
Sore itu Ana mengemasi sebagian baju dan barang-barangnya untuk di bawa ke tempat tinggalnya yang baru. Walaupun sebenarnya ia tak mau tinggal di apartemen, namun ia tak punya pilihan lain. Apalagi jika ia tak mau menempati, apartemen itu akan di berikan kepada wanita lain oleh Leon.
''An, beneran kamu pindah dari sini? Aku sedih loh kamu tinggal An,'' Lufi terlihat menekuk wajahnya.
''Kita bisa tiap hari bertemu Fi,'' ucap Ana.
''Kenapa sih harus kamu yang tinggal di apartemen, kenapa nggak Kak Leon aja. Kan kalau Kak Leon bisa jaga diri An,'' ucap Lufi yang matanya sudah mulai berkaca-kaca.
''Jadi kamu mau ngusir Kakak?'' tanya Leon menatap tajam ke arah Lufi.
''Ya, daripada Ana kan Kak. Kasihan Kak. Kakak kenapa sih, dari kemarin sewot mulu sama Lufi. Lufi salah apa coba,'' ujar Lufi terlihat kesal kepada Leon.
''Kamu nanya kamu salah apa? Sini Kakak kasih tau ya. Kamu kan yang ngajari Ana untuk ngedrama saat hari ulang tahun Kakak? Kamu nggak tau betapa sedihnya Kakak waktu itu. Rasanya Kakak hampir mau mati tau nggak saat Ana berbicara yang menyakitkan ke Kakak---''
''Udah-udah Mas. Itu nggak sepenuhnya salah Lufi kok. Kan Ana juga salah Mas. Udah dong jangan di bahas lagi,'' ucap Ana.
''Ya udah kalau gitu ayo berangkat!'' ajak Leon. ''Urusan kita belum selesai,'' ucap Leon menatap tajam ke arah Lufi.
''An, jaga diri baik-baik. Aku sungguh nggak rela kamu pergi dari sini,'' ucap Lufi yang berat di tinggal oleh Ana.
''Udah tenang aja, aku bisa jaga diri kok. Nggak ada 5 bulan lagi aku akan kembali kesini kok. Insya allah,'' ucap Ana.
''Kamu hati-hati ya. Besok aku akan main ke tempatmu,'' ucap Lufi. Ia sebenarnya tak rela jika Ana pergi dari rumahnya. Namun keputusan Ana sudah bulat, tak bisa di ganggu gugat lagi.
Leon pun mengantarkan Ana menuju apartemen. Sebenarnya ia juga tak rela berpisah tempat tinggal dengan kekasih hatinya, namun ini yang terbaik untuk kedua.
Jam menunjukkan pukul 8 malam, Leon yang saat ini berada di sofa ruang tamu masih belum beranjak juga untuk pulang.
''Mas Leon mau pulang jam berapa? Ini udah jam 8 Mas,'' ucap Ana.
''Bentar lagi sayang. Masih kangen,'' ucap Leon yang masih setia tidur di pangkuan Ana.
''Udah malam lo Mas, Mas Leon besok juga harus kerja kan,'' ucap Ana.
''Bentar lagi yank. Wangi tubuhmu bikin Mas candu,'' ujar Leon.
''Massss,'' ucap Ana menekan kalimatnya.
''Iya iya, nih aku mau pulang. Jaga diri baik-baik, kalau ada apa-apa hubungi aku,'' ucap Leon.
''Iya udah sana, hati-hati Mas,'' ucap Ana melambaikan tangan saat Leon meninggalkan apartemennya.
__ADS_1
*
Hari mulai berganti. 1 bulan lagi, Ana akan mengakhiri masa kuliahnya. Saat ini Ana sudah bekerja di perusahaan milik keluarga calon suaminya. Ana bekerja di bagian divisi keuangan. Sebenarnya Leon ingin Ana menjadi sekretarisnya, namun Ana tak mau. Ia ingin menikmati hidupnya sebelum ia benar-benar menjadi istri CEO perusahaan Lewis Corp.
Tringg tringg tringg.
Handphone milik Leon berdering, pertanda ada panggilan masuk.
''Iya, hallo,'' ucap Leon.
''.......''
''Ngapain kamu ada di bandara Jakarta,'' ucap Leon mengerutkan keningnya.
''.......''
