artikan.


''Lufi,'' gumam Ana pelan.


''Sejak kapan kamu disini?'' tanya Ana.


''5 menit yang lalu,'' jawab Lufi datar.


''Kamu kenapa?'' tanya Ana, ia merasa penasaran dengan raut wajah Lufi yang sulit di tebak.


''Apa ada yang tidak aku ketahui An?'' tanya Lufi datar.


''Maksud kamu apa?'' tanya Ana yang bingung dengan maksud ucapan Lufi.


''Kak Leon memutuskan untuk kembali lagi ke LN. Dia akan menetap di sana dan tak akan kembali lagi ke Indonesia,'' ucap Lufi menahan air matanya agar tak jatuh.


''Kak Leon pergi lagi?'' tanya Ana memastikan.


''Aku yakin kamu mengetahui tentang ini semua An!'' ucap Lufi.


''Apa yang kamu sembunyikan dari aku?'' tanya Lufi dengan tatapan mengintimidasi.


''Aku, aku nggak menyembunyikan apapun dari kamu Fi. Menyembunyikan apa maksudmu?'' tanya Ana.


''Apa kemarin malam Kak Leon menemuimu?'' tanya Lufi.


''I iya.''


''Apa kamu bicara sesuatu kepadanya, hingga dia pergi dan tak kan kembali?'' tanya Lufi.


''Maafin aku Fi. Aku nggak bermaksud seperti itu. Aku hanya---''


''Diam!!! Tanpa sengaja kamu sudah memisahkan seorang adik dan Kakaknya An. Kamu sudah memisahkan aku dan Kak Leon. Kamu tau kan kalau Kak Leon satu-satunya keluarga yang aku punya saat ini? Tapi kenapa kamu tega melakukan ini An!'' Lufi marah, Lufi benci. Sejak tadi Lufi memendam amarahnya. Ingin sekali Lufi menjambak rambut Ana, namun ia teringat pesan Kakaknya untuk tidak membenci Ana.


''Maafkan aku Fi. Saat aku ingin menghapusnya dari dalam hatiku dan menggantikannya dengan orang lain, dia datang dan menyatakan perasaannya kepadaku. Aku bingung, aku marah dengan diriku sendiri. Jika malam itu aku tak menerima perasaan cinta dari Kak Fadil, mungkin saat ini Kak Leon masih berada di sini Fi,'' Ana pun menangis, ia bersimpuh di dekat kaki Lufi, Ana bertambah merasa bersalah kepada Leon dan Lufi.


''Jadi kamu sudah resmi berpacaran dengan Kak Fadil?'' tanya Lufi. Ana hanya menganggukkan kepalanya pelan, ia tak berani menatap wajah Lufi, yang jika marah sebelas dua belas dengan wajah sang Kakak.

__ADS_1


''Maafin aku Fi. Di sini bukan cuma kamu yang merasa sakit. Aku pun juga Fi,'' ucap Ana menangis pilu.


''Malam itu, Kak Fadil menyatakan perasaannya kepadaku, awalnya aku ragu, aku meminta waktu untuk menjawabnya. Namun aku teringat kata-kata kasar Kak Leon, di saat itu juga hatiku sakit Fi. Aku pun ingin menghapus nama Kak Leon dari hatiku, akhirnya aku menerima perasaan cinta Kak Fadil. Sesampainya di kos, Kak Leon tiba-tiba berada di dalam kamarku, dia menyatakan perasaannya padaku Fi. Jujur aku sangat bahagia mendengar ucapan cinta dari Kak Leon, namun di sisi lain, aku marah pada diriku sendiri yang sudah menerima cinta yang lain Fi,'' ujar Ana. Bayangan malam itu membuat Ana kembali teringat telah menyakiti orang yang ia cintai.


Lufi pun ikut menangis. Lufi sadar, ini semua juga bukan salah Ana. Selama ini Leon selalu bermulut pedas di depan Ana. Siapa sangka jika sebenarnya hatinya menaruh perasaan lebih kepada Ana.


''Bangun An,'' ucap Lufi.


''Maafin aku Fi. Kamu boleh membenciku sekarang. Aku akan terima itu, karna aku memang salah Fi,'' ucap Ana masih bersimpuh di depan Lufi.


''Jika aku membencimu, Kak Leon akan marah padaku An. Berdirilah!! Aku yakin suatu saat kalian akan bersama,'' ucap Lufi. Ana segera berdiri, ia segera memelik Lufi dengan erat.


''Maafkan aku.''


''Tidak ada yang perlu di maafkan An,'' ucap Lufi.


Mereka pun akhirnya memutuskan untuk tidak pergi kuliah hari ini. Lufi masuk kedalam kamar Ana, ia akan mengistirahatkan tubuhnya sebentar. semalaman ia tak bisa tidur karna memikirkan sang Kakak dan sahabatnya.


''Apa kamu ingin menginap disini?'' tanya Ana.


''Aku ingin kamu kembali ke rumahku An. Rasanya rumah seperti kuburan. Sepi, sunyi seperti tidak ada kehidupan di sana,'' ucap Lufi.


''Maaf Fi tapi aku nggak bisa,'' Ana menolak ajakan Lufi dengan halus.


''Kenapa?'' tanya Lufi.


''Jika aku tinggal di sana. Yang ada aku terus menerus memikirkan Kak Leon Fi,'' ucap Ana.


*


*


Numpang ngamen dulu yak.


Sego liwet lawuh tempe🎶🎶


Ndas ku mumet ndas mu piye🎶🎶


Authornya lagi pusing gaes🤕🤯

__ADS_1


__ADS_2