Pesona Gadis Desa

Pesona Gadis Desa
Bab 81 PGD


__ADS_3

Bugh.


Bugh.


Axel membalas bogeman dari Leon. Mereka sama-sama melayangkan bogeman.


''Aku tidak pernah menyembunyikan Ana darimu Leon!'' ucap Axel sambil menendang perut Leon.


''Apa menurutmu aku percaya begitu saja dengan ucapanmu,'' jawab Leon. Ia tak mau kalah dengan Axel. Ia juga membalas menendang perut Axel.


Security yang melihat pun langsung melerai pertengkaran mereka.


''Lepaskan!'' ucap Leon berusaha melepaskan dirinya dari cekalan 2 security itu.


''Pak, anda sudah 2 kali membuat keributan di rumah sakit ini. Sebaiknya anda pergi dari sini,'' usir Security itu.


''Aku belum puas memberinya pelajaran,'' ucap Leon yang terus meronta ingin di lepaskan.


''Apa sih maumu Le. Aku bahkan tidak tau dimana Ana,'' ucap Axel menatap tajam ke arah Leon.


''Aku tidak percaya dengan bualanmu itu!'' sentak Leon.


''Pantas saja Ana nggak betah dengan orang sepertimu. Selain keras kepala, kamu juga terlalu bar-bar dan seperti anak kecil,'' ucap Axel dengan senyum mengejek.


''Apa maksudmu!'' ucap Leon setengah berteriak.


''Pak, tolong jangan membuat keributan di sini!'' ucap Security.


''Urus dia Pak! Aku nggak ada waktu meladeni orang seperti dia,'' ucap Axel.


''Axel tunggu!'' teriak Leon.


Namun Axel melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah sakit tanpa menoleh ke arah Leon yang berteriak kepadanya.


''Oh Shitttt, bogeman Leon sakit juga,'' gumam Axel merintih menahan sakit di perutnya.


Sementara Leon pergi dari halaman rumah sakit dengan rahang yang mengeras menahan emosi yang masih terpendam di dalam hatinya.


''Kamu di mana sih An?'' gumam Leon.


Tingg.


Bunyi pesan di hp milik Leon membuat fokus Leon beralih ke ponselnya.


''Jangan lupa besok, Tuan Leonard Lewis,'' isi pesan tersebut.


''Bang$*tttt, brugg,'' Leon membanting ponselnya dengan keras. Sampai detik ini pun ia belum dapat bukti tentang kehamilan Nois.

__ADS_1


Walaupun ia yakin jika anak itu bukan anaknya, namun ia takut jika Nois benar-benar nekad membunuh anak itu dan menyebarkan gosip jika ia tak mau bertanggung jawab dengan kehamilannya. Ia tak mau citra perusahaan yang selama ini di dirikan oleh orang tuanya hancur seketika.


''Leon berfikirlah. Kemana otak encermu itu,'' gumam Leon menjambak rambutnya dengan kasar.


*


Sementara di lain tempat.


Ana saat ini sudah bekerja di perusahaan milik keluarga Indra. Ia sangat menikmati bekerja di sana. Selain sejenak bisa melupakan masalahnya, ia juga di gaji lumayan besar di perusahaan Indra.


''Pulang kerja kamu mau kemana?'' tanya Nada, teman satu divisi dengan Ana.


''Langsung pulang Mbak, memangnya kenapa?'' tanya Ana.


''Jalan yuk, aku bosen tau pulang kerja langsung ke kos. Kita main-main dulu,'' ajak Nada.


''Em boleh,'' Ana mengangguk menyetujui permintaan Nada.


''Aku ikut,'' ucap Bima ikut nimbrung pembicaraan Nada dan Ana.


''Oke,'' ucap Nada mengiyakan.


Setelah pulang kerja. Ana, Nada dan Bima pergi ke salah satu mall yang berada di kota itu. Ana hanya menemani Nada berbelanja, setelah itu mereka pergi menonton film yang di rekomendasikan oleh Bima.


''Beneran kita mau nonton film horor?'' tanya Nada yang memang takut dengan film yang berbau horor.


''Eng enggak, siapa juga yang takut,'' ucap Nada pura-pura baik-baik saja. Padahal dalam hatinya ingin menolak mentah-mentah .


