Pesona Gadis Desa

Pesona Gadis Desa
Bab 36 PGD


__ADS_3

''Ana!'' pekik seseorang memanggil nama Ana.


Ana yang mendengar suara itu langsung menoleh.


''Kak Kevin,'' gumam Ana pelan.


''Jam berapa ini. Bukannya kamu harus bekerja, kenapa malah ngobrol di sini,'' ucap Kevin merasa cemburu.


''Maaf Kak, aku permisi dulu,'' ucap Ana setengah berlari menuju ke dapur.


''Aku tau, kau pasti suka kan sama Ana,'' ucap Kevin dengan bersedekap dada di depan Axel.


''Apa urusannya denganmu?'' Axel nampak acuh sambil memakan makanannya.


''Ana sahabat aku. Jadi apapun yang berurusan dengannya menjadi urusanku juga,'' ucap Kevin.


''Hahaha, cuma sahabat kan?'' ucap Axel dengan tertawa.


''Aku tau jika kau juga menyukainya,'' ucap Axel lagi.


''Maka dari itu jauhi dia!'' ucap Kevin kesal.


''Kalau aku nggak mau, gimana?'' tanya Axel dengan senyum mengejek.


''Aku tau jika Ana tak menyukaimu,'' ucap Kevin.


''Sejak kapan kamu bisa membaca fikiran dan hati seseorang?'' tanya Axel.


''Akan aku buktikan itu!'' ucap Kevin menatap Axel dengan tajam.


''Silahkan. Tapi aku nggak akan menyerah begitu saja,'' ucap Axel berdiri dari duduknya. Ia meletakkan uang 100 ribuan 5 lembar di atas meja lalu meninggalkan Cafetaria.


''Awas saja kau!'' batin Kevin menatap tajam punggung Axel yang berlalu dari hadapannya.


*


Di tempat lain.


Fadil meninggalkan Sari begitu saja. Rasanya ia muak melihat wajah istrinya.


''Fadil tunggu!'' pekik Sari mengejar Fadil yang akan meninggalkan taman.


''Jangan pernah menyentuhku!'' pekik Fadil saat Sari menyentuh lengannya.


''Fadil kamu kenapa sih?'' tanya Sari.


''Kamu masih tanya aku kenapa? Kamu sudah melukai orang yang aku cintai dan sekarang kamu tanya aku kenapa, astaga, Otakmu ada di dengkul ya?'' ucap Fadil berusaha meredam emosinya.


''Aku membencinya, karna dia kamu harus membenciku seperti ini,'' ucap Sari.


''Aku membencimu karna sikapmu yang kekanak-kanakan seperti ini. Apa kamu tidak bisa jika menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Apa harus dengan menyakiti orang lain?'' ucap Fadil setengah berteriak.


''Fadil maafkan aku,'' ucap Sari.

__ADS_1


''Untuk apa kamu minta maaf padaku. Yang kamu sakiti Ana bukan aku,'' ucap Fadil geram.


''Fad, aku sangat mencintaimu. Aku nggak mau kamu masih berhubungan dengan wanita lain. Sekarang aku ini istrimu Fad,'' ucap Sari dengan berderai air mata.


''Bahkan sampai saat ini aku tak menganggapmu istri. Aku jijik punya istri sepertimu,'' ucap Fadil menatap Sari tajam. Fadil segera meninggalkan Sari di taman itu. Sari menangis tersedu-sedu. Betapa menyakitkannya, suami yang sudah beberapa hari ini menikahinya ternyata jijik dengannya.


*


Beberapa bulan kemudian.


Di tempat lain.


Saat ini Leon tengah berkutat dengan pekerjaannya. Setiap hari ia hanya fokus bekerja bekerja dan bekerja. Namun tiba-tiba Leon teringat tentang Ana.


''Akhhhhh,'' Leon menjambak rambutnya dengan kasar.


''Kenapa dia lewat lagi di fikiranku,'' ucap Leon.


''Apa kabar kamu? Sudah 1 tahun lebih kita tidak bertemu. Apa kamu juga merindukan aku di sana?'' batin Leon berbicara. Ia segera mengambil ponselnya lalu menelpon orang kepercayaannya.


''Selamat pagi Tuan,'' ucap seseorang di balik telepon.


''Bagaimana kabar Lufi Dir?'' tanya Leon.


''Nona Lufi baik-baik saja Tuan, Nona Lufi masih sama seperti dulu Tuan. Namun saat ini Nona Lufi mempunyai kekasih Tuan,'' ucap Dirga.


''Aku sudah tau,'' ucap Leon terdengar datar.


''Kalau sahabatnya?'' tanya Leon lagi.


''Apa??'' tanya Leon memastikan.


