Pesona Gadis Desa

Pesona Gadis Desa
Bab 77 PGD


__ADS_3

''Kalian tidak tau apa-apa jadi diamlah!'' pekik Leon menatap orang yang di sana dengan tajam.


Orang-orang yang berkerumun itu terlihat berbisik-bisik. Entah apa yang mereka bicarakan Leon tak ingin mendengar, ia hanya fokus kepada Nois yang ingin melompat dari atas jembatan. Tiba-tiba 2 pria yang bertubuh kekar mendekat ke arah Leon, dan akhirnya Leon di bawa paksa oleh 2 orang itu.


''Lepasin!'' Leon terus meronta ingin di lepaskan namun tenaga Leon tak bisa untuk melawan 2 orang berbadan kekar itu.


''Bawa dia kerumah Pak RT saja,'' ucap Seorang warga.


''Stop stop. Kalian ini kenapa sih, saya bukan ayah dari bayi itu. Harus berapa kali saya bilang!'' ucap Leon yang tengah emosi.


''Lepaskan dia Pak!'' ucap Nois.


''Biarkan saya menanggungnya sendiri. Saya juga tidak butuh tanggung jawabnya untuk menikahi saya,'' ucap Nois lagi.


''Saya harap anda tak akan menyesal di kemudian hari,'' Nois mengambil beberapa lembar kertas yang berada di saku celananya. Lalu di lemparnya ke arah Leon. 1 kertas jatuh berada di depan Leon. Di dalam kertas itu terdapat foto saat ia mencumbu Nois. Matanya melebar, ingin rasanya Leon tak percaya dengan apa yang ada di depannya namun itu semua asli yang ia lihat.


''Nois, foto ini nggak bener kan?'' tanya Leon mengambil foto itu dengan ragu.


''Apa saya punya waktu untuk bercanda?'' tanya Nois kembali. Leon mengambil foto itu satu persatu. Ia melihatnya dengan seksama.


''Enggak! Ini nggak mungkin No,'' ucap Leon. Nois hanya tertawa kecewa dengan ucapan Leon.


''Terserah anda percaya atau tidak. Yang pasti saya tidak pernah membohongi anda. Dan 1 lagi, jangan pernah menyesal!'' ucap Nois. Saat Nois ingin melompat, Leon segera menarik tangan Nois.


''Berikan aku waktu 3 hari untuk mendapatkan bukti jika itu anakku. Jika aku tak bisa menemukan bukti apapun. Aku akan menikahimu,'' ucap Leon sambil memejamkan matanya. Kata yang sengaja di ucapkannya itu akan membuat banyak orang kecewa dengannya jika ia tak bisa menemukan bukti apapun nantinya.


''Semoga bukti itu segera di temukan. Aku harap aku hanya menikahi 1 wanita dalam hidupku,'' batin Leon.


*


Ana sudah terlihat cantik dengan pakaian yang di kenakannya saat ini. Ia segera berangkat menuju kediaman keluarga Lewis. Berulang-ulang kali ia menghembuskan nafas panjangnya.


''Rileks Ana. Jangan gugup, oke,'' ucap Ana menyemangati dirinya sendiri.


Selang beberapa menit, taksi yang di tumpangi Ana telah sampai di depan rumah keluarga Lewis.


Satpam yang berjaga pun langsung membukakan gerbang saat tau yang datang adalah Ana.


''Sore Mang,'' sapa Ana.


''Sore Non, Non Ana lama ya nggak kemari,'' ucap Mang ujang.


''Lumayan Mang. Ana masuk dulu ya,'' pamit Ana meninggalkan Mang ujang.

__ADS_1


Kaki Ana melangkah dengan pelan. Ada rasa kecewa yang masih menggores hatinya, namun ia ingin segera menyelesaikan masalah ini.


Tok tok tok.


Ana mengetuk pintu terlebih dulu. Biasanya ia langsung masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu.


Ceklek.


Pintu di buka dari dalam, menampakkan sosok paruh baya yang membukakan pintu.


''Sore Bi. Mas Leon sama Lufinya ada?'' tanya Ana kepada asisten rumah tangga yang ada di rumah keluarga Lewis.


''Ada Non ada, kenapa nggak langsung masuk aja Non. Biasanya juga langsung masuk,'' ucap Bibi Niken. Ana hanya tersenyum ke arah Bi Niken tanpa menjawab ucapan Bi Niken.


