
Setelah semuanya bersih, Nois langsung menuju kamar mandi untuk melakukan ritual mandi, karna badannya terlalu lengket dan kotor. Jam pun menunjukkan hampir pukul tengah malam, perut Nois juga keroncongan minta di isi karna membersihkan satu ruangan yang sangat kotor menjadikan ia mengeluarkan banyak tenaganya.
''Lapar lagi,'' gumamnya sambil mengelus perutnya yang membuncit. Ia berjalan keluar kamar mencari dapur di rumah itu. Setelah sampai di dapur, ia mencari makanan yang siap ia makan.
''Nggak ada makanan pula. Adanya cuma mie instan. Ya udah deh nggak pa-pa buat ganjel perut,'' ucapnya. Nois mengambil mie instan itu lalu memasaknya. Saat ia fokus pada mie di depannya, ia seperti melihat bayangan putih yang seliweran di belakangnya. Seketika bulu kuduknya pun berdiri.
Nois menoleh ke kanan dan ke kiri. Namun tak ada seorang pun di sana. Namun ada bunyi sesuatu berasal dari ruang keluarga. Nois yang memang penakut, mengurungkan niatnya untuk melihat ke ruang keluarga yang gelap gulita. Ia lebih memilih mematikan kompor lalu menuangkan mie nya ke dalam mangkuk dan meninggalkan dapur.
Nois menutup pintunya dengan sedikit keras karna terlalu gugup.
''Ha ha ha,'' tawa Lufi pecah saat berhasil membuat Nois ketakutan. Walaupun permainannya masih di bilang biasa saja, namun ia bahagia karna bisa membuat Nois ketakutan.
''Rasain tuh. Emang enak aku kerjain,'' ucapnya pelan.
*
Pagi harinya. Leon sudah rapi dengan setelan jas hitamnya. Hari ini ia akan tetap bekerja untuk menghilangkan bayang-bayang kesalahan yang ia lakukan kepada Ana.
Leon menuruni anak tangga dan menuju ruang makan untuk sarapan pagi. Leon mengeryitkan dahinya saat ia tak melihat ada makanan di atas meja.
''Bi, bibi,'' panggil Leon duduk di kursi meja makan tersebut.
''Ada apa sih Kak. Pagi-pagi kok teriak-teriak,'' ucap Lufi yang berjalan mendekat ke arah Leon.
''Bibi kemana? Kenapa nggak memasak sarapan pagi,'' tanya Leon.
''Kakak lupa kalau Bibi sedang cuti,'' ucap Lufi menatap Kakaknya dengan senyum manis di bibirnya.
''Cuti? Sejak kapan? Kenapa nggak bilang sama aku,'' ujar Leon.
''Mulai dari kemarin. Katanya rindu rumah,'' ucap Lufi santai.
''Terus siapa dong yang masak? Aku nggak mau ya terus menerus makan di luar,'' ucap Leon.
''Kan ada Kak Nois, iya kan. Sebagai istri yang baik, kan harus melayani suami,'' ucap Lufi saat melihat Nois yang keluar dari kamarnya.
__ADS_1
''Ada apa?'' tanya Nois mendekat.
''Gini Kak, ART di rumah ini kan lagi cuti. Kak Leon nggak mau kalau terus-terusan makan di luar. Dan Kak Nois kan istrinya Kak Leon. Udah jadi kewajiban kan kalau Kak Nois melayani suami,'' ujar Lufi.
''Iya terus?'' tanya Nois yang tiba-tiba kehilangan otak pintarnya.
''Ya Kak Nois harus masak lah untuk kita bertiga,'' ucap Lufi santai.
''Aku sedang hamil, kenapa tidak kamu aja,'' ucap Nois menatap Lufi dalam-dalam.
''Aku nggak bisa masak,'' ucap Lufi terlewat santai.
''Udahlah, kenapa kalian harus ribut sih,'' Leon tambah pusing jika hari-hari berikutnya akan mengalami hal yang sama seperti ini.
''Baiklah, aku akan memasak untuk suamiku,'' ucap Nois tersenyum kepada Leon. Namun Leon hanya nampak acuh.
