Pesona Gadis Desa

Pesona Gadis Desa
Perhatian


__ADS_3

Waktu begitu cepat berlalu, Sintya kini sudah bisa menata kehidupan nya kembali. Semangat hidup nya pun kini sudah mulai kembali seperti semula.


Gilang juga sering menemui Sintya di tempat kerja nya. Walaupun terkadang hanya bisa melihat tanpa bisa berbicara, namun dia tetap merasa sangat bahagia.


Sintya dan Gilang semakin merasa sangat nyaman dengan kebersamaan mereka. Sintya yang dulu nya selalu kelihatan bersedih dan murung, kini berubah menjadi pribadi yang lebih baik dan ceria.


Sintya merasa telah menemukan sosok pahlawan yang telah berhasil menyelamatkan hidup nya dari hati yang kosong menjadi lebih tenang dan damai.


Namun dia teringat bahwa Gilang bukan lah siapa siapa bagi. Suatu saat nanti Gilang akan pergi meninggalkan nya seperti ibu dan ayah nya.


Sesaat kemudian dia teringat akan sosok ayah dan ibu nya yang selama ini selalu ada untuk diri nya. Tapi dia tidak tau harus berbuat apa untuk menghilangkan rasa rindu terhadap kedua orang tua nya itu.


Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke sebuah tempat yang sudah lama tidak dia kunjungi. Tempat yang biasa dia datangi ketika Sintya merasa sedih.


Ya tempat itu adalah pantai. Selama ini Sintya merasa kalau pantai lah yang cocok untuk menghilangkan rasa sedihnya walau hanya sedikit.


Namun dia merasa lebih baik kalau berada di tepi pantai, karena bagi Sintya ombak yang besar akan membawa kesedihan nya menjauh dari diri nya.


"Huff... Rasa nya sangat lelah sekali, pengen istirahat sejenak." Gumam Sintya.


Tidak lama kemudian terdengar suara seseorang menyapa diri nya. Seseorang yang selama ini pun tidak pernah dia temui sejak kedua orang tua nya meninggal.


"Sedang apa disini sendiri Sin, mau aku temanin gak." Suara orang itu berhasil membuat Sintya kaget sekaligus bahagia.


"Dokter Rian, kamu... kamu kok bisa ada disini." Sintya tampak berfikir sejenak.


"Bagaimana bisa?" Tanya Sintya lagi.


Seketika itu juga Sintya menghamburkan badan nya ke tubuh sahabat nya itu sambil menangis sejadi jadinya.


"Udah udah jangan menangis lagi, aku akan sedih kalau kamu kayak gini terus." Rian mencoba menenangkan hati sahabat sekaligus orang yang sangat dicintainya selama ini.


Bukan nya dia tidak tau apa yang terjadi pada kehidupan Sintya dan tidak mau mencari Sintya selama ini, tapi pekerjaan lah yang membuat nya harus menahan diri untuk tidak menemui Sintya.


Ternyata orang tua nya meminta Rian melanjutkan kuliah S3 nya di luar negeri. Rian tidak boleh menginjak kan kaki nya di Indonesia sebelum menyelesaikan S3 nya.

__ADS_1


"Kenapa dokter Rian tidak pernah mencari aku, aku sudah tidak punya siapa siapa lagi sekarang. Semua orang pergi meninggalkan aku dan tidak ada satu pun yang kembali pada ku, termasuk dokter Rian." Sintya melampiaskan apa yang dia pendam selama beberapa tahun ini.


"Maaf kan aku Sin, maaf kan aku yang tidak pernah ada saat kamu membutuhkan aku. Bukan maksud ku untuk meninggalkan mu, tapi demi orang tua ku aku pergi jauh ke luar negeri." Jelas Rian Permana.


"Kenapa kamu gak pernah kasih aku kabar sedikit pun, aku merasa sangat kehilangan pada waktu itu." Sintya masih menangis di dekapan Rian.


"Hp yang aku pakai selama ini hilang di curi orang, bagaimana aku bisa menghubungi mu." Jawab Rian sambil berusaha menenangkan hati Sintya.


"Aku merasa sangat kehilangan mu." Ucap Sintya lagi sambil memandang wajah Rian.


"Aku juga Sin, aku juga merasa kehilangan mu. Orang yang selama ini bisa membuat suasana hati ku tenang dan damai. Sahabat masa kecil ku .. "


"Sekaligus cinta pertama ku." Ucap Rian dalam hati.


"Kenapa kamu tiba tiba bisa ada disini sih." Tanya Sintya penasaran.


"Kebetulan aku sekarang bekerja di sebuah rumah sakit di Jakarta ini, aku hanya iseng ingin mencari udara segar di pantai dan dari kejauhan aku melihat seorang wanita yang sedang galau. Kemudian aku mendekat dan ternyata orang yang selama ini aku cari." Jawab Rian sambil tersenyum.


