
Hari-hari pun telah berganti. Hari ini jadwal Lufi mengontrolkan kaki dan tangannya ke rumah sakit. Lufi akan di temani oleh Ana pergi ke rumah sakit.
''Hari ini Kakak ada meeting penting. Kamu di antar Ana dulu ya, nanti Kakak bakal nyusul kamu,'' ucap Leon.
''Baiklah,'' ucap Lufi.
Setelah sarapan bersama, Leon pamit untuk berangkat ke kantor. Lufi di temani oleh asisten rumah tangga berada di ruang keluarga menonton sinetron kesukaannya sambil menunggu Ana datang.
Tak menunggu lama, Ana datang. Mereka segera berangkat ke rumah sakit di antar sopir pribadi milik Leon.
Di dalam mobil, Ana mendengar ponselnya berbunyi. Ia segera mengecek siapa yang telah mengiriminya pesan.
๐ฉ ''Di rumah sakit nanti jaga mata, jaga hati. Nggak usah deket-deket dengan cowok yang nggak jelas!'' isi pesan Leon.
''Ishhh mulai deh posesif nya,'' batin Ana.
Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di rumah sakit. Ana segera mendorong kursi roda Lufi menuju ruang kontrol, karna mereka telah di dafarkan Leon lebih dulu, maka mereka langsung di perbolehkan masuk.
Setelah selesai memeriksa kaki dan tangannya, Ana langsung mengajak Lufi pulang. Ana takut jika berlama-lama di rumah sakit ia akan ketemu dengan Dokter Axel dan membuat Leon mengamuk.
Ana mendorong kursi roda Lufi. Mereka berjalan dengan bersenda gurau.
''An,'' panggil seseorang. Ana langsung menghentikan langkahnya. Ana hafal dengan suara yang memanggilnya.
''Huh, bukan hari keberuntunganku,'' gumam Ana pelan. Ana segera menoleh ke arah sumber suara yang memanggilnya.
''Siang Mas,'' sapa Ana tersenyum ramah.
''Kalian ngapain di sini?'' tanya Dokter Axel.
''Aku lagi nganterin Lufi kontrol Mas,'' ucap Ana.
Tringg tringg tringg.
Handphone milik Lufi tiba-tiba berdering.
''Halo,'' ucap Lufi.
''Udah pulang?'' tanya Seseorang di seberang sana.
''Ini mau pulang,'' ucap Lufi.
''Ana kemana? Kok nggak di angkat panggilan telepon dari aku?'' tanyanya.
''Oh, dia lagi ngobrol sama Dokter tampan,'' ucap Lufi terkikik geli.
''Dokter tampan siapa?'' suara dingin Leon mampu membuat Lufi merinding.
''Ya itu, Dokter Axel temen deketnya Ana,'' ucap Lufi terus menerus mengompori Leon.
__ADS_1
''Aku akan segera sampai,'' ucap Leon.
''Nggak usah Kak, kita udah mau pulang kok,'' ucap Lufi.
''Jangan pernah membantah ucapan Kakak!''
Tut tut tut.
''Huh, dasar si bucin akut. Hihihi tapi aku seneng deh lihat Kak Leon bucin kayak gini. Setidaknya aku punya hiburan baru, hehehe. Maafin aku ya An, pasti nanti kamu bakal kena omel Kak Leon,'' gumam Lufi sambil terkekeh sendiri.
Saat Lufi tengah tertawa sendiri, tiba-tiba ada seseorang yang sangat di rindukannya lewat di depannya. Mata mereka bertemu, Lufi langsung membeku di tempatnya. Ingin rasanya ia memeluk kekasih hatinya yang beberapa hari ini tak ia jumpai. Namun apalah daya, Nino saja seakan tak mengenal Lufi.
Nino terlihat tengah duduk di kursi roda dan di dorong oleh gadis yang beberapa hari lalu menemani Nino. Sakit, itulah yang di rasakan oleh Lufi saat ini.
''Fi kita pulang ya,'' ajak Ana.
''I iya An,'' ucap Lufi langsung memalingkan wajahnya agar tak melihat seseorang yang tengah menatapnya. Lufi juga nampak bersenda gurau untuk mengalihkan rasa sedihnya.
