Pesona Gadis Desa

Pesona Gadis Desa
Bab 45 PGD


__ADS_3

Ana meninggalkan Lufi yang memejamkan matanya. Entah tidur atau hanya pura-pura tidur Ana tak tau. Ana keluar dari ruang rawat Lufi. Mungkin saat ini Lufi ingin sendiri dulu, pikirnya.


Beberapa saat kemudian, Leon datang dengan baju formalnya. Ana menatap Leon tanpa berkedip.


''An, dimana Lufi?'' tanya Leon membuyarkan lamunan Ana.


''Lufi istirahat Mas. Dia sedang nggak mau di ganggu,'' ucap Ana.


Leon membuka sedikit pintu ruangan itu dengan sangat pelan, Leon mengintip ke dalam ruangan. Ia melihat Lufi yang tengah memejamkan matanya. Leon menutup kembali pintu ruangan itu dan ikut duduk di dekat Ana.


''Kamu pasti capek banget ngurusin Lufi seharian,'' ucap Leon penuh perhatian.


''Enggak kok Mas. Aku ikhlas ngurusin Lufi kok,'' ucap Ana.


''Makasih ya,'' ucap Leon membelai lembut pipi Ana.


''Apa sih yang enggak buat kamu,'' gombal Ana.


''Sekarang udah pinter gombal ya,'' ucap Leon sambil menggelitik pinggang ramping milik Ana. Ana pun tertawa karna merasakan geli yang luar biasa.


''Udah Mas ampun, hahaha,'' ucap Ana.


Tiba-tiba suara handphone milik Ana berdering.


Tringggg tringggg tringgg.


''Bentar Mas,'' ucap Ana merogoh kantongnya lalu mengambil handphone nya.


''Halo Ibu, assalamualaikum.''


''Walaikumsalam Nak,'' jawab Ibu.


''Ibu apa kabar? Tumben telpon Ana, ada apa Bu,'' tanya Ana.


''Kabar Ibu baik Nak. Ibu hanya rindu sama Ana. Bolehkan Ibu Video Call Nak?'' tanya Ibu.


Ana langsung menoleh ke arah Leon yang ada di dekatnya.


''Em i iya boleh kok Bu,'' ucap Ana. Ana lalu mengalihkan teleponnya ke video call.


''Halo Bu,'' Ucap Ana.


''Masyaallah, anak Ibu tambah cantik sekali,'' ucap Ibu Siti.


''Kan turunan dari Ibu,'' ucap Ana sambil tertawa.


''Kamu di mana Nak?'' tanya Ibu Siti.


''Ana lagi di rumah sakit Bu. Kemarin sahabat Ana baru saja kecelakaan,'' ucap Ana.


''Inalillahi, terus bagaimana keadaannya Nak?'' tanya Ibu Siti.


''Lufi cidera tangan dan kakinya. Sementara Nino hilang ingatan Bu,'' ucap Ana.

__ADS_1


''Ya ampun, ibu turut prihatin Nak. Ya udah kalau gitu, kamu hati-hati di sana. Semoga sahabat kamu segera pulih lagi ya. Inget pesan Ibu, jangan pacaran terlebih dulu An. Fokus pada kuliahmu dulu,'' ucap Ibu Siti.


''I iya Bu,'' ucap Ana tertunduk, ia merasa bersalah karna telah melanggar ucapan Ibunya.


''Ya udah assalamualaikum,'' ucap Ibu.


''walaikumsalam Bu,'' jawab Ana.


Ana menghembuskan nafasnya kasar.


''Kenapa?'' tanya Leon.


''Aku merasa bersalah Mas pada Ibu. Ibu sudah melarangku pacaran dulu, tapi nyatanya aku pacaran sama Mas Leon,'' ucap Ana.


''Kamu kan calon istriku bukan pacar,'' ucap Leon. Wajah Ana memerah sudah seperti kepiting rebus.


''Sebelum sama Mas kan kamu udah pacaran duluan,'' ucap Leon.


''Ya itu kan anu---''


''Anu apa, hem?''


''Udahlah Mas nggak usah di bahas,'' ucap Ana.


''Kamu udah ngapain aja sama mantan pacar kamu?'' tanya Leon sudah mulai seperti singa yang akan menerkam musuhnya.


''Aku nggak ngapa ngapain. Udah Mas jangan di bahas. Nanti kamu ngamuk lagi loh,'' ucap Ana cemberut.


''Berarti kamu udah macam-macam sama dia?'' selidik Leon.


''Hem, udah pinter banding-bandingin dia sama aku ya?'' ucap Leon. Ana hanya menggelengkan kepalanya. Leon meraih tangan Ana yang tengah membekap bibir se*y milik Ana.


Cup.


