Pesona Gadis Desa

Pesona Gadis Desa
Kehidupan Baru


__ADS_3

Beberapa tahun telah berlalu, kini Sintya sudah mulai bisa menata kehidupan nya kembali seperti semula. Meski pun semangat yang dulu belum sepenuhnya kembali, namun dia tetap berusaha agar kehidupan nya tidak berantakan lagi.


Hari yang selama ini di lalui oleh wanita itu seorang diri tanpa ada yang merasa kasihan kepada diri nya, terasa sangat sulit untuk dilakukan nya.


Sintya kini bekerja di sebuah cafe besar di Jakarta. Dia berusaha memenuhi kebutuhan hidup nya seorang diri tanpa ada yang membantu nya.


Di cafe itu lah Sintya bertahan sampai saat ini. Terkadang banyak pria hidung belang yang selalu menggoda nya.


Ada juga di antara mereka yang ingin menjadi kan Sintya sebagai istri kedua.


Siang itu matahari terlihat sangat terik, cuaca pun terasa sangat panas. Banyak orang berlalu lalang keluar masuk cafe itu hanya sekedar untuk minum atau makan siang.


Terlihat dua orang laki-laki duduk di sebuah kursi yang menghadap ke arah jalan. Kemudian Sintya menghampiri meja itu. " Mau pesan apa pak ?" Sintya menyodorkan daftar menu yang ada di tangan nya kepada bapak tersebut.


" Waaahhh... Cantik sekali, seksi lagi." Kata salah satu orang itu kepada Sintya sambil tersenyum penuh nafsu.


"Kalau gitu aku pesan yang kayak gini satu." Kata bapak yang lain nya.


"Permisi pak kalau tidak mau pesan apa apa, aku pergi yaa.. Permisi.. " Sintya langsung meninggalkan tempat itu dengan menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Sok jual mahal banget sih nih bocah, padahal aslinya gak tau deh." Bapak bapak tersebut saling berbisik.


Di tempat lain Sintya berusaha menahan air mata nya, begitu perih rasa hati nya mendengar perkataan kedua bapak bapak tersebut.


Padahal dia sudah susah payah menahan air mata nya agar tidak jatuh. Karena selama ini dia sudah banyak mengeluarkan air mata meratapi kepergian kedua orang tua nya.


Dia sudah terlalu lelah hidup seperti ini, rasa nya dia ingin menyerah dan tak ingin hidup lagi.


Tapi hati kecil nya berkata kalau dia harus bertahan hidup demi mimpi nya yang tertunda selama ini.


Dia ingin membuktikan kepada dunia bahwa dirinya bisa sukses dan dia mampu hidup tanpa bantuan orang lain.


Tak terasa waktu sudah berlalu, kini langit sudah mulai gelap dan awan hitam pun tampak mengepul di langit.


"Kalau sudah selesai pekerjaan nya lebih baik kamu pulang aja lagi, kayak nya hujan mau turun. Nanti kamu bisa kehujanan." Kata pemilik cafe tersebut kepada Sintya.


" Baik lah pak kalau begitu aku permisi dulu, assalamualaikum." Sintya segera meninggalkan tempat itu untuk pulang ke rumah nya. Dia takut nanti hujan deras akan turun dan dia akan terkepung di jalan.


Tidak butuh waktu yang lama bagi seorang Sintya Bella untuk sampai di tempat tujuan nya. Dia tinggal di sebuah kos kosan kecil yang berada tak jauh dari tempat nya bekerja.

__ADS_1


Hujan deras pun mulai turun dan Sintya langsung segera membuka pintu nya.


"Untung udah nyampe di rumah, kalau gak bisa bisa aku kehujanan dan sakit." Gumam Sintya sendirian.


Setelah selesai mandi dan memakai baju kaos nya, Sintya langsung menuju ke arah dapur yang sangat sempit namun semua barang nya tersusun rapi.


Dia memasak makanan kesukaan baru nya yaitu mie instan. Tak butuh waktu lama bagi Sintya untuk memasak mie instan tersebut, kini dia menyantap habis sampai tak tersisa.


"Akhirnya kenyang juga, Alhamdulillah. Lebih baik aku istirahat di kamar ku, tempat ternyaman." Sintya membersihkan piring kotor dan langsung menuju kamar nya.


Sintya tampak memikirkan sesuatu, dia termenung sendirian di kamar nya. Dia masih berfikir kenapa hidup nya bisa seperti ini. Dulu dia hidup bahagia bersama kedua orang tua nya, tapi sekarang dia tinggal sebatang kara.


Dia tidak mempunyai siapa siapa lagi, dia hanya bisa bergantung kepada diri nya sendiri.


Kalau sampai dia sakit, mungkin tidak akan ada yang bisa menjaga nya.


Tanpa terasa kini air mata nya mengalir lagi untuk kesekian kalinya. Kenapa kehidupan nya sangat pahit seperti ini. Dulu dia pernah mempunyai mimpi kuliah di luar negeri sama seperti teman teman nya yang lain.


Tapi kenyataan berkata lain, Sintya tidak bisa melanjutkan mimpi tersebut.

__ADS_1


Sintya hanya bisa menahan rasa sesak di dada nya, dia berusaha untuk kuat dan bertahan meski pun sebenarnya dia sangat lemah dan rapuh.


Maaf ya gays kalau tulisan nya banyak yang salah dan mungkin membosankan πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2