Pesona Gadis Desa

Pesona Gadis Desa
Bab 38 PGD


__ADS_3


Bang Leonard Lewis lagi kacau mikirin Ana guys๐Ÿ˜



Foto hanya pemanis ya guys๐Ÿ˜ kira-kira seperti itu ya wajah Leonard kalau gambaran si author. CEO muda, tampan dan banyak di gilai wanita.


*


*


Saat Leon duduk di kursi kebesarannya dengan melihat rekaman CCTV beberapa jam yang lalu, telepon yang ada di mejanya berbunyi.


''Hallo,'' ucap Leon.


''Selamat malam Tuan. Maaf saya harus mengatakan kabar yang tidak menyenang Tuan. Tadi siang Nona Lufi kecelakaan, dan sampai saat ini Nona Lufi belum sadar Tuan,'' ucap Dirga dari balik telepon.


''Apa???''


''Maaf Tuan,'' ucap Dirga.


''Siapkan jet pribadiku,'' ucap Leon langsung menutup sambungan teleponnya.


Leon segera berlari keluar dari ruangannya. Ia menggunakan mobilnya pulang ke rumahnya terlebih dulu.


1 jam lebih beberapa menit, Leon telah sampai di Ibu Kota. Di sana sudah ada Dirga yang menjemput Leon. Dirga segera membawa Leon menuju rumah sakit harapan keluarga.


Setelah sampai di halaman rumah sakit, Leon segera turun di susul oleh Dirga. Dirga memberi tau kamar rawat Lufi.


Ceklek.


Pintu di buka dari luar. Ana yang sedang berada di ruangan Lufi pun segera menoleh ke arah sumber suara. Ana mematung melihat siapa yang datang, namun Leon terlihat acuh kepada Ana.


''Lufi, apa yang terjadi kepadamu?'' ucap Leon di dekat Lufi. Namun Lufi masih enggan membuka matanya.


''Sebenarnya apa yang terjadi Dir?'' tanya Leon.


Dirga pun menjelaskan tentang musibah yang di alami adik bosnya itu. Dirga juga menjelaskan jika Lufi tidak sendiri, ia bersama dengan kekasihnya. Dan saat ini kekasih Lufi sedang kritis.


Leon menghembuskan nafasnya kasar. Ia tak bisa menyalahkan sepenuhnya dengan si penabrak karna Lufi juga tak hati-hati dalam menyeberang.


Ana hanya diam, ia tak berani berbicara sepatah kata pun. Rasanya ia ingin sekali mengungkapkan rindu yang selama ini terpaut di hatinya, namun ia tak kuasa mengungkapkannya.


Leon menarik kursi yang ada di samping ranjang Lufi. Kemudian ia duduk di samping ranjang Lufi. Dirga nampak keluar dari ruangan tersebut. Hanya ada mereka bertiga di ruangan itu, hening, tak ada yang berbicara sepatah kata pun. Sebenarnya Leon ingin menoleh ke arah Ana yang sedang berada di sofa belakangnya. Namun ia terlalu sakit hati kepada Ana.


''Ini sudah malam, Silahkan anda pulang! Saya bisa menjaga adik saya sendiri,'' ucap Leon formal. Ia tak menoleh sama sekali. Ia berbicara dengan membelakangi Ana.

__ADS_1


''Tapi aku juga ingin menjaga Lufi Kak,'' ucap Ana.


''Pintu keluar ada di sebelah sana,'' ucap Leon menunjuk pintu.


Ana pun berdiri, ia berjalan menuju pintu. Ana menoleh ke arah Leon, namun Leon nampak tak melihat ke arahnya.


''Apa sebegitu bencinya kamu padaku Kak?'' batin Ana meneteskan air matanya.


Ana keluar dengan isak tangis yang ia bendung sejak di dalam tadi.


''An, kamu kenapa?'' tanya seseorang yang hampir saja di tabrak oleh Ana. Ana mendongakkan kepalanya.


''Aku nggak pa-pa Mas. Aku pamit pulang dulu,'' ucap Ana langsung menghapus air matanya.


''Biar aku antar kamu pulang. Ini sudah hampir tengah malam An,'' ucap Dokter Axel. Ana dan Dokter Axel berjalan beriringan, pada saat bersamaan, Leon keluar dari ruangan tersebut.


''Oh, ternyata kekasihnya juga bekerja di rumah sakit ini. Pantesan dia tak mau pulang,'' ucap Leon menatap Ana dan Dokter Axel sampai menghilang.


