
''Mas Axel?'' gumam Ana saat melihat orang yang ingin membayar belanjaannya ternyata Axel.
''Hai An, gimana kabarnya. Aku senang sekali bisa bertemu lagi denganmu,'' ucap Axel tengah tersenyum ke arah Ana.
''Ka kabarku baik Mas,'' ucap Ana pelan.
''Ini Mbak pakai kartu saya saja untuk membayar semua belanjaan teman saya ini,'' Axel menyerahkan kartu kreditnya kepada penjaga kasir.
''Jangan Mas!'' tolak Ana.
''Nggak pa-pa An. Jangan nolak ya,'' ucap Axel tetap memaksa. Axel tau jika Ana tak punya uang sebanyak itu untuk membayar.
''Setelah ini aku janji akan menggantinya Mas,'' ucap Ana.
''Nggak usah. Aku seneng bisa bayarin belanjaan kamu,'' ucap Axel.
''Jangan Mas, ini terlalu banyak. Pokoknya aku masih punya hutang sama Mas Axel,'' Ana merasa tak enak hati kepada Axel karna pada akhirnya Axel lah yang membayar belanjaan Ana.
''Oke, nanti sebagai gantinya kamu mau kan makan siang denganku lain hari,'' Axel pun mengedipkan matanya ke arah Ana. Ana hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
''I iya Mas.''
''Mas Axel baik banget sama aku. Aku nggak tau harus dengan apa aku membalasnya,'' batin Ana.
Setelah barang belanjaan terbayar, Ana mencari orang tuanya yang menunggunya di luar. Ana berjalan beriringan dengan Axel, kadang mereka juga tertawa bersama.
''An siapa ini?'' tanya Ibu Siti yang melihat Ana tak sendiri.
''Kenalin Bu Pak, Ini Dokter Axel, teman Ana,'' ucap Ana memperkenalkan Axel kepada Ibu dan Bapaknya.
''Selamat malam Bu Pak, saya Axel,'' Axel pun mengenalkan dirinya kepada Bapak dan Ibu Ana.
''Saya Ibu Siti, Ibunya Ana. Dan ini Pak Husein Bapaknya Ana,'' ucap Ibu Siti.
''Jadi kamu kesini dengan Ibu dan Bapakmu?'' tanya Axel.
''I iya Mas,'' ucap Ana.
''Ana benar-benar beruntung di kelilingi oleh orang-orang yang sukses dan tampan seperti mereka. Akhh rasanya aku ingin kembali muda lagi,'' batin Ibu Siti tengah tersenyum.
''Aku tau Ibu saat ini sedang berandai-andai. Ingat Bu, umur udah tua,'' bisik Bapak di dekat telinga Ibu Siti.
__ADS_1
''Bapak apaan sih,'' ucap Ibu dengan kesal.
Leon yang baru saja mengakhiri teleponnya pun bergegas mendekat ke toko tadi.
''Ana kok udah keluar? Dan orang itu sepertinya aku kenal,'' gumam Leon mempercepat jalannya untuk mendekat ke arah Ana.
''Udah belanjanya?'' tanya Leon yang baru saja kembali.
''Udah!'' jawab Ana ketus.
''Ya udah ayo kita bayar,'' Leon menggandeng tangan Ana untuk masuk lagi ke dalam toko.
''Belanjaannya udah di bayar sama Mas Axel. Kak Leon nggak usah khawatir,'' ucap Ana sambil melepaskan pegangan tangan Leon yang ada di tangannya.
''Di bayar Axel?'' tanya Leon memastikan.
''Hem,'' Ana hanya berdehem karna terlalu kesal dengan Leon.
''Berapa nomor rekeningmu, biar aku transfer sekarang,'' ucap Leon mengeluarkan ponsel miliknya.
''Nggak usah! Aku nggak butuh. Aku ikhlas kok membantu Ana,'' ucap Axel sambil merangkul pundak Ana. Leon pun langsung mengeraskan rahangnya.
''Terima kasih Nak Axel. Semoga Tuhan selalu membalas kebaikanmu,'' ucap Ibu Siti.
''Oh iya, habis ini mau kemana? Biar saya antar,'' ucap Axel.
''Nggak usah!! Mereka pergi denganku, sudah seharusnya mereka pulang denganku juga. Dan jangan pernah urusi urusan orang lain,'' ucap Leon menatap tajam mata Axel.
