Pesona Gadis Desa

Pesona Gadis Desa
Bab 95 PGD


__ADS_3

Axel mengepalkan tangannya erat. Ia tak menyangka akan melihat adegan seperti ini di sini.


Apalagi istri yang paling di cintainya tega berbohong kepadanya hanya untuk bertemu dengan mantan kekasihnya. Ana mengatakan jika besok ia akan pulang, tapi kenapa baru di tinggal beberapa jam saja ia juga sudah sampai di Jakarta.


''Ana,'' ucap Axel menatap Ana dengan tatapan yang sulit di artikan.


Ana segera menoleh saat ada seseorang yang memanggilnya.


''Mas Axel,'' Ana langsung melepaskan genggaman tangan Leon.


''Mas Axel, ini nggak seperti yang Mas Axel kira,'' Ana langsung mendekat ke arah Axel dan menggenggam tangan Axel.


''Ini sama seperti apa yang kamu lihat,'' ucap Leon tersenyum mengejek ke arah Axel.


Axel hanya diam, ia segera meninggalkan tempat itu tanpa berbicara sepatah kata pun.


''Mas, Mas Axel tunggu Mas,'' Ana mengejar Axel yang langkahnya lebih lebar dari langkah kaki Ana.


''Mas Axel,'' Ana langsung menarik tangan Axel saat langkah Ana hampir sejajar.


''Mas Axel dengerin penjelasan Ana dulu,'' ucap Ana.


Axel hanya diam, ia hanya memandang Ana dengan tatapan kecewa.


''Mas Axel, Ana tadi----''


''Axel, Axel Mama Kamu!'' pekik Papa Andrian.


Axel langsung menoleh, ia segera berlari mendekat ke arah Papanya. ''Mama kenapa Pa?''


''Mama kamu udah nggak ada,'' tangis Papa Andrian pecah saat memberitahu anak semata wayangnya bahwa istrinya baru saja menghembuskan nafas terakhirnya.


''Nggak mungkin Pa, ini nggak mungkin,'' ucap Axel menggelengkan kepalanya lalu berlari menuju ruangan tempat Mama Tari berada.


Flashback On


Axel sampai di rumah sakit 1 jam lebih dulu sebelum Ana sampai. Saat Axel sampai, Mama Tari sedang tertidur pulas, namun beberapa menit kemudian Mama Tari bangun dan ingin makan bubur yang ada di depan rumah sakit. Axel pun membelikan bubur yang di minta Mamanya.


Namun saat Axel kembali lagi ke dalam rumah sakit, ia melihat istrinya bersama rivalnya saat SMA.


Ia pun mendengarkan obrolan mereka sampai selesai.

__ADS_1


Flashback off


''Mama,'' Axel menggoyang-goyangkan tubuh Mamanya yang terbujur kaku.


''Mama saya kenapa Dok?'' tanya Axel kepada Dokter yang menangani penyakit Mamanya.


''Maaf Dokter Axel, nyawa Mama anda tak tertolong,'' ucap Dokter itu.


''Nggak mungkin Dok, tadi Mama saya masih baik-baik saja,'' ujar Axel menangis memeluk Mama Tari.


''Mas, Mas yang sabar. Ikhlaskan Mas, kasihan Mama kalau Mas begini,'' ucap Ana merangkul Axel.


''Mama jangan tinggalin Axel Ma. Axel belum bisa bahagiain Mama. Kenapa Mama tega ninggalin Axel,'' ucap Axel yang sangat kacau.


Acara pemakaman pun baru selesai. Axel masih tetap menangis pilu menatap makam Mama yang pernah melahirkannya. Hancur? Pasti. Anak mana yang tak hancur jika di tinggal orang yang paling ia sayangi, apalagi seorang Ibu.


''Kita pulang yuk, biarkan Mama istirahat. Mama sudah tenang di sana Xel,'' ujar Papa Andrian.


''Axel masih ingin di sini Pa. Mama pasti kedinginan di sana,'' ucap Axel yang tak mau berpindah 1 inchi pun dari makam Mamanya.


''Mas,, sebaiknya kita pulang dulu. Hari hampir malam Mas,'' ajak Ana.


''Jika kamu ingin pulang, pulanglah,'' ucap Axel tanpa menatap ke arah Ana.


