
Leon lebih memilih lari ke kamar mandi dari pada harus melihat Ana kesakitan. Ia melihat miliknya terkena noda darah.
''Aku udah mengambil kesucian Ana. Seharusnya aku melakukannya setelah kita halal. Akhhhh kamu bodoh Le,'' Leon merutuki kebodohannya setelah mengambil kesucian milik kekasihnya.
Leon memilih menuntaskan hasratnya di kamar mandi.
Setelah selesai, ia kembali ke ranjang tempat Ana saat ini merebahkan tubuhnya.
''Maafin aku sayang, apa masih sakit??'' tanya Leon khawatir.
''Sedikit,'' ucap Ana yang terlihat kecewa.
''An, aku minta maaf. Aku akan bertanggung jawab. Kita menikah ya,'' ucap Leon.
''Nggak pa-pa Mas. Kita melakukannya atas dasar suka sama suka. Kamu nggak usah merasa bersalah seperti ini,'' ucap Ana menenangkan Leon.
''Tapi kesucian yang selama ini kamu jaga udah aku renggut An,'' ucap Leon merasa bersalah.
''Sttt, udah nggak pa-pa. Aku yakin kamu akan bertanggung jawab jika waktunya sudah tiba,'' ucap Ana.
Ana ingin turun dari ranjang, namun bagian intinya sangat sakit.
''Awww,'' rintih Ana.
''Aku gendong ya, pasti sakit banget,'' ucap Leon.
''Nggak pa-pa Mas. Aku jalan pelan-pelan saja,'' ucap Ana, namun ia kembali terduduk karna intinya benar-benar sakit.
''Sakit banget ya? Padahal baru depannya doang loh sayang, belum masuk semuanya,'' ucap Leon sedikit menggoda Ana.
''Ihh apaan sih Mas,'' wajah Ana pun bersemu merah saat kembali teringat adegan mereka tadi.
''Mas gendong! Mas janji nggak akan lihat dan nggak akan melakukannya sebelum kita halal. Cukup tadi icip-icip dikit,'' ucap Leon sambil tertawa.
''Ihhh rese banget sih,'' ucap Ana yang menahan sakit dan malu tentunya.
Leon menggendong Ana masuk ke dalam kamar mandi. Setelah itu Leon memilih menunggu di luar agar juniornya tidak on lagi. Setelah selesai Ana keluar dari kamar mandi dengan selimut yang menempel di badannya. Ia berjalan dengan sangat pelan, karna memang intinya benar-benar sakit.
''Sini aku gendong,'' ucap Leon.
''Aku bisa Mas. Harus di buat latihan jalan, biar nggak ngilu banget,'' ucapnya sambil jalan menuju ranjang.
Leon yang memperhatikan cara jalan Ana hanya menahan tawa. Bayangkan saja Ana berjalan seperti anak bebek yang baru saja belajar berjalan.
''Jangan ketawa! Aku tau kamu sedang menahan tawa,'' ujar Ana dengan nada kesal.
__ADS_1
''Maaf sayang. Apa sesakit itu?'' tanya Leon mendekat. Leon duduk di ranjang samping Ana duduk.
''Ya sakit lah Mas. Lihat darahnya saja sampai tembus di seprei,'' ucap Ana mendengus sebal.
''Siapa yang memaksaku untuk melakukannya, hem? Bukankah kamu yang ingin aku masuki,'' ucap Leon.
''Udah, stop stop. Jangan di bahas lagi. Tadi itu aku khilaf,'' ucapnya.
Di dalam hatinya Ana benar-benar menyesal telah melakukan zina bersama sang kekasih. Walaupun belum sampai mencapai kenikmatan, namun inti mereka sudah sama-sama menyatu.
''Mas,'' panggil Ana lirih.
''Apa sayang,'' jawab Leon.
''Kita telah melakukan zina Mas. Aku menyesal karna telah memaksamu melakukan hal yang hina seperti tadi. Aku malu Mas kepada yang di atas,'' ucap Ana menangis terisak. Ia benar-benar menyesali perbuatan dosa yang tadi sempat ia lakukan.
''Udah, semua sudah terjadi An,'' ucap Leon memeluk tubuh Ana.