''Nona Ana dan kekasihnya sudah sejak lama mengakhiri hubungan mereka Tuan. Kekasih Nona Ana menikah dengan pilihan orang tuanya. Saat itu Nona Ana masih menjadi kekasihnya Tuan,'' ucap Dirga.


''Jadi Ana sudah putus dengan kekasihnya. Ini kesempatan emas untukku,'' batin Leon tersenyum gembira.


''Dan 1 lagi Tuan. Saat ini Nona Ana sedang dekat dengan seorang Dokter spesialis di sebuah rumah sakit ternama di Jakarta Tuan,'' ucap Dirga.


''Apa?'' baru saja ia terbang di atas awan, sekarang ia kembali terhempas di dasar jurang yang paling dalam.


Leon lalu memutuskan sambungan teleponnya dengan Dirga. Hatinya tak kuat mendengar hal yang menyakitkan lagi untuknya.


''An, apa aku sudah tak mempunyai harapan lagi? Apa sekarang aku harus mengikhlaskan kamu?'' batin Leon.


Dirga mengirimkan sebuah foto ke ponsel Leon. Foto saat-saat Ana bersama dengan Dokter Axel. Mereka terlihat makan bersama dan tertawa bersama.


Wajah Dokter Axel tak terlihat jelas di foto itu, karna posisi Dokter Axel dari samping. Namun yang pasti dokter Axel masih menggunakan jas putih seperti Dokter-dokter pada umumnya.


''Akhhhhhh sial sial sial,'' ucap Leon meninju dinding yang ada di ruangannya.


Ponsel yang ia pegang pun di banting sekuat tenaga oleh Leon.


''Lupakan dia Le, lupakan. Banyak wanita cantik yang berada di dekatmu. Buka hatimu Le,'' ucap Leon pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Leon mengambil telepon yang berada di atas mejanya. Lalu ia menekan nomor seseorang.


''Bawakan minuman kesukaanku, sekarang!'' perintah Leon. Selang beberapa saat minuman beralkohol itu sudah sampai di ruangan Leon.


''Ini Tuan minuman yang anda inginkan,'' ucap sekretaris Leon bernama Nois.


''Temani aku minum!'' ucapnya. Nois pun menurut, ia duduk di depan Leon yang saat ini tengah meneguk minuman itu.


''Kamu nggak minum?'' tanya Leon.


''Tidak Tuan,'' ucap Nois.


Minuman 1 botol habis di teguk oleh Leon.


''Minumlah,'' Leon menyodorkan minuman itu kepada Nois.


''Tapi Tuan, saya tidak pernah minum alkohol,'' ucap Nois ragu untuk mengambil botol itu.


''Cobalah, ini akan membuatmu melupakan masalah dalam hidupmu,'' ucap Leon yang hampir kehilangan kesadarannya.


Nois dengan ragu-ragu mengambil botol tersebut.


''Minumlah, jika kamu bisa menghabiskan itu. Aku akan menaikkan gajimu 2 kali lipat,'' ucap Leon di sertai tawa yang menggelegar.


''Apa aku harus minum ini? Tapi gimana kalau nanti aku mabuk. Aku tak pernah minum minuman seperti ini,'' batin Nois.


''Minumlah cepat!!'' perintah Leon.


Nois yang memang membutuhkan uang untuk berobat papanya harus menerima minuman yang di berikan Leon. Masalah mabuk atau tidak Nois pikir nanti, pikirnya.


Gluk gluk gluk.


Nois menegak minuman itu. Beberapa saat kepalanya langsung terasa ada beban berat yang menimpanya. Nois meracau tak jelas.


Leon mendekati Nois yang saat ini kepalanya di senderkan di atas meja.


''Bagaimana, hem?'' tanya Leon tersenyum penuh arti.


''Anda benar. Saya bisa melupakan masalah saya saat ini,'' ucap Nois yang sudah mabuk berat.


''Hahahaaa,'' tawa Leon memenuhi seluruh ruangan. Leon menatap Nois yang sedang berbicara sendiri. Wajah Nois tiba-tiba berubah menjadi wajah Ana di mata Leon.


''Ana,'' gumam Leon.


Leon segera mengangkat tubuh Nois dan ingin di baringkan di atas sofa. Walaupun penuh perjuangan karna tubuh Leon juga sempoyongan, namun sampai akhirnya tubuh Nois sudah sampai di atas sofa


''Aku merindukanmu Ana, kenapa kamu terlalu jahat kepadaku. Kenapa di sini hanya aku yang tersiksa dengan cinta ini. Sementara kamu bersenang-senang dengan lelaki lain di luaran sana!'' ucap Leon penuh emosi. Leon langsung mendaratkan ciumannya ke bibir Nois yang tengah meracau tak jelas.


*


*


Aku deg deg an loh buatnya.

__ADS_1


Jangan hujat aku๐Ÿ˜๐Ÿ™ˆ


__ADS_2