Pesona Gadis Desa

Pesona Gadis Desa
Cinta pertama


__ADS_3

Dengan berat hati Gilang melangkah kan kaki nya untuk keluar dari rumah Sintya, dia hanya bisa berharap agar Sintya bisa menerima tawaran nya.


Wajah nya tampak lesu dan tidak ada semangat sama sekali. Hal yang ada di pikiran nya saat ini hanya keselamatan Sintya, orang yang telah berhasil mencuri hati nya beberapa tahun yang lalu.


"Aku pergi dulu ya Sin, kamu hati hati di rumah. Semoga pikiran kamu lebih baik dan lebih tenang." Gilang tersenyum lebar, hal itu membuat jantung Sintya seakan mau copot.


Hati nya berdebar debar, wajah nya tampak memerah. Dia berusaha menyembunyikan semua itu dengan menundukkan kepalanya.


"Duuhhh.. Senyum nya kok gak berubah sih, tetap saja manis seperti dulu. Udah dong lang senyum nya. Ntar jantung aku bisa copot." Sintya hanya bisa berbicara dalam hati nya tanpa berani menatap wajah Gilang.


Gilang yang menyadari bahwa wajah Sintya mulai merah berusaha mengendalikan perasaan nya, sebenarnya dia sangat gemes melihat itu semua.


"Aku pergi yaa, assalamualaikum sin.." Gilang membuka pintu mobil dan langsung masuk ke dalam.

__ADS_1


Sintya yang baru sadar kalau Gilang sudah pergi pun langsung menjawab salam dari Gilang. " Waalaikumsalam lang, hati hati di jalan." Kemudian dia masuk ke dalam rumah sambil tersenyum.


...****************...


Malam hari nya Sintya berusaha untuk memejamkan mata nya, tetapi tetap saja tidak bisa.


Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam atau lebih tepatnya jam 23:30 wib. " Udah malam gini kok mata belum ngantuk sih, padahal aku biasa nya tidur jam sembilan." Sintya berusaha memejamkan mata nya.


Sintya merasa sangat gelisah memikirkan Gilang, wajah Gilang yang selalu ada dalam pikiran nya saat ini. " Aku kenapa gini sih, apa perasaan cinta ku sama Gilang masih sama kayak dulu ya."


Setelah beberapa saat berlalu, Sintya berhasil memejamkan mata nya hingga kini dia tertidur pulas. Dia sudah berada di alam bawah sadar nya.


Sementara itu di tempat lain, Gilang juga merasa kan hal yang sama dengan Sintya. Dia memikirkan kejadian tadi siang. Dia masih ingat dengan jelas bagaimana wajah wanita yang dicintainya itu begitu menggemaskan menurut nya.

__ADS_1


" Sintya... Sintya... Kamu gak pernah berubah ya, masih tetap sama, masih Sintya ku yang dulu. Sintya yang pemalu dan tidak pernah sombong kepada siapapun." Gilang tampak tersenyum mengingat wajah Sintya.


"Selama ini aku mencari kamu Sin, aku selalu berharap bisa bertemu kamu. Aku juga selalu berharap takdir akan mempertemukan kita, tapi kenyataan berkata lain. Aku tidak pernah bertemu dengan mu selama bertahun tahun."


"Pada akhirnya aku menyerah, aku berhenti berharap pada mu. Aku berhenti mencari mu, tapi hati ku tidak pernah bisa berhenti untuk mencintai mu."


" Dan akhirnya takdir juga yang mempertemukan kita kembali, aku sangat sangat bahagia dan bersyukur karena kita bisa bertemu kembali."


"Kamu cinta pertama ku Sin, semoga suatu saat nanti kita berjodoh." Tak berapa lama kemudian akhirnya Gilang pun tertidur pulas setelah beberapa jam memikirkan Sintya.


Harapan Gilang selama ini sudah terkabul, dia mencintai Sintya Bella dalam diam tanpa berani untuk mengatakan nya.


Semoga semua ini adalah awal dari kebahagiaan seorang Sintya Bella dan Gilang Ramadhan.

__ADS_1


__ADS_2