''Kamu nggak takut kan An?'' tanya Bima dengan lembut.


''Enggak kok Mas,'' ucap Ana sambil tersenyum, padahal dalam hatinya ia juga tak baik-baik saja. Ana tak jauh berbeda dengan Nada yang penakut.


Mereka pun memasuki ruangan bioskop dengan hati yang berdebar-debar.


''Rileks An, Rileks. Hanya film kok,'' batinnya mengelus dadanya dengan pelan.


Ana duduk di sebelah Nada, namun Bima tiba-tiba menyerobot ingin duduk di tengah-tengah mereka.


''Di sini aku yang nggak takut. Kalian bisa bersembunyi di balik tubuhku jika takut,'' ucapnya santai.


''Baiklah,'' ucap Nada mengiyakan.


Film pun di putar, Ana benar-benar gemetar saat mendengar bunyi musik di dalam film itu. Walaupun hantunya belum keluar, namun musiknya membuat bulu kuduk berdiri.


''Ya Tuhan, kapan berakhirnya film ini,'' gumam Ana hanya menundukkan kepalanya. Ia tak berani bersembunyi di balik tubuh Bima, ia lebih baik menundukkan pandangannya. Sementara Nada sudah sejak tadi memeluk lengan Bima karna saking takutnya.


''Kenapa Ana nggak memeluk aku sama seperti Nada ya, padahal aku tadi berharap Ana yang meluk, bukan malah si Nada,'' batinnya melihat Ana malah menundukkan kepalanya.

__ADS_1


''An,'' Bima menepuk pundak Ana sebelah kanan, sementara Bima berada di sebelah kiri.


Seketika Ana menjerit karna kaget, ia membenamkan wajahnya di tubuh Bima.


''Hahaha, sebenarnya ini nih yang aku mau,'' batin Bima tersenyum di dalam hati.


''An, kamu nggak pa-pa kan?'' tanya Bima mengelus pundak Ana dengan pelan.


''Eh, maaf Mas. Ana tadi kaget saja,'' ucap Ana segera menjauhkan tubuhnya dari tubuh Bima.


''Nggak pa-pa kok. Kalau kamu takut, kamu bisa peluk aku seperti tadi,'' ucap Bima.


''Nggak usah modus ya Bim. Ini semua ide gila kamu,'' ucap Nada dengan wajah yang masih membenamkan wajahnya di tubuh Bima.


''Bilang aja kalau kamu seneng peluk-peluk aku kayak gini,'' ucap Bima santai.


''Kalau nggak kepepet mana mungkin aku mau peluk-peluk kamu gini. Enak di kamu, rugi di aku dong,'' ucap Nada dengan nada jengkel.


''Sebenarnya nyaman banget Bim meluk tubuh kamu gini. Aku merasa aman dan nyaman. Aku berharap film nya masih lama berakhirnya,'' batin Nada.


Setelah film berakhir, Bima mentraktir Ana dan Nada makan di restoran mall tersebut. Jelas Nada sangat senang, sementara Ana merasa tak enak hati.


''Pesan aja yang kalian mau,'' ucap Bima sambil memilih-milih makanan kesukaannya.


Nada memilih beberapa makanan dan minuman. Sementara Ana hanya memilih 1 menu makanan dan 1 minuman saja.


''Kamu beneran cuma pesen ini An?'' tanya Bima.


''Iya Mas,'' ucap Ana.


''Kamu pesen lagi gih,'' perintah Bima.


''Udah itu aja Mas. Aku masih kenyang kok. Nanti mubazir jika nggak bisa ngehabisin,'' ucap Ana menolak secara halus.


''Bener tuh kata Ana. Nggak kayak itu tuh,'' Ucap Bima sambil melirik Nada. ''Pesenannya banyak bener, kalau nggak habis, sayangkan uang nya,'' ucap Bima menyindir Nada.


''Kamu nyindir aku?'' tanya Nada dengan melebarkan matanya.


''Enggak, siapa juga yang nyindir,'' ucap Bima mengelak.


Setelah beberapa saat, pesanan mereka telah tersaji di atas meja. Mereka segera menikmati makanan tersebut.


*


Jangan lupa like, coment, vote, fav dan beri hadiah ya bestieee.


Lope you sekebon.

__ADS_1


See you next episode👋


__ADS_2