
Hari sudah mulai sore dan semua siswa siswi mulai banyak yang berkumpul karena panggilan dari pak Vino dan bu Asri yang memaksa mereka untuk bangun dari istirahat mereka tadi.
"Semua nya berkumpul di sini, tidak ada lagi yang berada di dalam tenda. Kita akan bagi tugas supaya lebih cepat." Pak Vino mulai membagi siswa siswi menjadi beberapa kelompok.
"Kelompok pertama akan mencari kayu bakar di tepi hutan, kelompok kedua akan mengambil air di sungai dan kelompok ketiga membantu mempersiapkan segala sesuatunya yang kita butuhkan nanti. Paham semua nya?" Pak Vino membacakan satu persatu nama siswa siswi nya perkelompok.
Andini, Diva, Rendi, Rio dan beberapa orang lain nya mendapatkan kelompok kedua yaitu mengambil air di sungai. "Yes kita sekelompok sama ayang." Andini tampak sangat bahagia sekali karena satu kelompok dengan Rendi. Kemudian dia langsung berlari menuju Rendi dan langsung memeluk nya.
"Jangan lebay, biasa aja kali." Diva langsung berkomentar, dia merasa kesal karena satu kelompok dengan Rio.
"Kalau iri bilang bos, tapi gak usah iri deh. Kan ada sang pangeran tercinta nya." Perkataan Andini langsung di sambut tawa oleh teman teman nya.
Sintya merasa kecewa karena tidak satu kelompok dengan teman teman nya. Ternyata dia menjadi bagian dari kelompok pertama yaitu mencari kayu bakar di tepi hutan. Salah satu dari mereka adalah Gilang Ramadhan yang juga menjadi kelompok pertama.
"Semua nya silahkan melakukan tugas nya masing-masing yang sudah bapak bagi tadi." Kata pak Vino.
Semua tampak meninggalkan tempat itu untuk melakukan tugas mereka masing-masing.
Kelompok pertama mengumpulkan kayu sebanyak mungkin karena mereka akan mengadakan acara api unggun nanti malam.
__ADS_1
Tanpa terasa hari sudah mulai gelap dan semua siswa harus kembali ke tenda mereka masing-masing.
Sintya pun nampak ikut membawa kayu bakar. Beberapa saat kemudian terdengar suara teriakan perempuan. Ternyata dia adalah Sintya yang kesakitan, karena terjatuh dan terpeleset.
Gilang membiarkan kayu nya begitu saja dan langsung berlari menuju dimana Sintya terjatuh. " Kamu gak papa kan Sin, mana yang sakit, kamu sih gak hati hati jalan nya." Gilang terlihat sangat mencemaskan keadaan Sintya. Dia membantu Sintya untuk berdiri.
Sintya terheran heran melihat sikap Gilang kepada diri nya. Orang yang selama ini terkenal cuek dan irit bicara sekarang berubah menjadi begitu cerewet sekali menurut nya.
"Auuhh... Sakit lang."Sintya tampak menahan rasa sakit nya.
"Mana yang sakit." Gilang memijat pelan kaki Sintya. "Kalau gak bisa jalan biar aku gendong aja ya sampai ke tenda, takut nya nanti tambah parah." Sintya sangat bahagia sekali karena Gilang begitu perhatian kepada diri nya.
"Gak usah banyak tapi tapi nya." Tanpa meminta izin kepada Sintya, Gilang langsung menggendong Sintya dengan pundak nya yang kekar.
Jantung mereka berdua berpacu dengan kencang. Mereka berdua merasa sangat deg degan dengan situasi seperti ini. Mereka hanya bisa berdialog dengan pikiran mereka masing-masing tanpa ada yang berani untuk bicara.
Beberapa saat kemudian mereka berdua telah sampai di tempat tujuan yaitu tempat dimana teman teman nya berada.
"Cie cie pacaran mulu deh, nanti juga ada waktu kali." Tiba-tiba Diva datang menyelonong di depan mereka berdua.
__ADS_1
"Apaan sih Div." Jawab Sintya.
"Tadi Sintya terpeleset saat kami mengambil kayu, mungkin kaki nya terkilir. Tolong ambilkan obat dong." Tanpa berpikir panjang Diva langsung mengambil obat untuk sahabat nya itu.
Malam hari nya para siswa siswi mulai menyalakan api unggun untuk acara mereka malam ini.
Setelah api unggun menyala, para siswa siswi menikmati hangatnya api unggun sambil diiringi beberapa lagu yang membuat suasana semakin romantis. Gilang juga menyumbangkan suara emas nya, dia menyanyikan sebuah lagu yang berjudul cinta terpendam.
Tepuk tangan yang meriah terdengar dari semua teman teman nya karena merasa terhibur oleh lagu yang dinyanyikan oleh Gilang. Sintya tampak terkagum kagum dengan suara seorang Gilang Ramadhan.
"Ganteng banget dia." Tanpa sadar Sintya mengucapkan kalimat itu yang bisa di dengar oleh semua orang. Kebetulan suasana saat itu mulai hening.
"Kalau suka bilang aja bos." Terdengar teriakan dari salah satu teman Gilang yang membuat kesadaran Sintya kembali. Dia merasa malu karena semua mata tertuju pada diri nya saat ini.
Gilang hanya tersenyum sedikit mendengar perkataan Sintya.
Hari sudah mulai larut malam dan siswa siswi diperintahkan untuk memasuki tenda masing-masing. " Semua siswa siswi harap memasuki tenda." Ucap bu Asri.
"Baik bu." Jawab mereka serentak.
__ADS_1
Gilang dan teman teman nya di tugas kan pak Vino menjaga diluar tenda.