
Nois meninggalkan kediaman Leon dengan hati yang hancur. Ia tak bisa memiliki harta Leon dan ia juga tak bisa memiliki Leon seutuhnya. Apalagi ia sekarang seperti gelandangan yang tak tau harus kemana ia pergi. uang yang selama ini di berikan oleh Leon pun sudah habis karna ia tidak bisa mengontrol pengeluarannya yang sangat banyak.
*
Wanita itu masih mematung dengan perkataan Leon tadi. Ia tidak bisa berfikir jernih saat ini.
''Aku dorong masuk ya, angin sore nggak baik buat kesehatanmu,'' ujar Leon lembut. Berbeda dengan ucapan Leon kepada Nois tadi.
''Sebentar Mas,'' ucap wanita itu menahan tangan Leon.
''Apa maksud perkataan Mas tadi?'' tanya wanita itu memandang Leon dengan penasaran.
''Yang mana?'' tanya Leon tak mengerti.
''Akhh, nggak jadi Mas. Lupakan,'' ucap wanita itu kecewa karna Leon malah tak mengerti maksudnya.
Wanita itu bernama Naswa, ia seorang gadis yang berasal dari Desa. Niat hati ingin memperbaiki hidupnya yang selama ini hanya hidup pas-pasan, namun nasibnya tak semulus jalan tol. Leon menabraknya saat ia ingin menyeberang, alhasil kakinya patah dan akan sembuh lama. Ia pun tak bisa mencari kerja untuk memperbaiki hidupnya dan keluarga.
Leon mendorong kursi roda Naswa ke kamar milik wanita itu.
''Istirahatlah, kamu pasti lelah seharian berada di kursi roda,'' ucap Leon penuh perhatian. Leon perhatian ke Naswa hanya sebagai rasa tanggung jawab, tidak lebih. Namun hati Naswa tak bisa di bohongi. Lama-lama dekat dengan Leon membuat jantungnya tak bisa biasa saja. Ada rasa nyaman yang ia rasakan saat bersama lelaki itu.
''Huh, hati ini kenapa selalu seperti ini sih. Lihat lelaki yang bening dikit udah jatuh cinta. Apaan coba,'' Naswa merutuki hatinya sendiri. Hatinya terlalu mudah jatuh cinta, walaupun kepada orang yang baru di temuinya.
*
Malam hari pun tiba. Saat ini Leon, Lufi dan Naswa tengah berada di ruang makan untuk makan malam. Seketika keheningan terjadi di ruangan tersebut.
''Kak, Nino besok kesini. Ingin melamarku,'' ujar Lufi yang sebenarnya was-was jika Leon tak mengizinkan.
''Bagus dong. Itu artinya dia serius sama kamu,'' ucap Leon santai.
__ADS_1
''Kalau dalam waktu dekat kita menikah bagaimana?'' tanya Lufi membuat Leon menghentikan suapannya.
''Ya itu lebih baik. Jadi mau berbuat apa-apa kalian nggak dosa,'' ucap Leon.
''Tapi aku nggak mau melangkahi Kakak. Aku ingin Kak Leon yang nikah duluan,'' rengek Lufi.
''Fi, jangan kayak anak kecil gini deh. Kakak belum menemukan pasangan yang pas. Kakak juga belum bisa move on dari dia,'' ucap Leon yang nada bicaranya semakin lirih.
''Kak, ikhlasin Ana, dia udah bahagia sama suaminya. Kakak mau jadi pebinor di rumah tangga mereka. Belum tentu juga Ana masih mau sama Kakak,'' ucap Lufi. Leon tidak menyalahkan ucapan Lufi, semua yang di ucapkan Lufi memang benar adanya. Ana belum tentu mau sama dia.
''Aku udah berusaha, namun belum terlihat hasilnya,'' ucap Leon.
''Karna Kakak nggak membuka hati untuk orang lain. Coba Kakak buka hati buat Kak Naswa, pasti Kakak bisa mencintainya,'' ujar Lufi yang membuat Naswa tersedak makanannya.
''Naswa?'' tanya Leon.
''Hm, coba Kakak mencintai Kak Naswa. Dia wanita yang baik. Aku setuju 100 persen jika Kakak dengannya,'' ucap Lufi.
