Pesona Gadis Desa

Pesona Gadis Desa
Bab 76 PGD


__ADS_3

Security tadi memapah tubuh Axel masuk ke dalam rumah sakit. Teman sesama dokter dan para perawat pun merasa kasihan kepada kondisi Axel saat ini.


''Awww,'' Bibir Axel terasa perih saat teman sesama dokter mengobatinya.


''Dasar Leon kurang ajar. Kalau enggak demi Ana, kamu tadi sudah jadi rempeyek Le,'' batin Axel terus memegangi perutnya.


Setelah di obati, Axel merebahkan tubuhnya di sofa ruangannya. Bogem mentah dari Leon benar-benar membuatnya tak berdaya. Apalagi Leon beberapa kali meninju bagian perutnya.


Di lain tempat.


Leon terlihat bertambah marah kepada Axel karna Axel tak memberitahu dimana Ana berada. Walaupun tadi ia sudah memberi pelajaran kepada Axel, namun Axel masih bungkam tentang keberadaan Ana.


''Aahhhhhh,'' Leon berkali-kali memukur stir mobilnya. ''Dimana sebenarnya Axel menyembunyikan Ana. Kenapa sampai saat ini Ana tak kembali juga,'' gumam Leon.


Leon sudah berusaha menelpon dan mengirim pesan kepada Ana. Namun nomor handphone milik Ana tidak aktif.


''An kamu di mana?'' tanya Leon dengan mata berembun seperti ingin menangis.


Leon melajukan mobilnya menuju apartemen yang selama ini di belinya untuk Ana. Setelah sampai ia langsung masuk ke dalam apartemen karna Leon tau password apartemen itu. Ia masuk ke dalam kamar Ana, dan merebahkan tubuhnya di ranjang king size milik Ana.


''An, aku rindu sayang,'' gumam nya sambil menutup matanya. Beberapa detik kemudian ia tertidur dengan lelap di ranjang itu. Wangi Ana masih tercium di indra penciuman Leon, membuat Leon merasa nyaman dan terlelap ke dalam mimpi.


*


Di lain tempat, Axel pulang dengan keadaan yang sangat memprihatinkan. Mama Tari yang melihat Axel babak belur terus menerus menangis.


''Kamu kenapa sampai berantem seperti ini sih sayang. Lihat wajah tampanmu, kini malah berubah menjadi biru semua,'' ucap Mama Tari sambil menangis.


''Axel nggak pa-pa Ma, udah Mama jangan nangis terus dong,'' ucap Axel menenangkan Mama Tari.


''Siapa yang melakukan semua ini, biar Mama kasih pelajaran sama dia. Nggak tau aja kalau Mama punya ilmu bela diri,'' ucap Mama Tari emosi.


''Ma, udah ya. Axel benar-benar nggak pa-pa kok,'' ucap Axel menatap Ana yang saat ini juga menatap Axel khawatir.

__ADS_1


''Apa ini ada hubungannya dengan Mas Leon, Mas?'' tanya Ana yang sejak tadi sudah curiga. Axel mengangguk pelan.


''Iya, dia datang ke rumah sakit tadi,'' ucap Axel.


''Sudah Ana duga,'' gumam Ana.


''Ma, Mas, aku mau pamit pergi dulu. Makasih telah memberiku tumpangan tempat tinggal di sini,'' pamit Ana.


''An, kamu mau kemana?'' tanya Axel khawatir.


''Aku mau menyelesaikan masalah ini Mas. Aku nggak mau lebih banyak korban lagi gara-gara permasalahanku dengan Mas Leon. Hari ini Mas Axel yang babak belur, entah besok siapa lagi jika aku tidak menemuinya,'' ucap Ana.


''Biar aku antar An,'' ucap Axel yang ingin bangun dari sofa, namun perutnya terasa sangat sakit.


''Mas Axel jangan banyak gerak dulu. Aku nggak pa-pa pergi sendiri. Mas Axel cepet sembuh ya. Maafin Ana karna Ana hanya merepotkan Mas Axel dan Mama,'' ucap Ana.


''Kamu nggak merepotkan sama sekali sayang. Mama malah sedih jika kamu pergi dari sini,'' ucap Mama Tari dengan raut wajah sedih.


