Pesona Gadis Desa

Pesona Gadis Desa
Bab 52 PGD


__ADS_3

Setelah acara wisuda selesai, Ana dan yang lainnya bersua foto di halaman kampus, mereka nampak foto bersama-sama. Ana dan Lufi di tengah, dan di samping mereka cowok-cowok tampan yang menjadi idola di kampus. Siapa yang tak iri dengan mereka berdua, mereka bisa bersahabat dengan 4 cowok most wanted di kampusnya.


Sorot bahagia terlihat di wajah mereka. Apalagi Nino dan Lufi yang sejak tadi sudah seperti amplop dan perangko yang tidak dapat di pisahkan saja.


Beberapa kali pose di ambil oleh fotografer. Hasil jepretannya pun sangat memuaskan hati. Tak sia-sia Kevin menyewanya dengan sangat mahal jika hasilnya bisa sebagus itu.


Setelah berfoto-foto mereka memilih pergi ke basecamp untuk merayakan kelulusan geng dambaan mertua. Kevin menyuruh beberapa koki di cafenya untuk datang ke basecamp, mereka akan makan-makan nanti malam. Indra juga menyewa band yang cukup terkenal untuk memeriahkan kelulusan mereka.


Sampai di basecamp mereka nampak kelelahan, mereka istirahat sejenak, setelah istirahat mereka akan beres-beres untuk acara nanti malam.


Saat Ana ingin memejamkan matanya handphone miliknya berbunyi.


Tringg tringgg.


''Halo,'' ucap Ana.


''Kamu dimana? Kenapa nggak ada orang satupun di rumah?'' tanya Leon.


''Kami ada di basecamp Mas. Nanti malam kita ada acara, tapi kita pasti pulang kok,'' ucap Ana.


''Basecamp mana? Acara apa?'' tanya Leon kepo.


''Acara kelulusan sahabat-sahabat kita Mas,'' ucap Ana.


''Sahabat?'' tanya Leon lagi. Leon langsung mengalihkan panggilan teleponnya ke video call.


''Halo,'' ucap Ana pelan, karna teman-temannya saat ini sedang tertidur.


''Kamu darimana? Kenapa berpenampilan seperti itu?'' tanya Leon benar-benar ingin tau.


''Aku habis dari acara wisuda Mas,'' ucap Ana.


''Mana Lufi? Dan mana sahabat-sahabatmu?'' tanya Leon. Ana langsung mengalihkan kamera depannya ke kamera belakang. Di sana nampak Kevin yang berada satu sofa dengan Ana, Lufi dengan Nino dan yang lain nampak tengah tertidur di karpet lantai.

__ADS_1


''Jadi ini yang kamu lakukan di belakang aku An?'' tanya Leon dengan sorot mata yang tajam.


''Lakuin apa sih Mas. Aku nggak melakukan apapun di belakangmu,'' ucap Ana.


''Pulang sekarang atau aku yang kesana?'' Ucap Leon dengan wajah yang memerah memendam amarah.


''Mas, nggak bisa gitu dong. Mereka sahabat-sahabat aku. Aku lebih dulu mengenal mereka dari pada Mas Leon. Apalagi aku di sini nggak melakukan apapun kok. Mas Leon tenang aja ya,'' ucap Ana.


''Jadi kamu lebih memilih mereka, oke,'' ucap Leon langsung mengakhiri teleponnya.


''Kan marah lagi, huft,'' ucap Ana menghembuskan nafasnya kasar.


Di rumah keluarga Lewis. Leon nampak marah, ia berlari ke kamarnya lalu menguncinya dari dalam. Leon begitu tak rela jika Ana sang kekasih hati dekat dengan lelaki lain. Apalagi lelaki itu masih muda, masih seumuran dengan Ana.


Leon berendam di dalam bathup untuk menenangkan fikirannya. Ia benar-benar tak rela jika Ana di sentuh lelaki lain walaupun hanya se inchi saja.


Setelah berendam hampir 45 menit, Leon keluar dari dalam kamar mandi. Ia mengecek hpnya, tak ada pesan atau pun panggilan di sana, membuat Leon bertambah marah.