''Kenapa hatiku sakit melihat cewek itu seperti tak mengenaliku,'' batin Nino yang masih memperhatikan Lufi yang semakin menjauh.
Sampai di parkiran, tiba-tiba Leon sudah ada di dekat mobil mereka sambil bersedekap dada. Perasaan Ana sudah campur aduk saat Leon menatapnya dengan tatapan yang berbeda.
''Kalian ikut mobilku!'' perintah Leon.
Ana mendorong kursi roda Lufi mendekat ke arah mobil Leon. Leon membuka pintu depan dan menyuruh Ana duduk.
''Aku duduk di belakang aja Mas. Biar Lufi yang di depan,'' ucap Ana.
''Mau duduk di depan atau pilih pulang jalan kaki?'' tanya Leon menatap tajam ke arah Ana.
''Iya iya Mas,'' ucap Ana mengerucutkan bibirnya lalu masuk ke dalam mobil.
Leon juga ikut masuk, ia segera menginjak pedal gas dengan kecepatan tinggi.
''Kak, pelan-pelan aja dong. Ingat, nyawa kita cuma 1, Kakak mau mati sebelum nikah. Kakak kan belum merasakan enaknya malam pertama,'' ucap Lufi tanpa di tutup-tutupi.
Ckittttt.
Leon yang mendengar ucapan Lufi langsung menginjak pedal remnya.
''Emangnya kamu sudah pernah merasakan enaknya malam pertama?'' tanya Leon menoleh ke belakang dengan tatapan tajam.
''Em belum lah Kak,'' ucap Lufi.
''Kenapa kamu tau kalau malam pertama itu enak?'' tanya Leon curiga.
''Kenapa Kakak membenarkan jika malam pertama itu enak?'' tanya Lufi balik.
''Mas Leon udah pernah merasakan?'' tanya Ana dengan tatapan penuh selidik.
__ADS_1
''Ya pastinya udah lah An. Orang Kak Leon dari kuliah di LN kok. Kita sendiri kan tau gimana bebasnya di sana,'' ucap Lufi.
''Kalian ini ngomong apa sih,'' ucap Leon.
''Udahlah Kak ngaku aja,'' ucap Lufi bergantian mengompori Ana.
''Enggak!''
''Nggak percaya,'' ucap Lufi.
''Udah nggak usah debat. Cepat jalankan mobilnya, 1 jam lagi aku harus ke kampus,'' ucap Ana dingin.
''An jangan marah dong,'' ucap Lufi melirik Leon.
''Siapa yang marah Fi. Itu kan bukan urusanku,'' ucap Ana melihat ke jendela luar.
''Nggak usah dengerin ucapan Lufi An, dia kalau ngomong suka ngawur,'' ucap Leon menoleh ke arah An. Namun Ana masih memalingkan wajahnya.
''Jangan nangis, jangan nangis An. Please jangan nangis di sini,'' batin Ana.
Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di rumah keluarga Lewis. Leon segera menurunkan Lufi dan mendorongnya masuk ke dalam rumah.
''Fi aku pamit dulu ya, kapan-kapan aku bakal main kesini,'' ucap Ana.
''Makasih ya An udah nganterin aku tadi. Hati-hati di jalan,'' ucap Lufi.
''Siap,'' ucap Ana. Ana tanpa melihat ke arah Leon, ia langsung berlalu begitu saja.
''An, Ana,'' panggil Leon sambil menyusul Ana yang sudah keluar rumah.
Namun Ana masih berjalan dengan sedikit berlari.
''Ana tunggu!'' pekik Leon.
''Apa sih Mas,'' ucap Ana kesal.
''Aku antar,'' ucap Leon.
''Nggak usah, aku bisa naik taksi,'' tolak Ana.
''An, kamu kenapa sih?'' tanya Leon yang tidak peka.
''Nggak pa-pa, jangan pegang-pegang bisa nggak sih,'' ucap Ana yang melepaskan tangan Leon yang tengah menggenggam tangannya.
Leon segera menggendong Ana ala bridal masuk ke dalam rumah dan naik ke lantai atas. Walaupun Ana terus meronta ingin di turunkan namun Leon seperti tuli, ia tak mendengarkan ucapan Ana. Leon membawa Ana masuk ke dalam kamarnya.
*
*
__ADS_1
Hayoo si Leon mau ngapain yakkk