''Aku mau kita sama-sama bertaubat Mas. Minta ampunan sama yang di atas. Aku nggak mau perbuatan kita saat ini di tanggung oleh orang tua kita Mas,'' ucapnya.
''Iya sayang. Aku juga menyesal telah merusak dirimu. Aku janji setelah ini kita tidak akan melakukannya lagi,'' ucap Leon.
''Mas, izinkan aku tinggal sendiri Mas. Aku tak ingin kejadian seperti ini terulang lagi. Apalagi setiap hari setiap saat kita bertemu. Aku takut jika kita mengulanginya lagi,'' ucap Ana.
''Mas percaya sama aku. Nggak butuh waktu yang lama Mas. Sampai aku lulus saja. Aku janji setelah lulus aku terima lamaran kamu,'' ucap Ana.
''Tapi sayang---''
''Mas please.'' Ana benar-benar memohon.
Leon menghembuskan nafasnya kasar. ''Baiklah, tapi kamu harus janji setelah lulus kamu harus terima lamaran aku dan kita langsung menikah,'' ucap Leon.
''Iya sayang,'' ucap Ana.
*
Pagi harinya, mereka telah bersiap-siap untuk mencari tempat tinggal yang baru untuk Ana.
''An, beneran kamu mau pergi dari sini? Tapi kenapa?'' tanya Lufi penasaran.
''Nggak pa-pa Fi, pengen tinggal sendiri aja dulu, sebelum aku benar-benar menjadi istri Mas Leon,'' jawabnya.
''Kalian nggak ada yang di tutup-tutupi kan dari aku?'' ucap Lufi penuh selidik
''Apa maksudmu?'' tanya Leon menatap tajam ke arah Lufi.
__ADS_1
''Ya, ya nggak ada sih,'' ucap Lufi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
''Kak Leon kenapa sih, aku kan hanya bilang seperti itu, kenapa dia malah menatapku dengan tajam,'' Batin Lufi.
Setelah sarapan Leon mengajak Ana untuk berangkat.
''Kita berangkat sekarang yuk,'' ajak Leon menuntun Ana keluar dari ruang makan.
''Mereka kenapa sih. Dan itu kenapa Ana jalan seperti bebek kayak gitu. Apa mereka sudah---'' ucapannya menggantung saat Lufi membayangkan jika Kakaknya dan juga sahabatnya sudah melewati malam panas.
''Bener! Itu tanda-tandanya jika setelah unboxing. Tapi kayaknya juga nggak mungkin deh, masa Ana melanggar perintah tuhan sih,'' ucapnya lagi. Lufi menepis prasangka buruknya terhadap sahabat dan juga kakaknya.
Ana dan Leon sekarang sudah berada di apartemen elit yang ada di kota itu. Ana sejak tadi menggerutu kesal karna Leon malah membelikannya apartemen.
''Mas, aku cuma mau kos-kosan, bukan apartemen seperti ini,'' gerutu Ana.
''Kos-kosan nggak aman An. Lebih baik di sini,'' ucap Leon.
''Nggak, aku nggak mau!'' ucap Ana.
''Ini udah aku beli lo buat kamu An. Kalau kamu nggak mau siapa yang mau pakai coba,'' ucap Leon.
''Mas Leon selalu gini nih yang paling aku nggak suka,'' gerutu Ana sambil menyebikkan bibirnya.
''Sayang, ini demi keamanan kamu. Udah jangan protes, oke. Di sini enak An, nyaman. Kalau aku nginep kan bisa, di sini ada 2 kamar,'' ucap Leon namun Ana hanya diam.
''Kenapa lagi sih? Harusnya kamu seneng lo aku belikan apartemen elit seperti ini,'' ucap Leon.
''Aku bukan kebanyakan wanita yang ada pada zaman sekarang Mas. Aku cuma pengen kos-kosan,'' ucap Ana menekan akhir kalimatnya.
''Udah terlanjur sayang. Apa mau aku kasih ke wanita lain ni apartemen, hem?'' ucap Leon.
''Berani kamu?'' Ana menatap tajam ke arah Leon. Leon hanya menahan tawanya saat Ana terlihat kesal padanya.
*
*
Jangan lupa tinggalkan jejak ya man teman.
Like, coment, fav, vote dan beri hadiah.
Lope you sekebon.
See you next episode👋
__ADS_1