Pesona Gadis Desa

Pesona Gadis Desa
Bab 71 PGD


__ADS_3

''Eh, Mas Leon belum pulang ya?'' tanya Ana.


''Belum, Mas Leon belum pulang. Kenapa?'' tanya Lufi.


''Ya nggak pa pa sih,'' ucap Ana berusaha menutupi kecewanya.


''Sebenarnya kamu kemana Mas?'' batin Ana.


Di lain tempat.


Leon saat ini tengah menemani Nois memeriksakan kandungannya. Ia tak menyangka hubungannya dengan mantan sekretarisnya akan berujung panjang seperti saat ini.


''Bagaimana kondisi kandungan saya Dok?'' tanya Nois.


''Kandungan Ibu baik-baik saja. Di trimester kedua ini biasanya Ibu hamil akan mengalami kram dan nyeri pada perut bagian bawah. Hal itu di karenakan, rahim Ibu yang semakin membesar selama kehamilan memberi tekanan pada otot dan ligamen di sekitarnya,'' ucap Dokter.


''Syukurlah,'' ucap Nois.


''Saya akan resepkan obat dan beberapa vitamin untuk anda,'' ucap Dokter.


''Baik Dok, terima kasih,'' ucap Nois.


Setelah memeriksakan kandungannya. Leon mengantar Nois pulang ke apartemennya. Namun saat masih berada di jalan, Nois menginginkan sesuatu.


''Tuan, bolehkah saya membeli sesuatu?'' tanya Nois ragu.


''Apa?'' jawab Leon datar.


''Saya pengen makan, makanan yang ada di pinggir jalan itu tadi Tuan, kayaknya enak,'' ucap Nois.


Ckittt.


Leon menghentikan mobilnya. Lalu ia turun dari mobil untuk membelikan Nois martabak manis.


''Merepotkan saja,'' gerutu Leon saat sudah dekat dengan pedagang martabak manis.


''Bang martabak manis 1 ya.''


''Rasa apa Mas?'' tanya pedagang martabak manis.


''Yang paling enak,'' ucap Leon tanpa ingin menanyakan rasa apa yang di inginkan oleh Nois.


Setelah membeli martabak manis, Leon segera mengantarkan Nois kembali ke apartemennya. Leon lupa jika sore ini ia harus mengajak Ana jalan-jalan.


''Ini uang untukmu, jika mau makan atau mau membeli sesuatu gunakan uang itu. Aku tidak bisa setiap hari datang kesini,'' ucap Leon meninggalkan puluhan uang berwarna merah.


Nois meresa kecewa dengan sikap Leon yang seperti itu kepadanya.

__ADS_1


''Aku akan merebutmu dari dia Leonard Lewis,'' gumam Nois menatap kepergian Leon dengan senyum penuh arti.


Leon melajukan mobilnya menuju apartemen Ana. Setelah sampai di depan pintu apartemen, Leon memencet bel beberapa kali, namun Ana tak kunjung membukakan pintu.


''Ana kemana ya? Kok kayaknya nggak ada di dalam,'' gumam Leon. Leon lebih memilih pulang terlebih dulu. Rencananya nanti malam ia akan kembali lagi.


Setelah sampai di halaman rumah, Leon melihat Ana yang berada di halaman rumahnya.


''Ana,'' panggil Leon mendekat ke arah Ana.


''Mas Leon,'' gumam Ana.


''Maafin Mas ya. Tadi Mas ada urusan yang nggak bisa Mas tinggal,'' ucap Leon memeluk Ana.


''Wangi ini, kenapa bau wangi ini bukan bau parfum Mas Leon. Ini seperti bau parfum wanita,'' batin Ana.


''I iya Mas,'' Ana melepaskan pelukan Leon. ''Mas Leon dari mana?'' tanya Ana.


''Em i itu tadi ada urusan mendadak. Makanya Mas nggak sempet bilang sama kamu,'' ucap Leon gugup.


''Urusan? Urusan apa?'' tanya Ana yang masih ingin tau.


''Ya ada deh pokoknya. Ini urusan bisnis sayang,'' ucap Leon.


''Kamu bohong Mas, aku tau jika saat ini kamu sedang berbohong,'' batin Ana merasa kecewa di bohongi oleh Leon.


''Aku pulang sendiri aja Mas. Aku udah pesen taksi kok, bentar lagi pasti sampai,'' tolak Ana.


