
Sudah beberapa hari Sintya kembali bekerja seperti biasa nya, dia bekerja di salah satu cafe terbesar di Jakarta. Sebagai pelayan cafe yang cantik, Sintya banyak di datangi oleh pria pria tampan yang sengaja ingin melihat senyuman nya.
Selama itu masih wajar, Sintya tidak mempermasalahkan hal itu dan tidak membuat nya merasa terganggu.
Hari ini adalah hari Minggu, namun tidak menunjukkan tanda bahwa pengunjung cafe akan sepi. Akan tetapi pengunjung cafe bahkan semakin ramai dikunjungi walaupun hari Minggu.
"Ramai banget ya sin, tumben seramai ini." Ucap Leni yang di balas acuh oleh Sintya.
"Biasanya juga ramai Len." Sintya berlalu meninggalkan gadis itu yang terlihat kebingungan.
"Sin... Tunggu aku, aku juga mau kebelakang." Leni berusaha mengimbangi langkah kaki Sintya yang terlalu cepat.
"Kamu mau ngapain Len, kok ngikutin aku terus sih." Tanya Sintya penasaran karena melihat sahabat nya itu mengekori nya dari belakang.
"Ya bantuin kamu lah Sin, mau ngapain lagi coba. Mau pacaran gitu?" Jawab Leni kesal.
"Kan lagi banyak pelanggan, kamu di depan aja dulu. Mana tau banyak yang pesan, nanti bos kewalahan sendiri menghadapi pelanggan." Sintya memberikan penjelasan kepada sahabat nya itu.
"Kamu aja yang di depan Sin, aku bantu bantu di belakang sebentar. Kan kamu cantik dan menarik." Jawab Leni sambil tersenyum.
"Kamu ini ada ada aja deh Len, kamu juga cantik kok kenapa harus aku juga." Sintya mulai kesal.
Dia akhirnya mengalah dan langsung menuju ke arah depan dekat meja kasir. Kalau Leni diladeni masalah bukan nya berakhir malah akan tambah panjang, pikir nya.
Sebuah mobil mewah milik seorang pria tampan berhenti tepat di depan cafe tempat Sintya dan Leni bekerja.
Pria itu tampak langsung turun dari mobil sambil tersenyum dan langsung menuju meja nomor satu, meja yang paling dekat dengan meja kasir.
__ADS_1
Sintya tidak menyadari kedatangan pria itu, dia terlihat sangat sibuk. Entah apa yang sedang di kerjakan oleh nya, sambil sesekali menyibakkan rambutnya ke belakang telinga.
Pria itu hanya bisa tersenyum melihat pemandangan yang paling langka itu. Melihat kecantikan wanita yang dicintainya dari dekat.
Setelah beberapa lama menikmati indahnya ciptaan Allah yang ada di hadapannya itu, dia akhirnya memilih memesan makanan karena kebetulan perut nya juga sudah mulai lapar.
Dia sengaja tidak makan di rumah karena ingin makan di cafe tempat Sintya bekerja. Sambil melepas rasa rindu yang sudah lama ia pendam selama ini.
"Permisi mbak, mau pesan makanan dong.. " Ucap Gilang kepada Sintya.
"Silahkan di pesan." Sintya meletakkan buku menu di atas meja itu tanpa melihat siapa orang yang duduk di sana. Dia terlihat sangat sibuk sehingga tidak menyadari kehadiran Gilang di dekat nya.
Ketika Sintya ingin meninggalkan tempat itu, tiba tiba tangan nya di tarik oleh seseorang. Kejadian itu membuat Sintya merasa sangat kaget sekaligus agak takut.
Dia kembali teringat kejadian beberapa waktu yang lalu. Akhirnya dia memberanikan diri untuk melihat kearah orang itu.
"Gi..Gilang.. Kamu." Sintya tampak kebingungan.
"Kenapa Sin, kamu kaget yah. Maaf ya udah buat kamu kaget. " Gilang melepas kan tangan Sintya dan meminta maaf sambil tersenyum.
" Oh gak papa kok lang, aku aku hanya kaget aja. Kirain siapa tadi, ternyata kamu." Sintya ikut tersenyum.
Dia merasa sangat senang karena kehadiran orang yang selama ini disukai nya, sekarang berada di dekat nya.
"Sekali lagi maaf ya Sin udah bikin kamu kaget." Gilang merasa bersalah kepada Sintya.
"Gak papa kok lang, udah lah santai aja. Oh iya aku sampai lupa kamu mau pesan apa tadi." Tanya Sintya kemudian.
__ADS_1
"Aku pesan nasi goreng spesial dan minuman nya.... " Belum sampai Gilang menyebutkan minuman nya apa, Sintya sudah memotong terlebih dahulu.
"Juz alpukat dingin.." Mereka berdua saling pandang. Tersirat rasa rindu yang mendalam di mata mereka berdua.
Pandangan nya kali ini begitu dalam dan penuh cinta. Mereka yang terpisah selama bertahun tahun akhirnya bertemu kembali.
Tak lama kemudian akhirnya mereka sadar dan langsung tertawa bersama. "Hahaha.."
"Kamu tunggu ya Lang, aku buatin dulu.. Bentar doang kok." Sambil tersenyum Sintya pun meninggal tempat itu menuju ke arah dapur, dia akan menyiapkan makanan pesanan Gilang.
Beberapa saat kemudian, akhirnya Sintya terlihat dengan membawa nasi goreng spesial dan minuman nya juz alpukat kesukaan Gilang.
"Silahkan dinikmati tuan, pasti ketagihan dan ingin kembali ke sini lagi." Canda Sintya.
"Terima kasih tuan putri." Gilang pun membalas candaan Sintya.
Sintya hanya tersenyum menanggapi perkataan Gilang.
Dalam hati Gilang berkata, " Senyum mu begitu manis Sintya Bella, dari dulu sampai sekarang senyum itu tidak pernah berubah. Tetap saja manis, itu lah yang membuat aku tertarik pada mu. Kapan senyum itu akan menjadi milik ku, seperti tidak ada beban dalam hidup nya."
"Kamu kenapa Lang." Sintya tiba tiba mengagetkan lamunan Gilang.
"Gak papa kok Sin, mau ngobrol atau aku makan sekarang." Tanya Gilang kemudian.
"Hehe... Silahkan dinikmati, aku kebelakang dulu." Sintya terkekeh, kemudian dia memilih langsung meninggalkan tempat itu menuju dapur.
Dia hanya bisa memperhatikan gerakan Gilang dari kejauhan, dia merasa sangat malu kalau harus mengakui bahwa dirinya merindukan sosok Gilang di dalam hidup nya kembali.
__ADS_1
Dalam hati pun Sintya berkata, "Andai saja Gilang tau tentang rasa yang ku pendam selama ini. Rasa cinta dan sayang yang selalu ku jaga untuk nya, mungkin kah dia akan membalas rasa ini." Tanpa sadar air mata nya pun menetes.