Pesona Gadis Desa

Pesona Gadis Desa
Bab 80 PGD


__ADS_3

Kenzo, anak buah Leon membawa paksa seorang laki-laki yang umurnya mungkin setara dengan Leon. Saat ini mereka telah sampai di bandara Ibu kota setelah beberapa jam berada di dalam pesawat.


Senyuman terbit di bibir Leon saat menerima telepon dari anak buahnya.


''Sebentar lagi, sebentar lagi aku akan menyingkirkan kamu dari hidupku Nois,'' batin Leon.


Leon menunggu Kenzo dan anak buahnya yang lain di apartemen yang sudah di sewa oleh Leon. Ia tak mau jika rumahnya di ketahui oleh orang-orang semacam Nois dan yang lainnya.


Ceklek, pintu apartemen itu terbuka lebar. Di sana nampak Kenzo membawa paksa seorang laki-laki.


''Selamat siang Tuan. Ini Kakak Nona Nois, namanya Neo,'' ucap Kenzo.


''Senang bertemu dengan anda Tuan Neo,'' ucap Leon tersenyum smirk.


''Lepaskan! Apa sebenarnya mau anda-anda semuanya?'' sentaknya.


''Saya hanya ingin anda menjawab jujur. Siapa ayah dari anak yang di kandung Nois? Jawab!'' ucap Leon dengan membentak.


''Anda hanya ingin tau siapa nama ayah dari bayi yang di kandung Nois? Namanya Leonard Lewis,'' ucap Lelaki itu dengan lantang.


Buggh.


Bugh.


Leon menendang perut milik Neo, sampai-sampai lelaki itu tersungkur di lantai.


''Aku tau anda berbohong!'' teriak Leon.


''Tidak ada untungnya saya berbohong! Nois bilang, ayah dari anak itu namanya Leonard Lewis,'' ucap Neo dengan serius.


Leon tertawa kecewa. ''Anda kira saya percaya?'' tanya Leon menatap tajam ke arah Neo.


''Terserah anda ingin percaya atau tidak. Saya hanya bicara faktanya. Bahwa Leonard Lewis yang sudah menghamili Nois,'' ucap Neo serius.


''Cari bukti lain! Dan yang lain, urus sampah ini. Jangan biarkan ia pergi dari sini!'' perintah Leon meninggalkan apartemen itu.


Damn.


Kecewa, pasti. Ekpetasi di awal tak sesuai dengan realita saat ini. Tadi Leon berharap jika menemukan Kakak Nois jalannya untuk lepas dari Nois menjadi mudah. Namun ternyata ia salah, Kakaknya malah sama saja seperti Nois yang berbicara jika Leon lah yang telah menghamili Nois.


''Aku harus menemukan bukti lain,'' gumamnya saat menyetir mobilnya entah kemana tujuannya.


''Aku rindu denganmu An,'' ucapnya kemudian. Ia membelokkan setir nya menuju apartemen Ana. 2 hari tak bertemu dengan Ana serasa 2 tahun. Leon memang membiarkan Ana menyendiri terlebih dulu. Untuk menenangkan hati dan fikirannya. Leon yakin jika hati dan fikiran Ana sudah tenang, Ana pasti percaya dengan apa yang di ucapkannya.

__ADS_1


Ceklek.


Pintu apartemen di buka. Tempat pertama yang ia tuju adalah kamar Ana. Ia membuka dengan pelan kamar itu, namun Leon segera mengerutkan dahinya karna tak ada seorang pun di sana.


''An!'' panggilnya.


''Ana!'' Leon membuka pintu dengan Lebar. Ia segera masuk kedalam kamar Ana sambil berteriak memanggil nama Ana.


Panik pun tiba-tiba menyerang hatinya.


Tut tut tut.


Leon menelpon Ana, namun nomor ponsel Ana tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Kemudian ia menelpon perusahaannya, berharap Ana ada di perusahaan, namun hasilnya nol besar. Ana sejak kemarin tak ada ke kantor.


''Shittt, kamu kemana An?'' batinnya. Leon berjalan menuju lemari pakaian. Di sana baju Ana hanya tinggal beberapa lembar saja. Leon mencari koper yang saat itu di bawa ke apartemen namun koper itupun juga tak ada.


