Pesona Gadis Desa

Pesona Gadis Desa
Bab 89 PGD


__ADS_3

SAHHH


Ijab qabul yang di laksanakan di rumah sakit pun berjalan dengan lancar. Senyuman terbit di bibir Mama Tari yang terbaring di ranjangnya. Mereka melaksanakan ijab qabul pukul 6 pagi, sebelum Ana berangkat wisuda.


''Selamat sayang. Mama bahagia sekali,'' ujar Mama Tari pelan.


''Axel udah nikah dengan orang yang Axel cintai Ma. Mama cepat sembuh ya. Biar Mama bisa lihat cucu-cucu Mama nanti,'' ucap Axel.


Mama Tari hanya tersenyum. ''Mama doakan kalian bahagia selalu,'' ucap Mama Tari.


Orang yang berada di ruangan itu pun merasa bahagia dan juga terharu. Mereka tak tau ada hati yang sakit dengan pernikahan ini.


''Statusku mulai hari ini sudah berbeda. Semoga aku bisa secepatnya melupakan dia,'' batin Ana.


''Axel sebaiknya kamu temani istrimu wisuda, biar Papa yang menjaga Mama di sini,'' ucap Papa Adrian, Papa Axel.


''Tapi Pa----''


''Pergilah Nak, Mama nggak pa-pa kok,'' ucap Mama Tari meyakinkan jika ia baik-baik saja.


Axel menghembuskan nafasnya kasar. ''Baiklah, kalau ada apa-apa segera telepon Axel Pa,'' ucap Axel.


Axel, Ana dan orang tuanya pergi menghadiri acara wisuda Ana yang di gelar di gedung kampus. Di sepanjang perjalanan Ana hanya diam membisu. Ia masih betah berperang dengan fikirannya sendiri.


Sejak tadi Axel mencuri-curi pandang kepada Ana. Pasalnya Ana saat ini sangat cantik dengan balutan kebaya berwarna merah maroon dan bawahan kain batik dengan belahan di atas lutut. Make up tipis-tipis membuat penampilan istrinya menjadi sempurna.


''Cantik banget istriku,'' gumam Axel pelan. Ana yang mendengar Axel berbicara segera menoleh.


''Mas Axel bicara apa?'' tanya Ana yang tak mendengar dengan jelas perkataan Axel.


''Eh, enggak. Aku nggak bilang apa-apa,'' kilah Axel.


Sesampainya di kampus, Ana segera turun dari mobil suaminya. Entah kenapa jantungnya berdebar-debar, Ana takut jika di sana bertemu dengan orang yang pernah menyakitinya.


Tringgg tringg tringg.


Ponsel Ana berbunyi nyaring, ia segera mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelponnya.


''Lufi,'' gumam Ana saat melihat nama di layar ponselnya.


''Ha halo Fi,'' ucap Ana gugup.


''Kamu di mana An? Kenapa sejak kemarin kamu nggak bisa aku hubungi,'' ucap Lufi dengan nada kesal.

__ADS_1


''Ak aku udah ada di parkiran Fi. Sebentar lagi aku akan masuk,'' ucap Ana.


''Iya cepetan! Aku udah di dalam nih,'' ucap Lufi yang tak sabaran.


''Bu, Pak, Mas, mending sekarang kita masuk aja ke dalam. Teman-teman Ana udah di dalam,'' ucap Ana.


''Ya udah ayo,'' ucap Ibu Siti.


''Nak Axel, Ana tolong di gandeng ya, dia nggak pernah pakai sepatu hak tinggi seperti itu. Takutnya nanti malah jatuh,'' ucap Ibu Siti yang melihat cara jalan Ana sangat aneh.


''Iya Bu,'' ucap Axel.


Tangan Axel terulur untuk menggandeng tangan Ana, namun Ana ragu-ragu untuk meraih tangan suaminya itu.


''Biar nggak jatuh,'' ujar Axel lembut.


''Ya Allah, aku sangat asing dengan tangan ini. Kenapa aku nggak nyaman saat tangan ini bertautan dengan tanganku. Apa karna aku masih mengharapkan dia,'' batin Ana.


Setelah sampai di dalam gedung, Ana duduk di kursi yang telah di sediakan. Ana duduk di depan kursi Lufi.