''Hukuman buat bibir yang nggak pernah di sekolahin,'' ucap Leon.


''Ihhhh Mas Leonn,'' pekik Ana kesal.


''Kenapa? Lagi?'' tanyanya.


''Massss----


''Ana,'' panggil seseorang yang berada tak jauh dari Ana. Ana langsung menoleh.


''Kak Fadil,'' gumam Ana. Fadil langsung mendekat ke arah Ana.


''Aku rindu banget sama kamu An. Kenapa nomorku kamu blokir. Aku tersiksa An jika kamu seperti ini,'' ucap Fadil meraih tangan Ana. Namun tangan Ana langsung menghindar.


''Kak, Kakak udah punya istri. Aku nggak mau di cap sebagai pelakor lagi sama seperti waktu itu,'' ucap Ana.


''Aku nggak mencintainya An. Aku hanya mencintaimu. Setelah aku mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi, aku akan menceraikannya dan mari kita menikah,'' ucap Fadil.


''Hay Bro. Jangan mimpi menikahi dia. Dia calon istriku, kamu hanya masa lalunya. Nikmatilah hidupmu bersama istrimu. Jangan mengganggu hubungan orang lain,'' ucap Leon menatap tajam ke arah Fadil.

__ADS_1


''Kamu siapa? Nggak mungkin Ana mau dengan lelaki sepertimu. Aku tau tipe Ana yang seperti apa,'' ucap Fadil tak terima.


''Hey jangan salah. Dulu kamu mempunyai hubungan dengan Ana karna kamu hanya pelarian baginya. Sebelum kalian pacaran, kita sudah saling mencintai satu sama lain,'' ucap Leon tersenyum mengejek.


''Nggak mungkin! Jangan mengarang cerita kamu,'' ucap Fadil tak terima.


''Udah stopppp. Ini rumah sakit, tolong jangan beradu argumen di sini!'' ucap Ana.


''Kita masuk aja ya sayang. Kelihatannya kamu lelah,'' ucap Leon mengelus pipi Ana dengan lembut. Ana hanya menurut, ia tak mau berurusan lagi dengan suami orang. Yang ada nanti ia hanya di cap sebagai pelakor.


''An tunggu!'' Fadil meraih tangan Ana.


''Lepaskan atau ku patahkan tanganmu!!'' ucap Leon menatap tajam ke arah Fadil.


''Aku tidak ada urusan apapun denganmu. Aku hanya ingin Ana,'' ucap Fadil.


''Kak, tolong. Jangan ganggu aku lagi. Kakak udah punya istri dan aku sudah punya dia yang akan menjadi imamku kelak, jadi tolong jangan pernah temui aku lagi Kak,'' ucap Ana memohon. Ana berusaha melepaskan cekalan tangan Fadil.


''Tapi An, kita masih bisa seperti waktu dulu. Aku akan menceraikan Sari secepatnya, setelah itu kita bisa menikah,'' ucap Fadil.


''Kak, ingat! pernikahan bukanlah sebuah main----''


''Aku tau An. Tapi bagaimana kalau aku tak mencintainya. Aku sangat membencinya An. Aku benar-benar tak bisa hidup tenang jika masih bersamanya,'' ucap Fadil. Ana hanya menghembuskan nafasnya kasar.


''Jalani apa yang menjadi keputusanmu dulu Kak. Aku permisi,'' ucap Ana meraih tangan Leon lalu pergi dari hadapan Fadil.


''An!''


''Anaaa!!'' panggil Fadil namun Ana tak menoleh, ia hilang di balik pintu.


''Kenapa mantan kamu labil seperti itu,'' ucap Leon. Mereka berjalan menuju sofa lalu duduk di sofa itu.


''Dia terlalu mencintai aku Mas. Jadi seperti itu. Memang pesona seorang Anastasya nggak bisa di ragukan,'' ucap Ana.


''Bangga? Iya??'' tanya Leon menatap Ana penuh arti.


''Ya bangga lah Mas. Masak di kasih wajah yang sempurna seperti ini nggak bangga. Bahkan seorang CEO di perusahaan ternama saja bucin akut sama aku,'' ucap Ana melirik ke arah Leon.


Leon mendekat ke arah Ana dan Greb.


Leon menindih tubuh Ana, netra mereka bertemu.


''Aku nggak akan rela jika seseorang menyentuh badanmu ini walaupun hanya seinchi saja,'' ucap Leon penuh penekanan.


''I iya Mas,'' ucap Ana gugup. Jantungnya saat ini benar-benar tidak bisa di ajak kerja sama.


Leon mendekatkan bibirnya ke arah bibir Ana. Ana menutup matanya dan.


''Kalian ngapain???'' pekik Lufi.


*


*

__ADS_1


Maaf ya ngegantung. Heheh


__ADS_2