Nois sedang berkutat di dapur. Entahlah apa yang ia masak. Namun jam sudah menunjukkan pukul 7 lewat.
''Sebenarnya apa sih yang ia masak. Kenapa lama sekali,'' gumam Lufi pelan, namun masih bisa di dengar oleh Leon.
''Bisa cepetan dikit nggak? Aku harus ke kantor pagi,'' ucap Leon tanpa menatap ke arah Nois. Ia malah sibuk dengan benda pipihnya.
Nois membawa 2 piring makanannya ke meja makan. Lalu ia meletakkan nasi goreng di depan Leon dan Lufi. Lufi menatap piringnya dengan tatapan sulit.
''Ha ha ha,'' tawa Lufi seketika pecah saat melihat nasi goreng yang warnanya hitam dan putih, serta telur dengan warna coklat kehitaman.
''Kamu menyuruh kami makan makanan seperti ini Kak. Omegot, Kak Leon membuang berlian hanya demi sebuah batu kerikil,'' senyum mengejek terlintas di bibir Lufi. Ia benar-benar tak habis fikir dengan jalan fikiran Leon yang memilih istri seperti itu.
Sementara Leon hanya menatap piring itu tanpa ekspresi.
''Aku harus berangkat sekarang!'' ujar Leon meninggalkan meja makan. Lufi pun menatap Nois dengan senyum mengejek, lalu ia pergi begitu saja dari hadapam Nois.
''Ah brengs*k, mereka semua hanya mengerjaiku,'' gumam Nois menghentak-hentakkan kakinya di lantai.
Sementara Lufi berjalan menuju kamarnya. Ia menghubungi kekasih tersayangnya untuk menjemputnya.
__ADS_1
Selang beberapa menit, motor sport milik Nino telah sampai di halaman rumah keluarga Lewis.
''Sayang, aku belum sarapan. Di sini ada pembantu namun sangat-sangat tak pecus,'' ujar Lufi saat berjalan melewati Nois yang sedang duduk di ruang keluarga.
''Maksud kamu apa?'' tanya Nois yang berdiri dari duduknya.
''Apa kamu tuli?'' tanya Lufi mengangkat satu alisnya. Nois hanya menggeleng lemah.
''Pasti kamu tau kan apa maksudku,'' ucap Lufi tersenyum mengejek lalu meninggalkan Nois yang masih mematung di tempatnya.
''Aku akan membuat pelajaran untuk mereka semua. Mereka kira aku selemah itu apa. Lihat saja, setelah semua hartamu aku miliki, aku pastikan kamu akan segera aku tendang dari sini Tuan Leonard,'' batin Nois tersenyum licik.
Leon hanya memperhatikan gerak-gerik Nois dari kamera CCTV. Ia akan membiarkan Nois sementara tinggal di sana, setelah ia memiliki bukti, Leon akan segera menendangnya dari rumah dam hidupnya.
Nois pun penasaran dengan isi di lantai atas. Ia berjalan perlahan pergi ke lantai atas. Sampai di sana, ia di buat bingung, dengan tiga kamar yang berjejer.
''Apa ini ya kamarnya,'' batin Nois mendekat ke arah kamar nomor satu dari arah tangga.
Ceklek.
Pintu di kunci. Ia gagal masuk ke dalam sana.
Ia berjalan ke kamar nomor 2 dari arah tangga.
Ceklek.
Pintu kamar kedua pun juga di kunci. Ia beralih ke kamar yang terakhir. Ia berharap kamar itu adalah kamar Leon.
Ceklek.
Pintu kamar nomor tiga terbuka. Nois begitu senang saat bisa masuk ke dalam sana.
Nois berjalan perlahan masuk, ia menatap setiap inchi kamar itu. Di sana banyak sekali foto-foto seorang wanita yang pernah ia temui di perusahaan Leon. Di atas meja, bahkan di dinding ada foto Leon dan wanita itu.
Jujur, Nois pun tak sakit hati. Karna ia tak benar-benar mencintai Leon. Ia hanya mencintai hartanya saja.
__ADS_1
''Jadi ini wanitanya?'' gumam Nois memperhatikan wajah ayu Ana saat berada di dalam figura.
*