''Eh, kamu kemana aja sih? Kapan kamu sampai di Jakarta? Kenapa nggak kabarin aku,'' sederet pertanyaan di tujukan kepada Ana.


''Aku sampai Jakarta kemarin Fi,'' ucap Ana santai.


''Em aku---''belum selesai Ana berbicara, acara wisuda pun di mulai.


*


4 jam pun berlalu, setelah acara wisuda, mereka berswa foto bersama. Foto ini akan menjadi bukti hasil perjuangan mereka selama 4 tahun belajar di universitas ini.


Setelah berswa foto di dalam gedung bersama teman-temannya, Ana keluar dari dalam gedung dan berswafoto di depan universitas.


Siapa sangka, Axel telah menyewa fotografer untuk mengabadikan hari istimewa sang istri.


Setelah foto bersama Ibu dan Bapak, kali ini Ana berfoto dengan Axel, suami sahnya.


''Tangan Masnya berada di pinggang mbaknya, dan Mbaknya tersenyum ke arah Masnya ya,'' arahan fotografer.


''Emang harus gini ya Mas?'' tanya Ana pelan. Ana merasa tak nyaman dengan pose seperti itu.


''Nurut aja sama Masnya. Pasti nanti hasilnya bagus,'' ucap Axel.


Setelah banyak pose mesra yang mereka lakukan. Mereka pun memutuskan untuk pulang. Namun saat Ana ingin membuka pintu mobil, ada seseorang yang memanggil namanya.

__ADS_1


''Halo Kak. Kakak namanya Ana ya? Ini ada bucket untuk Kakak,'' ucap seorang wanita yang mungkin umurnya di bawah Ana.


''Dari siapa?'' Ana menerima bucket bunga itu dan ia melihat ada name card di sana.


''Selamat atas gelarnya sayang. Maafin Mas yang nggak bisa datang di acara wisudamu. Aku mencintaimu Ana''


Deg.


Ana berusaha menetralkan degup jantungnya kembali. Ia tau siapa pengirim bucket bunga ini, tak lain dan tak bukan, itu pasti Leon.


''Ada apa An?'' tanya Axel mendekati Ana yang beberapa saat membatu di tempatnya.


''Eh, nggak pa-pa kok Mas,'' Ana berusaha menutupi rasa gugupnya.


''Dari siapa?'' tanya Axel. Ana enggan untuk menjawab. ''Dari Leon?'' tanyanya kembali.


''Aku akan buang kok Mas,'' Ana ingin melangkahkan kakinya ke tempat sampah, namun Axel menahannya.


''Kenapa di buang? Kalau kamu suka bawa aja nggak pa-pa Kok,'' ucap Axel pengertian.


''I iya Mas,'' ucap Ana, ia kemudian masuk ke dalam mobil. Pikirannya pun masih fokus pada tulisan di bunga tadi.


''Kenapa Mas Leon nggak datang ya? Padahal kan Lufi juga wisuda, apa Mas Leon ada kerjaan yang nggak bisa di tinggalkan?'' batin Ana.


''Aduh, kenapa aku malah kefikiran dia sih. Stop Ana stop, dia bukan siapa-siapa lagi di hidupmu,'' batin Ana lagi.


''Aku tau jika hati dan fikiranmu masih ada nama Leon yang enggan kau hapus An. Namun aku akan berusaha sekuat tenaga agar kamu mencintaiku suatu saat nanti,'' batin Axel melirik ke arah samping.


Setelah perjalanan beberapa saat akhirnya mobil yang di kendarai Axel terparkir di halaman rumahnya.


''Kamu istirahat saja di rumah, aku akan kembali ke rumah sakit,'' ucap Axel.


Ana menggelengkan kepalanya. ''Aku ikut ke rumah sakit Mas, tapi aku ganti baju dulu,'' ujar Ana.


Setelah berganti pakaian, Ana pun masuk lagi ke dalam mobil suaminya.


''Memangnya kamu nggak capek?'' tanya Axel lembut.


''Enggak Mas. Mama pasti cari aku kalau aku nggak ikut kesana,'' ucap Ana sambil memasang seat belt nya.


*


Jangan lupa tinggalka jejak like, coment, vote, fav, rate dan beri hadiah.

__ADS_1


__ADS_2