
''Enggak An, aku nggak mau,'' tolak Leon.
''Jangan serakah Mas. Biarkan aku memulai kehidupan yang baru tanpa dirimu,'' ucap Ana berdiri dari duduknya.
''Dan 1 lagi. Jangan pernah menyalahkan orang lain dengan berakhirnya hubungan ini. Apalagi sampai membuat Mas Axel babak belur seperti tadi,'' ucap Ana melangkah meninggalkan Leon.
''Jadi kamu belain dia?'' tanya Leon.
''Aku nggak membela siapapun. Di sini Mas Axel nggak bersalah. Aku yang memintanya membawaku pergi dari apartemen wanitamu itu,'' ucap Ana.
''Oh ya? Jangan-jangan kalian mempunyai hubungan spesial di belakangku,'' ucap Leon mendekat ke arah Ana.
''Jangan membalikkan fakta menjadi opini. Kamu lupa di sini yang salah siapa?'' tanya Ana menatap tajam ke arah Leon.
''Tapi kenapa kamu lebih membelanya!'' sentak Leon. Jujur Ana kaget dengan perkataan Leon barusan, namun ia segera menetralkan jantungnya yang ingin lepas dari tempatnya.
''Aku tidak membelanya, aku hanya tidak ingin menjadikan orang lain korban dari retaknya hubungan kita,'' ucap Ana dengan nada tak kalah tinggi.
''Aku tak percaya dengan alasan mu itu!'' ucap Leon.
''Aku tidak memintamu untuk percaya. Aku hanya berbicara apa adanya Tuan Leonard,'' ucap Ana menekan akhir kalimatnya. Ana ingin melangkahkan kakinya keluar, namun Leon segera menahannya.
''Kamu mau kemana?'' tanya Leon menahan tangan Ana. Namun Ana segera menepisnya.
''Jangan pernah sentuh aku dengan tangan kotormu itu!'' pekik Ana.
''An, aku minta maaf An,'' ucap Leon dengan memohon.
''An, aku nggak mau hubungan kita berakhir seperti ini An. Aku ingin kita terus bersama,'' ucap Leon.
''Kamu kira aku wanita bodoh, ha? Masih banyak di luaran sana lelaki yang baik dan setia. Tidak seperti dirimu,'' ucap Ana menatap tajam ke arah Leon.
''Kamu lupa jika kamu hanya milikku. Bahkan aku sudah mencicipi seluruh tubuhmu. Apa kau yakin di luaran sana ada lelaki lain yang masih mau denganmu?'' tanya Leon tersenyum jahat.
''Kamu jahat Leon, kamu jahat!'' Ana memukul dada bidang Leon. Air matanya kini sudah tak bisa ia bendung lagi. Hatinya terasa sesak menerima kenyataan yang ada di depan matanya. Bahkan kini orang yang paling di cintainya pun ingin bersanding dengan orang lain.
''Aku tidak jahat An. Aku hanya mencintaimu,'' ucap Leon. Ana hanya menatap Leon dengan tatapan kecewa dan dengan air mata yang terus mengalir di pipinya, tatapan itu membuat hati Leon semakin teriris.
''Aku ikhlas melepasmu bersamanya. Biarkan saat ini aku pergi dari sisimu,'' ucap Ana menatap depan dengan tatapan kosongnya.
__ADS_1
''Enggak! Sampai kapan pun aku nggak akan biarkan kamu pergi An,'' ucap Leon.
''Apa sih sebenarnya maumu!'' bentak Ana.
''Aku cinta sama kamu An,'' ucap Leon.
''Makan tuh cinta. Mulai saat ini aku nggak percaya lagi dengan kata-kata cinta yang keluar dari mulutmu itu,'' ucap Ana berjalan meninggalkan Leon.
''An, An tunggu An!'' Leon mengejar Ana yang keluar dari kamarnya. Ia segera meraih tangan Ana agar Ana menghentikan langkahnya.
Ana hanya membuang nafasnya dengan kasar. ''Lepaskan!'' ucap Ana melepaskan tangan Leon dengan kasar. Entah sejak kapan ia berubah menjadi kasar seperti ini. Biasanya Ana selalu tampil lemah lembut. Namun seiring berjalannya waktu dan Leon telah menggores luka begitu dalam di hatinya, Ana mulai bersikap kasar dan tak peduli.