''Cancel aja ya. Mas kangen sama kamu,'' ucap Leon langsung menggendong Ana ala bridal masuk ke dalam rumah.


''Mas turunin, malu di lihat Lufi,'' ucap Ana. Namun Leon seperti tuli, ia menggendong Ana naik ke lantai 2 tempat kamarnya berada.


''Kamu tunggu di sini. Mas mandi dulu,'' ucap Leon meninggalkan Ana yang duduk di sofa kamarnya.


Ana melihat jika Leon sangat aneh hari ini. Apalagi ia bertambah curiga dengan bau parfum yang ada di baju Leon.


Ting.


Tiba-tiba Ana mendengar bunyi ada pesan masuk di ponsel milik Leon. Ana melihat sekilas, namun ia tak berani untuk membuka.


''Perutku sangat mual. Bisakan anda ke apartemen sekarang,'' ucap seseorang dengan nomor tak di kenal.


''Ini nomor siapa?'' batin Ana melihat dengan jelas jika nomor itu tidak di save oleh Leon.


Ceklek.


Pintu kamar mandi terbuka, Leon keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah. Ana segera meletakkan kembali ponsel milik Leon.

__ADS_1


''Aku ganti baju dulu, setelah ini aku antar kamu ke apartemen,'' ucap Leon. Ana hanya menganggukkan kepalanya. Banyak pertanyaan yang ia ingin tanyakan, namun ia tak seberani itu untuk menanyakannya kepada Leon. Ia memilih bungkam dan pura-pura tidak tau apapun.


Saat ini mereka tengah berada di jalan menuju apartemen Ana. Ana memilih melihat jalanan yang ada di sampingnya dari pada harus mengobrol dengan Leon.


Saat berada di jalan, Ana mendengar ponsel milik Leon berdering.


''Mas ada telepon tuh, coba di angkat dulu, siapa tau penting,'' ucap Ana yang melihat Leon mengabaikan ponselnya.


''Nggak penting An, biarkan saja,'' ucap Leon mengabaikan ponselnya. Panggilan pertama tak terjawab, kemudian ada panggilan kedua ke dalam ponsel milik Leon.


''Mas Leon nggak pengen angkat teleponnya. Biar aku saja yang angkat,'' ucap Ana ingin meraih ponsel milik Leon namun Leon sudah mengambilnya lebih dulu.


''Biar aku yang angkat,'' ucap Leon langsung menggeser tombol warna hijau.


''Halo,'' ucap Leon sambil melirik ke arah Ana yang tengah menatapnya.


''.....''


''Aku sedang sibuk, kenapa kamu tak mengerti sih,'' gerutu Leon menatap Ana yang saat ini masih menatapnya.


''.....''


''Baiklah, setelah ini aku akan kesana,'' ucap Leon mematikan ponselnya.


''Siapa Mas?'' pertanyaan pertama dari Ana yang sudah bisa Leon tebak.


''I i itu, temen ingin bertemu,'' ucap Leon gugup.


''Oh, ya sudah. Antar aku sampai loby saja,'' ucap Ana merasa tambah curiga dengan gerak gerik Leon. Ia diam-diam memesan taksi, agar bisa mengikuti Leon nantinya.


Setelah sampai di loby, Leon meninggalkan Ana yang tengah menatap kepergiannya. Setelah itu Ana masuk ke dalam taksi yang sudah terparkir disana.


''Ikuti mobil tadi Pak,'' perintah Ana.


Taksi yang di pesan Ana mengikuti mobil Leon dengan jarak yang lumayan jauh. Hanya perlu waktu beberapa menit, mereka telah sampai di apartemen yang tak jauh dari apartemen miliknya.


''Mau bertemu siapa dia di sini?'' batin Ana. Ia turun dari dalam taksi dan mengikuti Leon dengan sembunyi-sembunyi.


Saat Leon masuk ke dalam lift, Ana melihat Leon pergi ke lantai 9. Ana mengikuti Leon menggunakan tangga darurat.


''Semoga apa yang aku takutkan selama ini nggak kejadian Mas,'' gumam Ana di sela-sela ia menaiki anak tangga.


Sesampainya di lantai 9 nafas Ana terasa ingin habis. Ia mengeluarkan semua tenaganya untuk menaiki anak tangga yang lumayan banyak dengan kecepatan tinggi. Untung saja Ana tak kehilangan jejak Leon. Leon baru saja masuk ke dalam salah satu unit apartemen yang berada di ujung pojok.


*


*

__ADS_1


__ADS_2