
Leon duduk di depan penghulu yang akan menikahkan mereka secara agama. Ya, Leon hanya menikahi Nois secara siri. Ia tak mau jika pernikahannya sah secara negara juga.
Di sana hanya ada beberapa orang yang menjadi saksi pernikahan tersebut. Setelah mengucap kata ijab qabul, Leon menghembuskan nafasnya kasar. Ia tak tau lagi harus bagaimana. Secara terang-terangan Leon telah menghianati Ana, kekasih hatinya.
''Maafkan aku, maafkan aku An,'' batinnya.
Setelah acara ijab qabul selesai. Leon ingin melangkahkan kakinya keluar dari apartemen tersebut, namun langkahnya terhenti saat Nois membuka suara.
''Apakah anda ingin meninggalkan kami lagi?'' tanya Nois menggema di ruangan tersebut.
''Aku sibuk, aku harus pergi,'' ucap Leon melangkahkan kakinya kembali.
''Bagaimana jika media tau, seorang CEO perusahaan besar menelantarkan anak dan istrinya,'' ucap Nois menatap punggung Leon yang hampir sampai di pintu.
Shittt.
''Aku tidak pernah menelantarkan. Lihatlah, apa hidupmu masih kurang. Aku sudah memberikan apa yang kau minta. Aku menafkahimu, aku menikahimu, lalu apa lagi yang kau inginkan?'' ucap Leon dengan nada tinggi.
''Bukankah seorang istri harus mengikuti kemana pun suaminya pergi,'' ucap Nois.
''Maumu apa, ha??'' bentak Leon yang emosinya sudah sampai ubun-ubun.
''Jangan bentak adik saya,'' ucap Neo yang saat itu juga berada di sana.
''Diam kamu! Aku bertanya padamu, maumu apa?'' tanya Leon kembali menatap Nois.
''Saya ingin ikut kemana pun anda pergi,'' ucap Nois santai.
Leon jelas kesal. Ia hanya membuang nafasnya dengan kasar.
''Bereskan semua barang-barangmu dalam waktu 5 menit. Aku tunggu di bawah,'' ucap Leon meninggalkan kakak beradik itu.
Nois jelas tersenyum penuh kemenangan.
''Akhirnya aku bisa menjadi Nyonya di keluarga Lewis Kak. Aku nggak menyangka jalanku akan semudah ini,'' ucap Nois tersenyum kepada Kakaknya.
__ADS_1
''Iya, yang terpenting sekarang kamu hati-hati. Jangan sampai Leon tau itu anak siapa. Jika dia tau, kita pasti akan kehilangan semuanya,'' ucap Neo pelan.
''Santai saja Kak. Aku akan bermain cantik,'' ujar Nois dengan senyum liciknya.
Nois membereskan barang-barangnya di bantu sang Kakak. Ia segera turun ke bawah untuk ikut dengan Leon. Setelah menemukan Leon, ia segera masuk ke dalam mobil. Ia duduk di belakang di samping Leon.
''Jalan Dir,'' perintah Leon.
Dirga menjalankan mobilnya menuju rumah keluarga Lewis. Di sepanjang perjalanan, Leon hanya sibuk dengan ponsel yang berada di tangannya.
Leon mengetik pesan yang ke 775 ke nomor yang sama selama beberapa hari ini. Namun pesan yang ia kirim hanya centang 1, foto profil pemilik nomor itu pun juga tak ada. Apa itu artinya nomor ponsel Leon di blokir olehnya, entahlah.
Leon hanya memijat pangkal hidungnya dengan pelan. Sungguh hari ini hari tersial yang pernah ada di dalam hidupnya. Ia harus menikah dengan wanita yang tidak di cintainya dan bertanggung jawab dengan apa yang tidak di lakukannya.
Mobil yang mereka tumpangi telah sampai di rumah keluarga Lewis. Nois yang melihat akan kemewahan rumah Leon hanya tersenyum dalam hati. Ingin rasanya ia bersorak-sorak saat itu juga. Rasanya ia baru saja mendapatkan doorprize berupa rumah mewah.
Leon turun dari mobilnya lalu berjalan menuju pintu utama tanpa melihat ke arah Nois yang kesusahan membawa barang-barangnya. Leon membuka pintu, di ruang keluarga ada Lufi yang tengah menonton drama kesukaannya.
