
''Hanya kamu harapan Bapak Nak. Dan Bapak berharap kamu tak melupakan pesan Bapak dan Ibu untuk tidak menjalin hubungan dengan seorang lelaki,'' ucap Bapak Husein dengan memeluk anak gadisnya.
''Maafin Ana Pak, Bu. Ana telah melanggar janji yang selama ini Ibu dan Bapak selalu mewanti-wanti Ana. Ana sangat mencintainya Bu. Ana harap Ibu dan Bapak akan merestui hubungan Ana setelah lulus nanti,'' batin Ana berbicara.
Tring tringg tringgg.
Tiba-tiba ponsel Ana berdering. Ana segera mengurai pelukannya. Ia segera mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya.
''Mas Leon,'' gumam Ana pelan. Ana melihat Bapak dan Ibunya yang tengah melihat ke arahnya. Ana tanpa berfikir panjang langsung menggeser tombol berwarna merah.
''Kenapa nggak di angkat Nak?'' ucap Ibu Siti.
''Nggak penting Bu. Hanya teman Ana yang iseng,'' ucap Ana setelah mematikan ponsel miliknya dan meletakkan kembali di dalam tas.
''Siapa tau penting Nak,'' ucap Ibu.
''Enggak kok Bu. Teman-teman Ana memang selalu iseng kayak gitu Bu,'' ucap Ana.
''Maafin aku Mas, aku nggak mau kalau Ibu dan Bapak tau kita punya hubungan. Aku nggak mau hubungan kita putus di tengah jalan. Aku harap Mas Leon tidak marah,'' ucap Ana dalam hati.
*
Di lain tempat.
Saat ini Leon tengah uring-uringan tak jelas karna sejak ia pulang dari bekerja tak menemukan Ana di rumah.
''Kemana sih Ana, di telpon malah di matiin lagi,'' gumamnya masih urung-uringan.
''Aku telpon Lufi aja deh,'' ucap Leon mencari nomor ponsel milik Lufi.
Tut tut tut.
''Halo Kak,'' ucap seseorang di seberang sana.
''Kalian di mana? Pulang sekarang!!'' perintah Leon.
''Iya ini masih di perjalanan pulang,'' ucap Lufi.
Leon langsung mematikan sambungan teleponnya dan ia langsung bergegas masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri.
Selang beberapa saat, Leon keluar dari kamar karna sudah tak sabar ingin bertemu dengan Ana. Ia menuruni anak tangga dan menunggunya di ruang keluarga.
Tap tap tap.
Suara sepatu Lufi membuat Leon menoleh ke arah sumber suara.
__ADS_1
''Mana Ana?'' tanya Leon mengerutkan keningnya saat tak mendapati Ana bersama dengan Lufi.
''Ana? Ana kan nggak sama aku Kak. Dia pulang kampung,'' ucap Lufi santai.
Leon langsung berdiri dari duduknya. ''Apa??? Kenapa nggak ngasih tau aku terlebih dahulu?'' ucapnya seperti tak terima.
''Kata Ana ponsel Kakak nggak aktif jadi ia langsung pulang sendiri karna Ibunya sakit,'' ucap Lufi.
''Ya ampun,'' Leon mendadak sakit kepala karna tak bisa bertemu dengan Ana untuk beberapa hari ke depan.
''Kakak Kenapa?'' tanya Lufi yang melihat Kakaknya tengah gelisah.
''Nggak pa-pa. Cepat mandi sana,'' ucap Leon.
Lufi meninggalkan Leon di ruang keluarga sendiri. Lagi-lagi Leon mencoba menghubungi Ana namun nomor Ana sudah tidak aktif.
''Aaaaaaaa!!'' Leon menjambak rambutnya frustasi. Ingin rasanya ia menyusul Ana pulang ke desa, namun ia tak tau di mana Ana tinggal selama ini.
*
3 hari kemudian.
Saat ini Ana tengah berada di rumah yang selama ini tempat ia di besarkan. Ia akan kembali ke Jakarta nanti siang bersama Ibu dan Bapaknya karna memaksa Ana untuk ikut ke Jakarta.
Ana sudah menghubungi Lufi jika Ibu dan Bapaknya akan ikut ke Jakarta. Dan ternyata Lufi sangat senang mendengar orang tua Ana akan ikut ke sana. Apalagi selama ini Lufi dan Leon kekurangan kasih sayang kedua orang tuanya, karna orang tuanya telah tiada.