Wajah Naswa sudah seperti kepiting rebus. Hawa panas saat ini berada di wajahnya. Bagaimana bisa wanita yang saat ini berada di depannya berkata demikian. Bahkan mereka baru kenal beberapa hari.
''Aku serius Kak,'' ucap Lufi, Leon memandang Naswa yang sejak tadi hanya menundukkan pandangannya.
''Naswa kelihatannya memang wanita yang baik. Buktinya Lufi langsung setuju jika aku dengannya. Dia juga tak kalah cantik dengan Ana. Apa aku harus memulai hubungan baru? Tapi di dalam hati ini masih tertata rapi nama Ana seorang. Apa aku bisa menggantinya dengan Naswa?'' batin Leon di dalam hati.
''Kenapa Mas Leon memandangku seperti itu. Apa aku berbuat salah? Sejak tadi kan aku hanya diam. Kenapa tatapan matanya begitu tajam,'' batin Naswa yang takut menatap ke depan.
''Apa kamu mempunyai kekasih?'' tanya Leon tiba-tiba, membuat Naswa semakin gugup.
''Eh i itu,'' Naswa tiba-tiba gugup saat Leon menanyainya tentang kekasih. Kekasih apaan, bahkan ia tak pernah pacaran selama hidupnya.
''Belum, eh maksudnya nggak ada Mas,'' ucap Naswa gugup.
__ADS_1
''Oh,'' ucap Leon hanya oh saja. Lufi langsung menoleh dengan cepat ke arah Leon.
''Oh? Hanya oh kak? Omegatt,'' ujar Lufi tak habis fikir dengan Kakaknya.
''Aku belum siap Fi. Ngertiin aku dong,'' ucap Leon yang memang belum siap.
''Ya ya ya terserah lah,'' Lufi melanjutkan kembali makanannya. Ia tak mau ambil pusing tentang kakaknya yang terlalu bucin kepada Ana.
*
Hari pun berganti, saat ini Lufi dan Nino sudah resmi bertunangan. Namun acara pernikahan mereka menunggu Leon menikah terlebih dulu. Keluarga Nino pun menghargai keputusan yang di inginkan oleh Lufi.
Entahlah kapan Leon akan menikah. Calon aja nggak ada, pikir Lufi. Namun ia tak mau melangkahi Kakak satu-satunya itu.
''Kenapa kamu mengambil keputusan seperti itu?'' tanya Leon tak mengerti kepada adiknya menunda pernikahannya.
''Aku kan sudah bilang Kak. Aku nggak mau melangkahi Kakak. Pokoknya aku nikah setelah Kakak nikah!'' keputusan Lufi sudah bulat, tak bisa di ganggu gugat.
''Bagaimana jika kamu dan Nino macam-macam. Dan akhirnya kamu hamil duluan,'' ucap Leon. Pikiran negative tentang adiknya sudah bersarang di otaknya.
''Ya itu salah Kakak. Kenapa Kakak nggak segera mencari pengganti Ana. Aku nggak mau tau ya Kak. Bulan depan Kakak harus sudah punya calon istri. Aku nggak mau lama-lama menunda pernikahan ini,'' ucap Lufi melangkah meninggalkan Leon di ruang keluarga.
''Dia pikir cari calon istri enak apa,'' gerutu Leon berjalan menuju kamarnya. Tak sengaja ia melewati kamar Naswa yang berada di lantai bawah. Ia melihat Naswa yang berusaha berjalan sendiri. Ia juga mendengar Naswa yang tengah menyemangati dirinya sendiri.
''Ayolah kaki cepet sembuh. Kamu masih punya keluarga yang harus kamu bahagiakan. Jika kamu seperti ini, bagaimana kamu bisa membahagiakan mereka,'' gumam Naswa.
1 langkah 2 langkah Naswa berhasil, namun langkah ketiga kaki Naswa terasa sangat sakit. Dan saat Naswa akan terjatuh, Leon berlari masuk ke dalam kamar Naswa dan,,,
Brukk.
Naswa jatuh menimpa tubuh Leon yang berada di bawahnya. Netra mereka sama-sama bertemu. Detak jantung mereka pun berdetak seirama. Namun beberapa detik kemudian, Naswa tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
''Eh, maaf Mas,'' ujar Naswa yang ingin bangun dari atas tubuh Leon, namun kakinya terasa sangat sakit saat ia mencoba untuk bangun. Dan akhirnya Naswa kembali membentur tubuh milik Leon.
*