
''Kalian ngapain??'' pekik Lufi.
Leon langsung menjauh dari tubuh Ana. Begitu pun Ana juga nampak canggung dengan Leon dan Lufi.
''Kenapa malah diam? Kalian lagi ngapain? Adegan apa yang aku lihat tadi?'' banyak pertanyaan yang di lontarkan oleh Lufi. Mereka berdua bungkam, seperti maling yang tengah ketahuan mencuri.
''Nggak ada yang bisa jawab?'' tanya Lufi lagi dengan sedikit berteriak.
''Fi, kecilkan suaramu. Kamu bisa mengganggu pasien yang lain,'' ucap Leon mengalihkan pembicaraan.
''Kak aku tanya ke kalian, kenapa nggak ada yang mau jawab!'' ucap Lufi.
''Kami, kami, dia, anu Fi, dia sebentar lagi akan menjadi Kakak iparmu Fi,'' ucap Leon gugup.
''Kakak ipar?'' pekik Lufi dengan mata yang hampir lepas dari tempatnya.
''Fi kecilkan suaramu,'' ucap Leon pelan.
''Jadi kalian mempunyai hubungan?'' tanya Lufi.
''Iya,'' ucap Leon.
''Enggak, aku nggak mau Kak!'' ucap Lufi menggeleng gelengkan kepalanya.
Ana dan Leon langsung menatap Lufi dengan penuh tanda tanya.
''Fi, kamu kan yang menginginkan aku menjadi Kakak iparmu. Kenapa sekarang kamu nggak mau,'' ucap Ana.
''Pokoknya aku nggak mau!'' ucap Lufi.
''Fi, kamu mau Kakakmu ini jadi perjaka tua?'' tanya Leon.
''Aku nggak mau kalau kalian kelamaan nikahnya. Aku ingin kalian menikah secepatnya,'' ucap Lufi tersenyum bahagia. Ia berhasil membuat Kakak dan sahabatnya senam jantung.
''Kamu hampir membuat Kakak berhenti bernafas Fi,'' ucap Leon mengusap dadanya.
''Ihhh, takut banget sih nggak aku restuin,'' ejek Lufi.
''Ya takutlah. Udah bucin parah gini nggak dapat restu kan sakit,'' ucap Leon melow.
''Sejak kapan Kakak lebay kayak gini?'' tanya Lufi.
''Sejak Ana hadir di hidupku,'' ucap Leon. Mereka bertiga pun tertawa bersama mendengar ucapan Leon.
''Makasih Fi,'' ucap Ana memeluk Lufi.
''Iya, aku bahagia kalau kalian bahagia,'' ucap Lufi.
''Rencananya kapan nikah?'' tanya Lufi.
__ADS_1
''Setelah lulus Fi. Aku pengen kerja dulu,'' jawab Ana.
''Lama banget sih. Aku udah nggak sabar pengen punya keponakan loh,'' ucap Lufi mencebikkan bibirnya.
''Lufi,'' ucap Ana menggertakkan giginya sambil melebarkan matanya.
''Hahaha kenapa An. Bukankah lucu jika kalian punya anak,'' ucap Lufi sambil tertawa.
''Udah dong Fi jangan bahas itu. Geli dengernya,'' ucap Ana.
''Bener kata Lufi menikah setelah lulus kelamaan An. Gimana kalau 1 bulan lagi, terus kita buat keponakan yang gemoy untuk Lufi,'' ucap Leon mengedipkan sebelah matanya.
''Massss!!!'' pekik Ana.
''Bercanda sayang,'' ucap Leon terkekeh geli.
''Cieee udah sayang-sayangan,'' ejek Lufi.
''Emangnya cuma kamu yang bisa sayang-sayangan,'' ucap Leon.
''Aku? Sayang-sayangan sama siapa?'' ucap Lufi pelan. Tiba-tiba ia teringat dengan Nino yang melupakannya.
''Fi, maafin Kakak,'' ucap Leon merasa bersalah karna tidak bisa mengontrol ucapannya.
''Kenapa harus minta maaf Kak. Ini memang sudah takdir Lufi,'' ucap Lufi menahan air matanya agar tidak jatuh.
''Aku yakin Nino pasti ingat semuanya Fi. Kamu harus sabar ya,'' ucap Ana.
''Kata Dokter kamu udah boleh pulang ya Fi. Kita beres-beres dulu, setelah itu kita pulang,'' ucap Leon.
''Tapi Kak, izinin aku di sini untuk beberapa hari ya. Aku ingin dekat dengan Nino Kak,'' ucap Lufi memohon.