"Kebetulan sekali dong kalau gitu, aku gak nyangka aja kalau kita akan bertemu lagi di pantai ini." Sintya tampak mulai tenang dan berusaha tersenyum.


"Aku turut prihatin atas apa yang menimpa kamu dan keluarga mu selama ini, sekali lagi aku minta maaf karena gak ada di saat kamu membutuhkan aku." Terlihat jelas penyesalan di wajah Rian.


"Yang penting sekarang kita sudah di pertemukan kembali dan kamu juga bisa meminta bantuan apa saja selagi aku bisa. Aku pasti akan membantu mu." Ucap Rian sambil kembali membawa Sintya ke pelukan nya.


Seketika jantung Rian berdetak sangat kencang ketika Sintya membalas pelukan nya. Mungkin kah cinta itu masih ada atau hanya karena rasa rindu yang terlalu besar kepada Sintya. Hanya dia lah yang tau.


"Kamu tinggal dimana sekarang?" Tanya Rian.


"Aku tinggal di sebuah rumah kos yang berada tidak jauh dari tempat ini. Setelah jalan lurus, kemudian ada jembatan dan ada gang ke dalam. Disitu lah tempat aku tinggal." Jelas Sintya.


Rian tampak mengangguk tanda mengerti namun dia masih memikirkan sesuatu. Akhirnya dia memutuskan untuk bertanya lagi kepada Sintya.


"Kalau aku boleh tau kamu kerja dimana sekarang? Maaf ya kalau aku lancang bertanya kepada mu."


"Gak papa kok, santai aja lagi. Aku bekerja di sebuah cafe yang berada di ujung jalan sana. " Sintya tampak menunjuk ke arah tempat nya bekerja.

__ADS_1


"Kamu gak papa tinggal sendiri, aku merasa sangat bersalah sama kamu."


"Aku gak papa kok dokter Rian yang ganteng, jadi jangan kawatir kan aku." Jawab Sintya.


"Ya jelas aku kawatir lah Sin, kamu wanita cantik dan menarik. Walaupun kamu berasal dari desa, tapi kecantikan mu itu terpancar seperti artis artis Korea." Ucap Rian sambil mengarahkan pandangan nya ke arah lain.


Sebenarnya dia sangat malu kalau harus memuji Sintya di depan nya. Tapi dia tidak tahan jika harus terus memendam perasaan nya selama ini.


"Kamu ada ada aja deh, aku gak merasa cantik kok. Aku biasa aja." Jawab Sintya santai.


"Oh iya aku boleh nanya sesuatu gak, tapi kamu jangan marah ya." Ucap Sintya.


"Kamu mau tanya apa, dan kenapa aku harus marah Sin."


"Benaran gak marah nih aku nanya."


"Gak Sin, kapan sih aku pernah marah sama kamu."


"Iya juga sih dokter gak pernah marah. Apakah dokter Rian sudah menikah?" Pertanyaan yang terlontar begitu saja dari mulut Sintya berhasil membuat wajah Rian Permana memerah seketika.


"Aku aku.. " Rian tampak ragu untuk menjawab pertanyaan Sintya.


"Kok jawab nya aku aku doang, aku kan nanya apakah dokter Rian sudah menikah?" Sintya mengulang pertanyaan nya untuk kedua kalinya.


"Aku belum ingin menikah Sin, saat ini aku hanya ingin menjaga diri mu saja. Belum kepikiran untuk menikah." Jawab Rian lantang.


"Kok gitu sih, aku udah gak perlu dijaga lagi. Aku udah besar dan bisa menjaga diri aku sendiri." Sintya merasa tidak enak karena dirinya Rian belum menikah sampai sekarang.


"Lagian jodoh ku belum ada, tidak ada yang mau menikah dengan ku." Akhirnya Rian menjawab apa yang ada dalam pikiran nya.


"Gak mungkin lah dokter ganteng seperti kamu tidak ada yang suka. Kamu bercanda aja, kamu nya yang gak mau kali."


"Emang aku belum siap Sin, aku belum siap untuk membuka pintu hati ku untuk orang lain." Rian hanya bisa membatin sambil tersenyum pahit.


"Kok diam aja sih dokter, aku ini Sintya Bella yang cantik dan manis bertanya kepada mu." Sintya mengedip kan sebelah mata nya.

__ADS_1


"Kamu lebay banget sekarang ya Sin, udah ah aku malas. Makan yuk aku udah lapar nih, belum makan dari tadi." Rian mengajak Sintya makan di sebuah restoran paling dekat dengan pantai.


"Ayok lah.." Sintya mengandeng erat tangan Rian.


__ADS_2