
''Hah, Mas Leon masih tanya kenapa?'' Ana tersenyum sinis kearah Leon.
''An jelasin semuanya,'' Leon pun memohon kepada Ana.
''Ini udah malam Mas. Seharusnya Mas Leon ngerti tanpa harus aku ngejelasin,'' ucap Ana ketus.
''Annnn, oke Mas minta maaf kalau Mas salah. Jangan gini dong sayang,'' Leon ingin meraih tangan Ana, namun Ana segera menghindar.
Ana hanya menghembuskan nafasnya kasar, lalu ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Leon pun ikut masuk ke dalam kamar Ana, ia mengingat-ingat kesalahan yang ia buat tadi sampai akhirnya Ana marah dengannya.
Ana keluar dengan wajah yang sudah segar, Ana berjalan melewati Leon begitu saja.
''An, aku minta maaf, aku tau kenapa kamu marah denganku. Tadi saat di mall, aku angkat telpon dari Dirga, Dirga ingin membahas proyek baru kita yang ada di Surabaya. Maaf, seharusnya aku yang bayar belanjaan kamu, bukan malah orang lain,'' ucap Leon.
''Hem,'' Ana hanya berdehem, lalu ia menuju tempat tidur, menyelimuti tubuhnya lalu memejamkan matanya.
''Annn,'' rengek Leon.
''Aku ingin istirahat Mas, silahkan Mas Leon pergi dari kamar Ana,'' usir Ana.
Leon memejamkan matanya sejenak, lalu menghembuskan nafasnya kasar. Mau tak mau ia harus pergi dari kamar Ana daripada Ana bertambah kesal dengannya.
Sampai di dalam kamar, Leon segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tanpa melepas sepatu atau jaket yang ia kenakan tadi. Rasanya separuh jiwanya hilang jika Ana sudah marah seperti ini dengannya.
Leon pun teringat akan ucapan Axel saat berada di mall tadi. ''Sebelum janur kuning melengkung masih bisa di tikung'' membuat Leon takut jika ia harus kehilangan Ana. Apalagi saat ini Ana bersikap sangat dingin kepadanya.
''Akhhhhh, cukup waktu dulu aku selalu kalah denganmu Axel. Kali ini nggak akan aku biarkan kamu merebut apa yang aku punya,'' ucap Leon penuh amarah.
__ADS_1
Semalaman suntuk Leon tak bisa tidur, ia hanya bisa membolak balikkan tubuhnya karna rasanya ada yang kurang saat tidur tak ada seseorang yang bisa ia peluk di sampingnya.
Jam menunjukkan pukul 04.00 pagi, Namun lagi-lagi mata Leon tak bisa terpejam. Ingin rasanya ia berlari ke kamar Ana dan memeluk Ana dengan erat. Namun apalah dayanya, yang ada nanti ia malah terkena timpuk oleh Ana.
Pukul 04.00 Ana sudah bangun dari tidurnya, ia segera pergi ke kamar mandi dan setelah itu menunaikan ibadan sholat subuh.
*
Jadwal Ana setiap pagi adalah membuat sarapan untuk penghuni rumah itu. Saat ini Ana sudah berkutat di dapur di bantu oleh Ibu Siti.
''Pagi ini Ibu harus kembali ke Desa Nak, Ibu dan Bapak nggak bisa lama-lama meninggalkan ladang. Kamu nggak pa-pa kan Ibu pulang hari ini,'' ucap Ibu Siti.
''Iya nggak pa-pa kok Bu, yang penting Ibu dan Bapak hati-hati. Maaf kalau Ana nggak bisa antar, Ana harus bimbingan pagi ini Bu. Nanti Ana pesankan taksi buat antar Ibu dan Bapak ke terminal ya,'' ucap Ana berusaha tegar. Sebenarnya di dalam hatinya ia tak mau di tinggal oleh kedua orang tuanya. Namun ladangnya tak bisa di tinggal lama-lama.
''Iyaa Nak,'' ucap Ibu.
''Masa Nak Leon sudah berangkat Nak, ini masih terlalu pagi lo,'' ucap Bapak.
''Kak Leon berangkatnya nggak pasti Pak. Tadi Lufi udah ke kamarnya, namun kamarnya di kunci, pasti kak Leon sudah berangkat,'' ujar Lufi.
