
Kesedihan tampak jelas di wajah orang yang dicintai nya itu. Selama bertahun tahun dia memendam rasa cinta nya kepada Sintya. Walaupun selama ini dia terlihat cuek dan acuh, tapi kenyataan yang sebenarnya adalah berusaha memendam rasa cinta.
Dia merasa sangat sedih melihat orang yang selama ini dicintai dan di tunggu kedatangan nya selama bertahun tahun hidup menderita. Yang lebih parahnya lagi dia tidak pernah tau apa yang terjadi pada Sintya selama ini.
"Kamu yang sabar ya sin, aku minta maaf karena telah membuat kamu bersedih kembali. Aku juga minta maaf karena telah mengingatkan mu kepada kedua orang tua mu yang telah meninggal, aku sangat menyesal karena tidak pernah tau apa yang terjadi selama ini." Gilang terlihat sangat sedih karena baru mengetahui semua itu sekarang.
"Aku gak papa kok lang, aku terbiasa seperti ini. Bahkan lebih dari itu, selama bertahun tahun aku berusaha hidup sendiri." Sintya berusaha menahan air mata nya, dia mengusap pelan pipi nya yang penuh dengan air mata.
"Kamu tinggal di mana sekarang?" Gilang berusaha mengalihkan perhatian Sintya.
"Aku tinggal di sebuah kos kosan kecil dekat gang sempit sebelah jembatan." Jawab Sintya kemudian.
"Ya udah kalau begitu, lebih baik aku antar kamu pulang biar kamu bisa istirahat sampai pikiran kamu lebih tenang." Gilang bangun dari duduk nya sambil menuntun Sintya untuk berdiri.
"Gak usah lang aku bisa sendiri kok, aku gak mau repotin kamu." Sintya berusaha untuk tersenyum walau pun sangat sulit.
"Gak papa kok Sin, aku gak merasa direpotkan oleh kamu." Jawab Gilang yang masih kekeh dengan tawaran nya.
"Ya udah deh kalo gitu, ayo.. " Sintya berjalan mendahului langkah Gilang. Gilang pun berusaha mengimbangi langkah Sintya.
__ADS_1
"Mobil aku di sana." Gilang kemudian menunjuk ke sebuah mobil sport milik nya.
Gilang segera membuka kan pintu mobil untuk Sintya dan mempersilahkan Sintya masuk.
"Makasih ya lang."Ucap Sintya.
"Sama sama.." Jawab Gilang bersemangat.
Tak berapa lama kemudian mereka sudah hampir sampai di persimpangan jalan dekat kos kosan nya Sintya.
"Persimpangan depan belok kiri ya lang, kemudian ada jembatan dan setelah jembatan tuh ada jalan kecil menuju kosan aku." Jelas Sintya.
"Oke Sin, siap.. " Jawab Gilang.
"Langsung masuk ke gang sini kan Sin?" Tanya Gilang.
"Iya lang, bisa gak kamu jalan sempit gini, kalau gak sampai sini aja."
"Bisa kok Sin, kamu tenang aja. Aku udah jago bawa mobil nya." Jawab Gilang santai.
__ADS_1
Sintya sedikit menyungging kan senyuman nya tanpa disadari oleh laki laki yang berada di sebelah nya itu.
"Sini lang.."Sintya menunjukkan rumah yang saat ini di huni nya.
Gilang terlihat kaget sekaligus sedih melihat orang yang selama ini hidup berkecukupan, sekarang harus tinggal di sebuah rumah kos yang bisa di katakan tidak layak untuk di huni.
"Makasih ya lang karena kamu udah nganterin aku, mampir dulu yuk." Ajak Sintya dan langsung dibalas anggukan oleh Gilang.
Sintya kemudian membuka kunci pintu rumah nya dan mengajak Gilang untuk masuk ke dalam.
"Silahkan masuk, maaf ya rumah ku begini ada nya. Kamu pasti risih ya.. "Sintya merasa tidak enak.
"Oh gak kok Sin, gak papa lagi. Kamu hebat lagi, udah bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain." Puji Gilang yang langsung membuat suasana hati Sintya terasa senang.
Rumah sederhana itu tertata sangat rapi dan begitu nyaman di pandang mata. Walaupun semua nya serba sempit, mulai dari ruang tamu yang sederhana, dapur yang dibatasi oleh lemari dengan ruang tamu. Kamar mandi nya juga sangat kecil dan kamar tidur nya pun sedikit sempit.
Namun semua itu tidak membuat Sintya merasa tidak nyaman di tempat itu, karena peralatan di rumah nya tersusun begitu rapi. Membuat suasana rumah nya menjadi lebih nyaman.
"Oh iya kamu mau minum apa? Biar aku buatin dulu." Tawar Sintya.
__ADS_1
"Gak usah repot-repot Sin, duduk aja dulu."
"Benaran gak mau minum nih.. Padahal aku udah mau buat kan spesial untuk kamu." Ucap Sintya kemudian.