
Ana pun berangkat ke kampus tanpa bertemu dengan Leon. Walaupun sebenarnya di dalam hati Ana bertanya-tanya kemana perginya Leon, namun ia enggan untuk bertanya kepada Lufi. Ana lebih memilih segera berangkat ke kampus.
Leon baru bangun dari tidurnya pukul 10 pagi menjelang siang. Setelah membersihkan diri, ia segera mencari Ana di kamarnya namun Ana tak ada di kamarnya.
Ia mencari ke lantai bawah, namun hasilnya juga nihil, Ana tak ada di sana.
''Ana, An, Anaaa,'' Leon panik karna tak mendapati Ana berada di rumah. Ia juga mencari Ibu dan Bapak Ana, namun kamarnya kosong, tak ada satupun barang yang ada di kamar tamu itu.
''Apa jangan-jangan Ana,,,'' ucapannya menggantung. Leon yang panik, ia lari ke lantai atas, di mana kamar Ana berada.
''Anaaa,'' panggil Leon sambil membuka pintu kamar Ana. Leon membuka lemari Ana. Di sana baju Ana masih terlihat tertata rapi.
''Ana kemana?'' gumamnya dengan penuh tanda tanya di dalam kepalanya. Leon berlari lagi menuju kamarnya untuk mengambil hpnya. Setelah menemukan hpnya, ia menekan nomor ponsel milik Ana.
''Kenapa nggak di angkat sih,'' gerutu Leon. Ia mencoba beberapa kali, namun sama, Ana tak mengangkat telepon dari Leonn.
''Akhhhhhh, kamu kemana sihh. Jangan buat aku cemas An,'' gumamnya frustasi.
Leon keluar dari kamarnya dengan buru-buru, ia ingin segera mencari Ana.
''Kak Leon mau kemana?'' tanya Lufi yang saat itu berpapasan dengan Leon.
''Aku harus cari Ana. Ana tak ada di kamarnya, Ibu dan Bapak juga nggak ada,'' ucap Leon.
''Cari Ana? Ana ada di kampus kenapa Kakak ingin mencarinya,'' ucap Lufi.
''Di kampus?'' tanya Leon menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Lufi.
''Iya, Ana ada bimbingan dengan dosen di kampus. Ibu dan Bapak sudah balik lagi ke desa,'' ujar Lufi.
''Balik ke desa? Kapan?'' Leon tak tau jika Ibu dan Bapak sudah kembali ke desa karna ia masig tidur pagi tadi.
''Tadi pagi,'' Lufi pun duduk di sofa ruang keluarga.
''Kenapa kamu nggak bangunin Kakak sih Fi. Kakak kan bisa antar mereka sampai ke terminal,'' ucap Leon kesal.
__ADS_1
''Aku kira Kak Leon udah berangkat kerja. Aku panggil-panggil sampai mulut ini berbusa Kakak nggak denger,'' ujar Lufi.
''Terus, jam berapa Ana akan pulang?'' tanya Leon mengalihkan pembicaraan.
''Ya aku nggak tau,'' ucap Lufi sambil mengedikkan bahunya.
''Kamu itu apa sih yang tau. Dikit-dikit nggak tau. Pinter dikit napa,'' ujar Leon meninggalkan Lufi, wajahnya terlihat begitu kesal.
''Kak Leon apaan sih. Apa dia lagi berantem sama Ana. Kenapa yang di musuhi sejagat raya. Astagaa, dasar bucin akut,'' gumam Lufi.
''Kamu itu apa sih yang tau. Dikit-dikit nggak tau. Pinter dikit napa,'' Lufi pun menirukan gaya bicara Leon. ''Kalau dia tau kenapa harus tanya sama aku coba, punya kakak satu aja nggak pinter-pinter,'' gerutu Lufi.
Leon memilih keluar dari rumah dan menyusul Ana ke kampus. Leon tak mau terus menerus di diamkan oleh Ana seperti ini. Ia rindu yang selalu manja dan di perhatikan oleh Ana.