''Kak baru pulang?'' tanya Lufi yang masih fokus pada tv yang ada di depannya.
Nois mengikuti langkah Leon. Sampai di ruang keluarga, Nois mengeryitkan dahinya.
''Dia siapa?'' tanya Nois. Lufi yang mendengar suara perempuan langsung spontan menoleh ke arah sumber suara.
''Kamu siapa?'' tanya Lufi yang balik bertanya.
''Saya istri Tuan Leon,'' ucap Nois dengan bangga.
''Is istri?'' beo Lufi. Lufi langsung menatap Leon dengan penuh tanda tanya.
''Dia orang yang pernah aku ceritakan!'' ucap Leon dengan wajah datar.
''Apa maksudnya sih Kak?'' Lufi bingung dengan ucapan wanita yang ada di depannya saat ini.
Leon menghembuskan nafas panjangnya. ''Dia istri Kakak,'' ucap Leon tanpa menatap ke arah Lufi.
__ADS_1
''Kakak jangan bercanda deh. Aku lagi serius loh ini,'' Lufi pun tak bisa percaya begitu saja dengan ucapan Leon. Pasalnya ia tak tau kapan Kakaknya ini menikah.
''Ini buktinya. Kita baru saja menikah,'' Nois memperlihatkan foto saat mereka melangsungkan ijab qabul tadi.
''Kak Foto itu bohong kan? Iya kan Kak? Jawab Kak, jangan diam saja!'' pekik Lufi tak terima dengan semua ini.
''Apa yang di ucapkan dia benar Lufi,'' ucap Leon.
''Kak, Kakak udah gila ya. Bagaimana nasib Ana Kak. Selama ini Kakak hanya mainin dia, iya?'' ucap Lufi dengan nada tinggi.
''Udahlah Fi. Kakak lagi pusing, kita bisa bahas besok. Kakak mau istirahat dulu,'' ucap Leon melangkahkan kakinya menuju lantai atas. Tiba-tiba Leon menghentikan langkahnya dan berbalik saat ia rasa Nois mengikutinya.
''Dan kamu, kamar kamu ada di sana,'' Leon menunjuk kamar yang berada di pojokan. ''Jangan pernah pergi ke lantai dua, atau kamu akan menyesal!'' ucap Leon menatap Nois dengan tajam dan penuh penekanan.
Nois mau tak mau berbalik arah dan melangkahkan kakinya menuju kamar pojok. Namun belum sampai di depan kamar, Lufi sudah bersedekap dada di depan kamar itu.
''Kenapa kamu tak ingin berkenalan denganku, aku ini adik iparmu loh,'' ucap Lufi memandang Nois dari atas sampai bawah dengan tatapan sinis.
''Perkenalkan, namaku Noisi Hulberg. Semoga kita bisa bersaudara dengan baik,'' ucap Nois dengan senyum di wajahnya.
''Kamu kira aku mau bersaudara dengan wanita licik sepertimu. Ha ha ha, jangan harap Nona Noisi. Aku pastikan hidupmu di sini seperti di neraka. Camkan itu!'' ucap Lufi dengan penuh penekanan. Lufi meninggalkan Nois yang masih mematung di tempatnya.
''Aku tidak takut kepada siapapun. Walaupun itu adikmu sendiri Tuan Leonard,'' batin Nois memandang Lufi yang tengah berjalan menjauh darinya.
Nois melangkahkan kakinya kembali menuju kamar. Ia membuka kamar tersebut dengan pelan. Matanya menyapu seluruh ruangan. Sepertinya kamar itu sudah lama tak di tempati dan di bersihkan. Debu ada di setiap sudutnya. Bahkan warna spreinya pun pudar karna di selimuti oleh debu.
Nois mau tak mau membersihkan kamar itu sebelum ia beristirahat. Debu yang sangat banyak menjadikan ia bersin dan batuk-batuk.
''Leon sialan. Aku seperti pembantu di sini,'' gumam Nois menggerutu. Namun ia tetap membersihkan kamar itu karna tak ada satu orang pun yang terlihat di rumah itu.
''Apa rumah sebesar ini tak ada pembantu? Kenapa kamarnya kotor sekali?'' batin Nois.
*
Jangan hujat author ya, please🙈😁
__ADS_1