''Anaa!!'' teriaknya.


Percuma saja ia berteriak sekencang-kencangnya. Ana tak mungkin bisa mendengar, karna saat ini Ana sudah berada di luar kota Jakarta.


Saat ingin melangkahkan kakinya pergi, Leon melihat selembar kertas yang berada di atas meja. Leon mendekat, ia mengambil kertas yang membuat ia penasaran itu.


Dear Mas Leon.


Leon meremas kertas yang baru saja ia baca. Hatinya seketika hancur. Ia terlalu bodoh, ia bahkan memilih bayi yang ia yakini bukan darah dagingnya


Ĺeon memilih pergi dari apartemen itu. Ia pulang ke rumah, berharap Lufi tau keberadaan Ana saat ini.


Sesampainya di rumah, Leon berteriak memanggil nama Lufi, Lufi yang mendengar teriakan Leon pun segera keluar dari kamarnya.


''Ada apa sih Kak?'' tanya Lufi malas.


''Di mana Ana, dia di mana?'' tanya Leon sambil mengguncang-guncangkan kedua lengan Lufi.


''Ana? Memangnga Ana kemana?'' tanya Lufi balik. Ia seperti orang yang cengo karna tak tau apa-apa.


''Fi jangan bercanda deh. Kamu pasti tau di mana Ana saat ini,'' ucap Leon.


''Aku nggak tau Ana di mana Kak,'' ucap Lufi.


''Aku menemukan ini di apartemennya,'' Leon membuka kembali kertas yang ia remas tadi. Lufi segera mengambil kertas itu dari tangan Leon.


Dahi Lufi berkerut saat membaca surat itu. Kemudian, matanya mulai berkaca-kaca. Ia benar-benar tak tau kemana perginya Ana.

__ADS_1


''Ana,'' gumam Lufi pelan. Ia meneteskan air matanya di pipi.


''Hubungi Ana Kak,'' rengek Lufi.


''Nomornya nggak aktif Fi. Aku udah coba berkali-kali, namun tetap sama,'' ucap Leon tengah frustasi.


''Terus kita cari dimana Kak, di surat ini tertulis jika Ana sudah keluar dari kota Jakarta, artinya sekarang Ana nggak ada di kota ini,'' ucap Lufi panik.


''Aku tau Ana ada di mana,'' ucap Leon berjalan meninggalkan Lufi yang tengah menatapnya bingung. Lufi membiarkan Leon pergi, ia kemudian mengambil handphonenya dan menekan nomor Ana berkali-kali, namun yang Lufi dengar bukan suara Ana, melainkan suara operator.


''Ini semua gara-gara Kak Leon. Andai saja Kak Leon nggak kasihan sama ja*ang itu. Pasti sampai sekarang Ana masih ada di sini. Kak Leon bener-bener bodoh,'' ucap Lufi dengam geram.


*


Sementara di lain tempat.


Leon baru saja sampai di rumah sakit, tempat Axel bekerja. Ia menunggu Axel beberapa jam di dalam Mobil.


Jam menunjukkan pukul 3 sore, Axel pulang dengan tas yang saat ini di jinjingnya. Jas berwarma putih milik Axel di sampirkan di atas pundak begitu saja.


Leon yang melihat Axel keluar dari dalam rumah sakit segera turun dari mobilnya. Leon berjalan ke arah Axel.


''Di mana Ana?'' tanya Leon saat mereka benar-benar sudah sangat dekat. Tatapan matanya begitu tajam.


''Ana? Kamu tanya Ana sama aku?'' tanya Axel mengerutkan keningnya.


''Aku tau kamu yang menyembunyikan Ana!'' pekik Leon.


''Kamu ngomong apa sih,'' ucap Axel dengan senyum smirk nya.


Bugh.


Bugh.


*


Thanks buat readers yang udah mau mampir di karyaku ya.


Jangan hanya like, tapi coment juga ya. Vote, fav dan beri hadiah juga boleh bgt.


Happy reading all.


Lope you sekebon.

__ADS_1


__ADS_2