''Santai Brother, aku hanya ingin mengantarkan mereka kok. Nggak usah sewot gitu lah. Kamu kan hanya Kakak sahabatnya Ana, kenapa kamu jadi sensi gini sama aku,'' ucap Axel santai.
''Udah-udah. Kita pulang sekarang!! Mas Axel makasih ya, nanti kabari aku kalau mau ngajakin makan siang,'' ucap Ana menarik tangan Ibu dan Bapaknya turun dari lantai 2.
''Sama-sama, hati-hati An,'' teriak Axel yang saat ini Ana sudah menjauh darinya.
''Jangan pernah dekati Ana lagi, Ana hanya milikku!! Dan sampai kapanpun dia tetap milikku!!'' ucap Leon dengan sorot mata tajam dan tangan yang terkepal erat.
''Bukankah sebelum janur kuning melengkung masih bisa di tikung?'' ucap Axel tersenyum licik sambil menepuk pundak Leon dengan kasar dan pergi dari hadapan Leon.
''Dasar bren*sekkk!!'' ucap Leon penuh emosi. Leon segera menyusul Ana dan keluarganya ke lantai dasar.
Sesampainya di rumah, Ana hanya diam seribu bahasa, ia mengantar orang tuanya ke kamar dan ia segera menuju kamar miliknya sendiri.
__ADS_1
''An, Ana tunggu An!!'' ucap Leon yang tengah mengejar Ana menaiki anak tangga. Ana terus melangkah, ia masih enggan untuk menoleh ke belakang.
''Anaaa tunggu!!'' Leon menarik tangan Ana saat mereka sudah sampai di lantai atas. Ana pun segera menepis tangan Leon.
''An kamu kenapa sih? Sejak bertemu dengan lelaki tadi kamu begitu ketus sama aku,'' ucap Leon.
''Aku lelah, aku ingin istirahat,'' Ana meninggalkan Leon yang masih diam di tempatnya. Ia segera masuk ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam.
''Anaaa,, jangan buat aku marah An,'' Leon mengepalkan tangannya, ia marah, kecewa kepada Ana. Sikap Ana tiba-tiba berubah ketus setelah bertemu dengan musuhnya saat-saat masa remaja.
Tok tok tok.
''An, buka pintunya atau aku dobrak?'' ucap Leon terus mengetuk pintu kamar Ana.
''Aku lelah Mas, aku ingin istirahat,'' ucap Ana terdengar dari luar kamar.
''Buka pintunya atau aku bilang ke Ibu dan Bapak jika kita sudah melakukan hal yang terlarang!'' ancam Leon.
''Mas Leon apa-apaan sih. Dia mau bilang apa coba sama Ibu dan Bapak. Udah nggak waras kali ya,'' gumam Ana semakin kesal kepada Leon.
Ceklek.
Pintu pun di buka oleh Ana, Ana melihat sorot mata tajam dan wajah yang memerah menahan amarah ada pada diri Leon.
''Mas Leon mau bilang apa sama Bapak dan Ibu ha? Mas Leon mau ngancam aku, gitu?'' ucap Ana yang tak kalah kesal.
''Aku nggak ngancam An. Aku akan bilang sama Bapak dan Ibu kalau kita hampir setiap malam tidur bareng, dan aku sudah melihat setiap inchi tubuh kamu,'' ucap Leon enteng.
''Mas Leon udah nggak waras ya!'' Ana masuk ke dalam kamarnya lagi, saat ia akan menutup pintu kamarnya, kaki Leon menghadang di tengah pintu, alhasil Ana tak bisa menutup pintunya.
''Kita belum selesai bicara An,'' ucap Leon tak terima di tinggal begitu saja oleh Ana.
''Apalagi sih Mas. Ini udah malam, aku juga lelah mau istirahat,'' ucap Ana.
''Kenapa kamu ngejauhin aku kayak gini sih An? Kalau aku salah aku minta maaf, tapi jangan cuekin aku kayak gini dong!'' ucap Leon.
''Aku nggak cuekin Mas Leon, aku hanya kecewa aja,'' ucap Ana yang membendung air matanya agar tak keluar. Hari ini benar-benar membuat emosinya meletup letup.
''Kecewa? Kecewa kenapa?'' tanya Leon yang tak sadar diri dengan kesalahan yang ia buat.
*
__ADS_1
*
Gemes nggak sih sama Leon. Pengen gue ulek-ulek jadi sambel tau nggak๐๐๐