*


''Kamu kenapa menangis An?'' tanya Dokter Axel. Saat ini mereka sudah di perjalanan.


''Aku nggak Pa-pa kok Mas,'' kilah Ana.


''Kalau nggak pa-pa kenapa menangis?'' tanyanya.


''Ya ya ya kalau kamu nggak mau bercerita nggak pa-pa An. Sekarang kasih tau aku, dimana tempat tinggalmu,'' ucap Dokter Axel.


''Dari jalan yang waktu itu Mas Axel mau nabrak aku itu nggak jauh Mas,'' ucap Ana.


''Oke, jika nanti sudah dekat bilang sama aku,'' ucap Dokter Axel.


''Iya.''


*


Sementara di ruangan Lufi.


Lufi kali ini mengerjabkan kedua matanya pelan. Leon yang menyadari pergerakan Lufi langsung memanggil dokter yang berjaga.


Dokter dan 2 orang perawat masuk ke dalam ruangan Lufi. Dokter segera memeriksa keadaan Lufi.


''Syukurlah, pasien sudah sadar Pak. Namun jangan terlalu sering di ajak bicara. Biarkan pasien istirahat total ya Pak. Benturan di kepalanya juga cukup keras, jika nanti pasien mengalami keluhan pada kepalanya, bapak bisa segera memanggil kami,'' ucap Dokter. Leon menghembuskan nafasnya lega.


''Kami permisi Pak,'' ucap Dokter tersebut


''Terima kasih Dok,'' ucap Leon.

__ADS_1


Leon mendekat ke arah Lufi yang tengah menatap Leon.


''Lufi syukurlah kamu sudah sadar,'' ucap Leon. Lufi hanya diam dan mengedipkan kedua matanya pelan.


''Apa kamu merasakan sakit? Dimana?'' tanya Leon khawatir.


''I'm fine, don't worry,'' ucap Lufi. ''Tapi kenapa kaki dan tanganku sakit untuk di gerakkan,'' ucap Lufi heran dengan tangan dan kakinya. Rasanya ia susah sekali menggerakkan tangan dan kakinya.


''Tangan dan kakimu cidera Fi. Kamu jangan banyak gerak ya,'' ucap Leon.


''Nino, Nino gimana keadaanya Kak? Nino baik-baik saja kan?'' tanya Lufi.


''I iya, dia baik-baik saja,'' ucap Leon terpaksa berbohong kepada Lufi. Jika Lufi tau Nino sedang kritis, ia tak tau apa yang akan di lakukan Lufi.


''Tapi kenapa dia tidak ada di sini Kak? Apa dia sudah pulang?'' tanya Lufi.


''I iya, Nino sudah pulang. Kakak yang menyuruh dia pulang,'' ucap Leon.


''Maafin Kakak Fi. Kakak harus berbohong demi kebaikanmu. Kakak nggak mau jika kondisimu semakin parah Fi,'' batin Leon.


''Ana dimana Kak? Apa Ana ada di luar? Tolong panggilkan Ana Kak. Aku ingin bertemu dengan Ana,'' ucap Lufi memohon.


''Ana juga pulang Fi. Kakak yang menyuruh mereka pulang. Mereka terlihat lelah menjagamu seharian. Biarkan besok mereka kembali kesini,'' ucap Leon. Lufi pun terdiam membisu saat Leon menyuruh Ana pulang.


''Jangan khawatir, besok mereka pasti kesini. Mending kamu sekarang istirahat. Biar cepat sembuh,'' ucap Leon penuh perhatian.


''Kakak kapan sampai?'' tanya Lufi yang tak mengindahkan ucapan Leon.


''Beberapa jam yang lalu,'' ucapnya.


''Kak telpon Ana dong. Aku mau ketemu sama dia Kak,'' ucap Lufi merengek.


''Ana baru saja pulang Fi. Mungkin saat ini dia baru sampai di kosnya,'' ucap Leon.


''Please Kak. Kali ini aja Kak,'' ucap Lufi.


''Tapi Fi----,''


''Cepatlah Kak. Jemput Ana di kosnya kalau perlu,'' ucap Lufi.


''Tapi Fi,, yang benar saja,'' ucap Leon.


''Ya udah kalau kakak nggak mau. Aku nggak memaksa kok,'' ucap Lufi sedang dalam mode ngambek.


*


*

__ADS_1


Leon sudah kembali ya guys๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜


__ADS_2