''Ana tunggu An!'' ucap Leon mengejar Ana menuruni anak tangga. Lufi yang mendengar keributan di luar segera keluar dari kamarnya.
''Ana, Kak Leon,'' gumam Lufi saat melihat Leon tengah mengejar Ana. Lufi pun segera turun menyusul mereka berdua.
''Ana!'' panggil Lufi. Ana berhenti sejenak, ia menoleh ke belakang, lalu melanjutkan langkahnya kembali.
''Ana, tunggu!'' Lufi pun berlari mengejar Ana yang sudah hampir sampai di dekat gerbang.
''An, aku kangen banget sama kamu,'' ujar Lufi, kemudian ia memeluk tubuh Ana dengan erat. Ana pun membalas pelukan Lufi tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
''Aku juga kangen sama kamu Fi. Tapi aku harus pergi sekarang,'' ucap Ana.
''Kemana? Biar aku antar,'' ucap Lufi.
''Nggak usah Fi, aku udah pesen ojek kok,'' ucap Ana berusaha tersenyum di depan Lufi. Sementara Leon hanya menyimak pembicaraan mereka berdua.
Tringg tringg tringg.
Bunyi ponsel Leon membuat Ana dan Lufi menatap ke arahnya. Leon mengambil ponsel yang ada di dalam sakunya. Namun setelah ia melihat nama yang tertera di hpnya, Leon segera menggeser tombol warna merah dan memasukkan kembali ke dalam sakunya.
Ana yang melihat hanya tersenyum kecewa kepada Leon. Ia tau siapa yang baru saja menelpon Leon.
''Fi, aku harus pergi. Ojek yang aku pesan sudah sampai,'' ucap Ana melihat kang ojol yang sudah menunggu ia di depan gerbang.
''Hati-hati An, jangan lupa hubungi aku jika sudah sampai,'' ucap Lufi setengah berteriak karna Ana sudah sedikit jauh darinya.
Ana pun pergi menggunakan ojek online yang ia pesan. Leon hanya menyaksikan kepergian Ana. ingin sekali Leon mengejar Ana, namun Leon juga tau jika Ana butuh waktu untuk menyendiri.
__ADS_1
''Aku mencintaimu An, sungguh mencintaimu. Aku tidak pernah menghianati cinta kita An,'' batinnya.
''Kak! Kenapa Ana pergi begitu saja. Kenapa Kakak nggak mengantarkan Ana pergi?'' tanya Lufi.
Leon tak menjawab, ia masuk ke dalam rumahnya dengan perasaan kacau.
Tringg tringg tringg.
Ponsel Leon pun kembali berdering. Leon mengambil ponselnya dengan malas.
''Apalagi?'' sentak Leon mengangkat ponselnya tanpa melihat nama si penelpon.
''Halo Tuan, ini saya Kenzo. Saya mendapat informasi tentang keluarga Nona Nois Tuan. Nona Nois hanya mempunyai Kakak laki-laki, kedua orang tuanya sudah lama meninggal. Dan Kakak Laki-lakinya saat ini berada di kota M,'' ucap si penelpon.
''Cari Kakaknya sampai ketemu. Jika sudah, bawa dia ke Jakarta!'' perintah Leon.
''Baik Tuan,'' ucap Kenzo.
Leon segera menekan tombol berwarna merah. Kemudian ia kembali ke kamarnya.
''Aku harus mencari bukti lain,'' gumamnya.
Seketika terlintas di otaknya untuk melakukan tes DNA dengan bayi yang ada di perut Nois. Ia pun tertawa jahat di dalam hatinya.
''Aku akan mendapatkan bukti itu Nois, tunggu saja,'' batinnya.
*
Sementara di tempat lain.
Ana saat ini tengah berada di cafetaria, tempat ia bekerja dulu. Ia sudah membulatkan tekadnya untuk resign dari perusahaan Lewis Corp. Mana mungkin hatinya bisa tabah, jika setiap hari selalu bertemu dengan Leon. Sementara hubungannya saat ini dengan Leon sudah berakhir.
''Kak, beri aku pekerjaan lagi, please,'' ucap Ana memohon.
Kevin hanya menghembuskan nafasnya kasar. ''Apa di perusahaan Lewis Corp gajinya sedikit, sampai-sampai kamu kembali kesini,'' ejek Kevin.
*
Jangan lupa like, coment, fav, vote, rate dan beri hadiahh๐๐๐๐
__ADS_1