''Kamu hati-hati ya. Kalau ada apa-apa hubungi Axel atau Mama ya,'' ucap Mama Tari membalas pelukan Ana.


''Iya Ma, Ana pamit ya. Assalamualaikum,'' ucap Ana meninggalkan mereka berdua.


Axel hanya menghembuskan nafasnya kasar saat Ana meninggalkan rumahnya. Ingin rasanya ia mengantar Ana, namun sakit di perutnya benar-benar membuat ia tak berdaya.


*


Sesampainya di apartemen, Ana segera menuju kamarnya. Lalu ia membersihkan diri dan istirahat. Namun ia seperti mencium bau parfum Leon di bantal dan selimutnya.


''Apa Mas Leon habis dari sini ya?'' batin Ana. Namun fikirannya tentang Leon ia tepis begitu saja karna ia ingin merileks kan fikirannya terlebih dulu sebelum menghadapi Leon.


Ana pun tertidur pulas dengan memeluk guling yang selama ini ia peluk. Sementara di lain tempat, Leon tengah berada di apartemen Nois. Saat Leon tertidur di apartemen Ana, tiba-tiba Nois menelponnya untuk datang ke apartemennya karna perutnya mendadak sakit. Mau tak mau Leon pergi ke apartemen Nois.


''Udah deh No, aku pengen kita akhiri sandiwaramu ini,'' ucap Leon menatap Nois dengan tatapan tajam.

__ADS_1


''Sandiwara apa? saya benar-benar hamil Anak anda. Kenapa anda tidak percaya,'' ucap Nois meyakinkan Leon kembali.


''Waktu itu aku nggak ngapa ngapain kamu No. Udah deh, jangan gini terus. Aku udah capek No, Ana sampai sekarang belum kembali karna kesalah pahaman ini,'' ucap Leon frustasi.


''Kalau memang anda nggak mau mengakui anak ini nggak pa-pa. Biarkan saya pergi dengannya,'' ucap Nois berlari pergi keluar dari apartemen. Leon nampak melihat Nois yang berlari keluar segera mengejar Nois. Ia takut jika Nois berbuat hal yang nekad.


''Nois, tunggu!'' panggil Leon, namun Nois seperti tuli. Ia tak menyahut panggilan Leon, ia malah berlari lebih kencang lagi.


''Nois, ingat kandunganmu! Kamu mau kemana?'' Leon terus mengejar Nois walaupun larinya kalah cepat dengan Nois.


Di sini sekarang mereka berada, di atas jembatan yang tak jauh dari apartement yang di sewa Leon untuk Nois.


''Nois kamu mau ngapain. Please turun sekarang!'' pekik Leon saat mendapati Nois sudah menaiki pagar jembatan itu.


''Buat apa saya turun, cukup sudah penderitaan saya selama ini. Saya hamil tanpa suami, dan ayah anak ini bahkan tak mau mengakuinya!'' ucap Nois dengan kencang.


Orang-orang di sekitar hanya menonton adegan itu, tanpa mau menolong Nois yang hampir melompat dari jembatan.


''Tapi itu bukan anakku No,'' ucap Leon.


''Anda mabuk. Mana mungkin anda ingat Tuan Leonard,'' ucap Nois penuh penekanan di setiap kalimatnya.


''Kasihan ya cewek itu, pasti dia malu banget hamil di luar nikah. Apalagi cowoknya nggak mau bertanggung jawab lagi. Ih dasar cowok jaman sekarang maunya enaknya doang,'' ucap salah seorang yang ikut berkerumun melihat Nois yang ingin meloncat dari jembatan.


''Iya ya, wajahnya aja yang tampan, tapi hatinya busuk,'' gumam salah satu warga yang menyaksikan.


Warga semakin banyak yang melihat adegan Nois. Tiba-tiba ada salah seorang yang datang.


''Kenapa kita tak menikahkan mereka saja. Kasihan kan wanitanya. Pasti hidupnya selama ini menderita,'' ucap salah seorang lelaki.


''Iya bener. Nikahin aja mereka. Bukankah lelaki itu harus bertanggung jawab,'' timpal seseorang paruh baya.


*

__ADS_1


__ADS_2