''Kasihan Mas Axel, pasti Mas Axel sangat terpukul kehilangan Mama Tari,'' batin Ana.


Mereka pun pulang dengan menggunakan 1 mobil. Tak ada satupun yang bersuara di dalam mobil, hanya keheningan yang ada. Mereka sama-sama berperang dengan fikiran mereka sendiri.


Sesampainya di rumah, suasana pun berbeda. Terlihat ada yang berkurang di sana. Biasanya ada Mama yang selalu cerewet kepada mereka. Namun kali ini hening, mereka merindukan sosok Mama yang baru saja meninggalkan mereka.


Axel berjalan menuju ke kamarnya. Ia seakan tak peduli dengan kehadiran Ana. Ana pun hanya mengikutinya dari belakang.


Axel terlihat mematung melihat keluar jendela.


''Pergilah jika ingin pergi,'' ucap Axel yang tiba-tiba keluar dari mulutnya.


''Mas Axel bicara apa?'' tanya Ana memastikan.


''Aku tau kau masih mencintainya. Di sini tak ada lagi alasanmu untuk bertahan, karna Mama sudah tiada,'' ujar Axel tanpa menatap ke arah Ana.


''Mas, pernikahan ini sakral, aku nggak mau mempermainkan pernikahan. Aku memang belum mencintai Mas Axel, tapi aku akan berusaha untuk itu Mas,'' ucap Ana.

__ADS_1


Ana memeluk Axel dari belakang. Walaupun benar yang di katakan Axel jika ia masih mencintai Leon. Namun ia juga tak mau mempermainkan sebuah pernikahan.


''Jangan berbicara seperti itu lagi Mas,'' ucap Ana masih memeluk Axel.


Axel melepaskan tangan Ana yang melingkar di perutnya. Lalu ia berbalik melihat ke arah Ana.


''Aku tak ingin mengekangmu di sini. Lebih baik kau bersama dengan orang yang kau cintai,'' ucap Axel berjalan menuju kamar mandi.


Ana melihat pintu kamar mandi yang tertutup, ia menghela nafas panjangnya.


''Aku nggak ingin berpisah dengan Mas Axel walaupun aku masih mencintai Mas Leon,'' gumamnya.


Saat Axel keluar dari dalam mandi, ia tak mendapati Ana di sana.


''An, Ana,'' panggil Axel. Namun tak ada sahutan.


Ia keluar dari kamar turun ke lantai bawah. ''Ana, An,'' teriak Axel panik mencari keberadaan Ana.


''Iya Mas, ada apa?'' tanya Ana keluar dari arah dapur. Axel menghembuskan nafasnya kasar. Axel kira Ana benar-benar pergi dari hidupnya.


''Dari mana kamu?'' tanya Axel datar.


''Aku buatin makanan untuk Mas Axel. Makan dulu ya,'' ucap Ana menaruh masakannya di atas meja.


''Aku nggak nafsu,'' ucap Axel.


''Tapi Mas Axel harus makan, Mas Axel belum makan kan sejak siang tadi,'' ucap Ana.


''Ana suapin ya?'' Ana ingin menyuapi Axel namun Axel tahan.


''Nggak usah! Aku bisa sendiri,'' ucap Axel. Bicaranya masih terdengar datar, yang pasti Axel masih marah dengan Ana.


''Di habisin Mas,'' Ana duduk di sebelah Axel. Axel nampak acuh tak memperdulikan Ana yang tengah menatap ia saat makan.


Saat menghabiskan makanannya, Axel kembali ke kamar. Ana pun terus mengikutunya dari belakang.


''Mas,'' panggil Ana.


''Hem,'' jawab Axel yang hanya berdehem saja.


''Maafin Ana ya Mas, Ana benar-benar nggak tau jika Mas Leon juga ada di rumah sakit itu. Awalnya Ana ingin membuat surprise buat Mas Axel dengan kedatangan Ana yang tiba-tiba. Namun realita nggak sesuai dengan ekspetasi,'' ujar Ana memeluk kembali tubuh Axel.

__ADS_1


''Apa kamu akan meninggalkan Mas, sama seperti Mama?'' tanya Axel dengan mata berkaca-kaca.


''Sampai maut memisahkan, aku nggak akan meninggalkan Mas Axel,'' ucap Ana.


__ADS_2