''Datanglah ke kantor, aku share tempatnya,'' ucap Leon.
''.......''
Leon segera menutup panggilan teleponnya. Ia penasaran dengan seseorang yang menelponnya tadi. Ada perlu apa dengannya, sampai-sampai ia jauh-jauh datang ke Indonesia.
1 jam kemudian, tamu yang ingin bertemu dengan Leon pun sudah sampai di lantai dasar. Leon menyuruh Dirga menjemput mantan sekretarisnya itu.
Setelah bertemu dengan tamu Leon, Dirga mengajaknya menuju ruangan Leon.
''Silahkan,'' Dirga membukakan pintu ruangan Leon.
''Terima kasih,'' ucap orang itu.
Seseorang itu masuk ke dalam ruangan Leon. Leon menatap wanita itu dengan penuh tanda tanya. Wanita yang dulunya berpakaian sangat se*y, bahkan buah dadanya pun hampir keluar, saat ini malah berpakaian tertutup. Leon juga merasa jika wanita itu semakin gemuk.
''Ada perlu apa kamu datang kemari?'' tanya Leon dengan muka datar.
Wanita itu menghembuskan nafasnya kasar. Ia menangis sebelum berbicara apapun.
''Kenapa kamu menangis? Ada apa?'' tanya Leon semakin penasaran.
''Aku hamil!'' ucapnya.
''Kamu hamil? Terus apa masalahnya?'' tanya Leon semakin tak mengerti dengan ucapan wanita di depannya.
__ADS_1
''Di dalam sini ada anak anda Tuan,'' ucap wanita itu pelan sambil menunduk.
''Anakku? Kamu jangan bercanda deh,'' ucap Leon tertawa.
''Saya tidak bercanda. Lihatlah dia tumbuh dan berkembang di perut saya,'' ucap wanita itu.
''Hey, kamu jangan asal bicara ya. Mana ada di sana itu anakku,'' ucap Leon tak mengerti dengan wanita di depannya saat ini.
''Apa anda lupa dengan kejadian beberapa bulan yang lalu. Saat anda mabuk dan anda menyuruh saya menemani anda minum?'' tanya wanita itu menatap lekad Leon.
''Tapi kita tidak melakukan apapun! jangan pernah menipu saya ya,'' ucap Leon yang kali ini geram dengan mantan sekretarisnya itu.
''Mana ada orang mabuk yang ingat Tuan Leon Lewis!'' ucap Wanita itu dengan menatap tajam ke arah Leon.
''Buktikan jika itu anakku,'' ucap Leon antara percaya dan tidak.
''Buktikan? Apa yang harus saya buktikan. Anda mabuk malam itu dan saya harus menemani anda. Anda tiba-tiba menyerang saya. Bagaimana caranya saya membuktikan,'' ucap wanita yang tak lain dan tak bukan itu adalah Nois.
''Kalau begitu aku bukan ayah dari anakmu itu,'' ucap Leon dengan santai.
''Baiklah. Anak ini juga tidak perlu pengakuan dari anda. Karna sebentar lagi, dia akan kembali ke sisi tuhan,'' ucap wanita itu mengancam Leon.
''Maksud kamu apa? Kamu mau bunuh anak yang tak berdosa itu? Kamu sudah gila ya,'' ucap Leon.
''Ya, saya memang gila. Gila karna anda telah merusak kebahagiaan saya. Anda telah menodai saya!!'' pekik wanita itu. Pada saat yang bersamaan Ana masuk ke dalam ruangan Leon.
''Maksudnya apa ini?'' tanya Ana pelan.
''Sayang, kamu ngapain kesini?'' tanya Leon langsung berdiri dari duduknya. Ia takut jika Ana mendengar semua pembicaraannya tadi.
''Aku mau mengantar laporan ini Mas. Dia siapa?'' tanya Ana menatap Nois dengan penasaran.
''Dia, dia mantan sekretarisku,'' ucap Leon gugup.
''Oh,'' Ana masih memperhatikan wanita yang ada di depannya saat ini. Ana penasaran kenapa wanita itu sempat berbicara dengan nada tinggi di depan Leon.
''Apa masih ada yang ingin kamu bicarakan?'' tanya Leon.
''Oh, enggak Mas. Ya sudah aku permisi,'' ucap Ana meninggalkan mereka berdua.
*
__ADS_1
*