''Kakak pasti senang An. Udah urusan Kakak biar aku yang urus,'' ucap Lufi.
''Terima kasih ya Fi. Aku nggak tau harus membalas kebaikanmu dengan apa,'' ucap Ana.
''Kamu cukup menjadi Kakak ipar yang baik untukku An,'' ucap Lufi dengan tertawa kecil.
''Itu sudah pasti Fi,'' ucap Ana.
*
Saat ini mereka sudah naik bus untuk pergi ke Jakarta. Terlihat bahagia di raut wajah orang tua Ana karna sebentar lagi akan menginjakkan kaki di kota Jakarta.
Setelah perjalanan 4 jam mereka telah sampai di terminal.
Ana segera memesan taksi untuk mengantar mereka ke tempat tinggal Ana selama ini.
''Apa masih lama Nak? Di mana tempat tinggal sahabatmu?'' tanya Ibu Siti.
''Sebentar lagi kita sampai Bu,'' ucap Ana.
__ADS_1
''Di sini rumahnya bagus-bagus sekali ya Nak, pasti orang-orang yang punya rumah ini mempunyai banyak uang,'' ucap Ibu. Ana hanya tersenyum mendengar ucapan Ibunya.
''Ibu tak tau saja rumah yang selama ini Ana tinggali tak kalah besar dan mewah dengan rumah-rumah ini Bu,'' gumam Ana di dalam hati.
Setelah setengah jam perjalanan Ana dan keluarganya telah sampai di depan rumah keluarga Lewis.
''Kenapa kita turun di sini Nak? Apa rumahnya sudah dekat?'' tanya Bapak.
''Kita sudah sampai Pak. Ini rumah sahabat Ana,'' ucap Ana menunjukkan rumah yang ada di depannya.
''Apa? kamu tinggal di rumah sebesar ini Nak?'' ucap Ibu kaget, jadi selama ini anaknya tinggal di rumah sebesar itu.
''Kita masuk ya, nanti Ana kenalkan sama sahabat Ana,'' ucap Ana.
Mereka pun masuk ke dalam rumah. Di sana nampak sepi, sepertinya Lufi dan Leon tidak ada di rumah.
''Mana sahabatmu Nak?'' tanya Ibu.
''Sebentar Bu, Ana telpon Lufi dulu,'' Ana pun menghubungi Lufi, tak menunggu lama Lufi terlihat menuruni anak tangga.
''Lufi,'' Ana pun segera memeluk sahabatnya yang sudah di anggap seperti keluarga.
''An aku kangen benget sama kamu. Aku beberapa hari ini jarang makan di rumah karna nggak ada makanan enak yang selalu kamu masak,'' ucap Lufi.
''Nggak usah lebay deh. Bilang aja tiap hari kamu kencan dengan Nino,'' ucap Ana, mereka pun terkekeh bersama.
''Oh iya, ini Ibu dan Bapakku. Kenalin Bu, Pak ini Lufi sahabat Ana,'' ucap Ana memperkenalkan.
''Halo Om, Tante, saya Lufi sahabat Ana,'' ucap Lufi menyalami Ibu dan Bapak Ana dengan takzim.
''Saya Ibu Siti dan ini Pak Husein. Panggil saja Ibu dan Bapak,'' ucap Ibu Siti.
''Iya Bu, semoga betah ya tinggal di sini,'' ucap Lufi tersenyum ke arah orang tua Ana.
''Eh silahkan duduk Bu, Pak,'' ucap Lufi mempersilahkan mereka duduk.
Mereka pun mengobrol santai di ruang tamu. Tak lupa Lufi langsung mengirim pesan kepada Leon jika calon mertuanya sudah tiba di Jakarta.
Leon yang mendapat pesan dari Lufi langsung pulang dari perusahaannya. Ia tak peduli jika hari ini ada meeting penting. Ia hanya ingin cepat-cepat pulang dan bertemu dengan pujaan hati yang selama beberapa hari ini tinggal di desa.
Leon pulang dengan hati yang dag dig dug. Apalagi ia akan bertemu calon mertuanya.
*
Jangan Lupa beri dukungan yaa.
__ADS_1
See you next episode kawan😁