''Padahal Ibu dan Bapak mau pamitan sama Nak Leon, hari ini kami mau pulang ke desa Nak,'' ucap Ibu Siti.
''Lhoh kenapa buru-buru sekali Bu,'' ucap Lufi kaget dengan perkataan Ibu.
''Kami nggak bisa lama-lama di sini. Maaf kalau Ibu dan Bapak disini hanya merepotkan Nak Lufi dan Nak Leon,'' ucap Bapak.
''Kami nggak merasa di repotkan Bu, Pak. Kami malah senang dengan datangnya Ibu dan Bapak. Rumah Ini terasa ramai lagi. Setelah orang tua kami tiada, rumah ini menjadi sepi dan sunyi Bu. Yang tinggal di sini hanya ada aku dan Kak Leon sebelum Ana ada di sini. Para ART ada di rumah belakang, Kami merasa kesepian Bu,'' ujar Lufi sedih.
''Aku seneng ada Ibu dan Bapak disini, kami seperti mempunyai keluarga yang utuh lagi Bu,'' sambung Lufi lagi.
__ADS_1
''Nak Lufi yang sabar ya, kami menganggap Nak Lufi dan Nak Leon sudah seperti anak kami sendiri. Kalian boleh kapan saja berkunjung ke desa kalau mau. Pintu rumah terbuka lebar untuk kalian,'' ucap Bapak Husein.
''Terima kasih Pak, Bu,'' ucap Lufi.
''Justru kami yang harusnya berterima kasih kepada Nak Lufi dan Nak Leon karna sudah baik sekali dengan Ana. Ana dari dulu tak mempunyai teman banyak, tapi setelah di kota, Ana di kelilingi oleh orang-orang baik seperti kalian,'' ucap Ibu Siti.
''Ana gadis yang baik Bu, di sini banyak lelaki yang mengincar Ana karna kecantikan dan baik hatinya,'' ucap Lufi. ''Apalagi Kakakku, dia malah sudah jadi budak cintanya Ana Bu,'' batin Lufi yang hanya bisa membatin.
''Oh ya? Secantik itukah anak Ibu?'' tanya Ibu Siti menatap Ana.
''Apaan sih kamu Fi. Selalu berlebihan,'' ucap Ana.
Setelah makan, Ana membantu Ibu dan Bapaknya packing barang-barang yang akan di bawanya pulang. Ana juga memesan taksi untuk mengantarkan Ibu dan Bapaknya.
''Terima kasih Nak, sampaikan terima kasih Ibu dan Bapak kepada Nak Leon ya,'' ucap Ibu. Ana dan Lufi mengantar Ibu Siti dan Pak Husein ke depan pintu gerbang.
''Akan aku sampaikan Bu, hati-hati ya. Kapan-kapan main ke sini lagi ya Pak, Bu. Lufi sangat senang Ibu dan Bapak mau main ke sini lagi,'' ujar Lufi memeluk Ibu Siti dan Pak Husein secara bergantian. Ana pun juga memeluk Ibu dan Bapaknya dengan menahan air matanya agar tak jatuh.
''Iya Nak, Ibu dan Bapak pasti akan main ke sini lagi. Doakan Ibu dan Bapak selalu sehat ya. Ya sudah kami pulang dulu, jaga diri kalian baik-baik. Assalamualaikum,'' ucap Ibu langsung masuk ke dalam taksi dan di susul Bapak setelahnya.
''Walaikumsalam,'' mereka berdua melambaikan tangan saat taksi yang membawa Ibu Siti dan Pak Husein melaju meninggalkan mereka.
Air mata Ana jatuh mengalir di pipinya. Ada rasa tak rela berpisah lagi dengan orang tuanya.
''Udah jangan nangis. Katanya mau bahagiain Ibu dan Bapak, kok malah nangis. Harusnya semangat dong, biar skripsinya cepet lulus dan cepet wisuda, setelah itu cari kerja di perusahaan besar dan bisa membuat bangga kedua orang tua,'' ujar Lufi menenangkan Ana.
''Iya Fi,'' ucap Ana masih terisak di pelukan Lufi.
*
__ADS_1