''Tuan ada di kamarnya Non. Baru saja pulang,'' ucap Bi Niken.


''Ya udah aku ke atas dulu ya Bi,'' pamit Ana.


Ana berjalan perlahan menaiki anak tangga. Sesampainya di lantai atas, ia segera menuju kamar milik Leon.


''Kamu pasti bisa An,'' gumam Ana menghembuskan nafas panjangnya.


Tok tok tok.


Tok tok tok.


Ceklek.


''Ana,'' gumamnya pelan. Ana hanya bersikap datar, tak ada senyum sedikitpun di wajahnya.


Greb.


Leon langsung memeluk Ana yang masih diam mematung. Ana juga tak membalas pelukan dari Leon.


''Sayang, maafin aku. Kamu kemana aja sih?'' tanya Leon.


''Sayang, kenapa kamu diam saja. Masuk yuk, aku kangen banget sama kamu,'' ucap Leon merangkul pundak Ana lalu mengajaknya masuk ke dalam kamarnya. Ana tak menolak, ia menurut begitu saja saat Leon mengajaknya masuk ke dalam kamar.


Ana memilih duduk di sofa saat Leon mengajaknya duduk di atas ranjang.


''Sayang, kenapa diem aja sih. Kamu nggak kangen apa sama aku?'' tanya Leon.


''Aku kesini nggak ingin basa basi sama Mas Leon. Aku hanya ingin mendengar penjelasan dari Mas,'' ucap Ana dengan wajah datarnya.

__ADS_1


''Oke, Mas akan jelasin semua. Tapi kamu harus percaya sama Mas, An,'' ucap Leon.


Leon pun menceritakan peristiwa saat berada di LN. Saat ia merasa sakit hati kepada Ana dan sampai akhirnya ia mabuk dan tak ingat apapun.


''Bagaimana jika itu memang benar-benar anak Mas Leon?'' tanya Ana.


''Itu nggak mungkin An!'' ucap Leon.


''Kenapa nggak mungkin. Bukankah kalian sudah melakukannya,'' ucap Ana tegas.


''Aku nggak melakukannya An. Aku aku---''


''Udahlah Mas. Apa artinya hubungan kita selama ini jika di belakangku kamu punya wanita lain Mas,'' ucap Ana menahan sesak di dalam dadanya.


''Dia bukan wanitaku An. Aku berani bersumpah,'' ucap Leon meyakinkan Ana.


''Beri aku waktu 3 hari, aku akan menemukan bukti itu,'' ucap Leon mantap.


''Jika bukti itu tidak di temukan juga bagaimana?'' tanya Ana.


''Aku aku---''


''Bagaimana!'' pekik Ana yang sudah tak bisa mengontrol emosinya.


''A aaku akan menikahinya,'' Leon berucap dengan pelan dan menunduk. Pasti ini sangat menyakitkan untuk Ana, namun Leon tak punya pilihan lain.


''Hah,'' air mata Ana tiba-tiba mengalir begitu saja di pipinya.


''Katamu dia bukan anakmu. Untuk apa kamu bertanggung jawab kepada anak itu?'' tanya Ana dengan pelan dan menatap ruangan itu dengan tatapan kosong.


''Aku kasihan An dengan anak yang di kandungnya. Dia anak yang tidak berdosa. Dan dengan mudahnya Nois ingin membunuh anak itu jika aku tak bertanggung jawab,'' ucap Leon.


''Oke, itu berarti hubungan kita sampai sini saja kan Mas,'' ucap Ana menahan air matanya agar tak jatuh kembali.


''Enggak An! Jika memang aku tak mempunyai bukti untuk membuktikan jika itu bukan anakku. Setelah anak itu lahir, aku akan menceraikan dia dan kita bisa menikah An,'' ucap Leon enteng.


''Apa? Apakah menurutmu pernikahan itu hanyalah mainan?'' tanya Ana tak habis fikir dengan ucapan Leon.


''Aku tidak memainkan sebuah pernikahan. Aku hanya mencintaimu, bukan dirinya,'' ucap Leon menggenggam tangan Ana. Namun Ana segera melepaskan.


''Maaf Mas. Jika nantinya kamu akan menikah dengannya. Aku tidak ingin menjadi orang ketiga di antara kalian. Aku ingin kita akhiri saja hubungan ini,'' ucap Ana menahan sesak yang ada di dalam dadanya.


*

__ADS_1


*


__ADS_2