''Apa segitu happynya dia tanpa ada aku?'' batin Leon. Leon membuka sosial medianya, ia terus menscrool scrool atas bawah untuk menghilangkan kebosanannya namun hal yang tak terduga ia temukan di sana.


''Kamu benar-benar membuatku marah An,'' ucap Leon menggenggam erat handphone yang ada di tangannya. Ia marah, kesal dan cemburu melihat Ana yang lebih memilih sahabat-sahabatnya dari pada dirinya.


Malam hari pun tiba, setelah acara pesta kecil-kecilan di basecamp, mereka pun pulang ke rumah masing-masing. Tepat jam 10 malam mereka sampai di rumah. Ana dan Lufi segera turun dari mobilnya, mereka langsung masuk ke dalam rumah.


''Mas Leon udah tidur belum ya. Pasti saat ini dia marah sama aku Fi,'' ucap Ana.


''Coba aja kamu ke kamarnya An. Biasanya kamarnya nggak di kunci,'' ucap Lufi menuju kamarnya sendiri. Ana pun berjalan menuju kamar Leon, Ana mengetuk pintu kamar Leon namun tak ada sahutan dari dalam. Ana mencoba membuka pintunya, namun pintunya di kunci.


''Mas Leon kemana ya?'' batin Ana. Ia mengambil hp di tas selempang kecilnya. Ia menekan nomor Leon, namun nomornya tidak aktif.


''Apa Mas Leon udah tidur ya?'' batin Ana. Ana memilik turun dan berjalan menuju kamarnya. Ia ingin segera membersihkan diri karna kulitnya terasa sangat lengket.


Setelah membersihkan diri, Ana membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Ia kefikiran dengan Leon, pasti saat ini Leon tengah marah dengannya.

__ADS_1


Pagi harinya.


Ana tengah menyiapkan sarapan pagi untuk mereka. Kali ini ia memasak nasi goreng, karna Leon sangat menyukai nasi goreng buatan Ana. Ana menata nasi goreng itu di atas piring. Di atas nasi goreng ada telur mata sapi dan beberapa irisan mentimun dan juga tomat.


Lufi pun turun untuk sarapan pagi, dan mereka belum memulai sarapan pagi jika belum ada Leon.


''Kak Leon mana sih, lama banget,'' gerutu Lufi.


''Pasti bentar lagi Mas Leon turun,'' ucap Ana. Dan benar saja, Leon menuruni anak tangga. Wajah dinginnya menghiasi paginya hari ini.


Leon berjalan begitu saja tanpa mampir ke ruang makan. Ana segera memanggil Leon untuk sarapan bersama.


''Mas, kita sarapan bareng yuk,'' ajak Ana, namun Leon tak mengindahkan ucapan Ana. Ia terus berjalan meninggalkan Ana. Ana mengejar Leon yang hampir keluar dari rumah.


''Mas, ayo sarapan dulu. Mas Leon belum sarapan loh,'' ucap Ana.


''Kamu saja yang sarapan, aku tidak nafsu,'' ucapnya. Ia langsung keluar dari rumah dan memasuki mobilnya.


''Mas, Mas Leon,'' ucap Ana mengejar Leon, namun Leon tetap menginjak pedal gasnya sampai mobilnya tak terlihat lagi.


''Pasti dia marah sama aku. Aku harus gimana sekarang. Maafin aku Mas,'' gumam Ana.


Ana kembali ke dalam rumah dengan perasaan bersalah.


''Kak Leon kenapa An?'' tanya Lufi.


''Mas Leon pasti marah sama aku Fi gara-gara kemarin. Aku harus gimana dong Fi?'' tanya Ana yang tertunduk Lesu di atas kursi meja makan.


''Udahlah nggak usah di fikirin. Kak Leon mah terlalu posesif sama kamu, gini nggak boleh gitu nggak boleh. Kayak anak bayi aja. udah biarin aja, nanti pasti sembuh sendiri,'' ucap Lufi.


''Tapi aku merasa benar-benar bersalah Fi,'' ucap Ana.


*

__ADS_1


*


__ADS_2