Sesampainya di kampus, Leon lebih memilih menunggu Ana di parkiran, ia tak mungkin turun dari mobil dengan pakaian yang ia kenakan saat ini. Celana pendek dan kaos omblong menjadi favoritenya ketika libur bekerja.
2 jam berlalu, Leon masih tak menemukan Ana. Ia menunggu Ana dengan setia di parkiran, namun lagi-lagi ia tak menemukan Ana keluar dari kampus.
''Apa jangan-jangan Lufi bohongi aku,'' gumam Leon langsung menekan nomor Lufi untuk menanyakan kebenarannya.
''Ana mana sih, 2 jam loh aku di sini,'' gumam Leon yang mulai panik.
Ana pun pulang di antar ojol yang sudah di pesannya tadi.
Tap tap tap.
Suara sepatu milik Ana bergesekan dengan lantai marmer di rumah itu.
''Lhoh An, kok udah pulang? Kak Leon mana?'' tanya Lufi yang hanya melihat Ana seorang diri.
''Kak Leon? emang Mas Leon kemana?'' tanya Ana.
''Kak Leon jemput kamu ke kampus, kamu nggak ketemu dia?'' tanya Lufi.
''Aku nggak ketemu dia Fi. Di parkiran juga nggak ada,'' ucap Ana asal. ''Udah ya aku mau istirahat dulu,'' Ana segera berjalan naik ke lantai atas.
__ADS_1
''Terus kalau nggak ada, Kak Leon kemana? Apa dia langsung ke kantor karna nunggu Ana nggak pulang-pulang ya,'' gumam Lufi. Lufi hanya mengedikkan bahunya, ia justru berjalan menuju lantai atas di mana kamarnya berada tanpa menelpon Leon.
2 jam 3 jam 4 jam 5 jam Leon menunggu Ana. Namun hasilnya nihil, Ana tak muncul di sana. Leon pun frustasi, ia mengendarai mobilnya pulang ke rumah.
''5 jam aku nungguin kamu di parkiran kampus An. Kamu kemana sih sebenarnya?'' gumam Leon penuh tanda tanya. Sesaat kemudian ia teringat perkataan Axel kemarin. Leon menjadi khawatir jika Axel benar-benar akan merebut Ana darinya.
Leon menancapkan gasnya menuju rumah. Sesampainya di rumah ia segera mencari keberadaan Lufi untuk bertanya keberadaan Ana.
''Fi, Fi buka pintunya!!'' Leon menggedor pintu kamar Lufi sampai akhirnya Lufi terbangun dari tidurnya.
''Apa sih Kakk. Bisa nggak sih ketuk pintu pelan-pelan. Kaget tau,'' ucap Lufi dengan rambut yang masih acak-acakkan khas orang bangun tidur.
''Dimana Ana? 5 jam aku nungguin dia di kampus tapi Ana nggak ada,'' ucap Leon menatap Lufi dengan tajam.
''Ana? 5 jam menunggu Ana?'' tanya Lufi memastikan jika ia tak salah dengar.
''Hem, cepat beri tau aku, sebenarnya Ana ada di mana?'' tanya Leon yang sudah tidak sabar.
''Ana ada di kamarnya kayaknya. Tadi dia udah pulang sekitar jam 12,'' ucap Lufi tanpa dosa.
''Kenapa kamu nggak bilang sama Kakak sih Fiii,, astagaaa aku bisa gila jika seperti ini,'' Leon menjambak rambutnya karna kesal dengan Lufi, lalu ia berjalan menuju kamar Ana.
Ceklek.
Pintu di buka oleh Leon dari Luar tanpa mengetuk pintu terlebih dulu. Ia tak mendapati Ana di sana, namun Leon mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.
Selang beberapa saat, Ana keluar dari kamar mandi, ia kaget melihat Leon yang tengah bersedekap dada di dekat pintu kamar mandinya. Namun Ana segera memasang muka datarnya.
''Mas Leon ngapain?'' tanya Ana yang terdengar dingin di telinga Leon.
*
*
Jangan Lupa tinggalkan jejak ya.
__ADS_1
Like, coment, fav, vote dan beri hadiah.