''Baiklah, tapi Kakak nggak mau kamu nangis kayak gini lagi Fi,'' ucap Leon.
''Iya Kak. Makasih ya,'' ucap Lufi terlihat bahagia karna Leon memperbolehkan ia tinggal beberapa hari di rumah sakit.
''Kak, anterin aku ke ruangan Nino dong. Aku mau lihat dia lagi ngapain,'' ucap Lufi dengan raut wajah memohon.
''Tapi kamu harus janji, setelah dari sana kamu nggak boleh nangis lagi,'' ucap Leon.
''Iya iya Kak, aku nggak akan nangis kok. Tenang aja,'' ucap Lufi.
Akhirnya Lufi di antar oleh Leon ke kamar rawat Nino. Sepanjang jalan menuju ruang rawat, Lufi berdoa agar Nino mengenalinya. Lufi sangat berharap jika Nino tak melupakannya.
Ceklek.
Pintu ruang rawat di buka oleh Leon. Di sana nampak keluarga Nino sedang berkumpul bersama. Nino juga terlihat bahagia dengan keluarganya.
Saat pintu di buka, semua orang melihat ke arah pintu, Lufi nampak canggung saat di lihat oleh keluarga besar Nino.
__ADS_1
''Sore Om, Tante. Bagaimana keadaan Nino sekarang?'' tanya Lufi.
''Ngapain sih kamu kesini lagi! Apa kamu nggak punya ruangan sendiri? Tolong jangan ganggu kesenangan orang lain dong,'' ucap Nino.
''Tapi aku khawatir sama kamu No,'' ucap Lufi.
''Nggak usah repot-repot khawatirin aku. Khawatirkan aja dirimu sendiri,'' ucap Nino ketus.
''Ya Allah, sakit sekali hati ini di saat Nino berkata ketus seperti ini kepadaku,'' batin Lufi.
''Eh, siapa gadis yang saat ini di dekat Nino. Bahkan mereka terlihat dekat. Jika di lihat seperti ini mungkin umurnya di bawahku beberapa tahun,'' batin Lufi yang meperhatikan gadis yang berada di dekat Nino.
''Oh iya Nak Lufi, kenalin dia Diska teman dekat Nino waktu kecil,'' ucap Mama Nino yang melihat jika Lufi sejak tadi memperhatikan Diska.
''Lufi,'' Lufi mengulurkan tangannya kepada Diska.
''Diska,'' ucap Diska.
Diska dan Nino dari kecil mereka kemana-mana bersama. Hingga akhirnya, Diska ikut pindah keluarganya ke kota B. Setelah mendengar kabar jika Nino kecelakaan, Diska dengan penuh keberanian membawa mobil sendiri dari kota B ke Jakarta.
''Mas, mau aku kupasin buah?'' tany Diska kepada Nino.
''Boleh,'' ucap Nino.
Hati Lufi seperti di cubit kala melihat kedekatan Nino dan Diska. Ingin rasanya Lufi menggantikan posisi Diska saat ini, pasti Lufi merasa bahagia. Namun apalah dayanya, mendekat ke arah Nino saja ia tak mampu karna Nino terlihat acuh dengannya.
''Gimana Mas, enak?'' tanya Diska.
''Enak, enak banget malahan. Apalagi di suapin sama kamu,'' ucap Nino.
Hati Lufi semakin merasa sakit saat mendengar ucapan Nino.
''Kamu nggak pa-pa? Jika kamu ingin istirahat kita pergi dari sini,'' Leon mengerti keadaan Lufi saat ini sedang tidak baik-baik saja.
''Fi, mending kita kembali ke kamar kamu. Udah lama loh kamu duduk di kursi roda,'' sambung Ana.
''Iya, kita kembali ke kamar,'' ucap Lufi menahan agar air matanya tak jatuh.
''Om, Tante kami pamit dulu. Lufi harus banyak istirahat soalnya. Semoga Nino cepat sembuh, dan semoga ingatannya segera pulih kembali,'' ucap Leon menatap tajam ke arah Nino. Namun Nino hanya acuh, Nino merasa tak mengenal orang-orang itu.
''Iya Nak, semoga Nak Lufi juga segera sembuh total ya,'' ucap Mama Nino.
''Makasih Tante,'' ucap Lufi.
Mereka bertiga keluar dari ruangan Nino, tubuh Lufi terlihat bergetar saat ia menahan tangisannya.
''Kamu sudah berjanji untuk tidak menangis Fi,'' ucap Leon yang terus mendorong kursi roda Lufi dengan sedikit cepat.
''Kita pulang sekarang!'' ucap Leon yang tak ingin di bantah.
__ADS_1
*
*