
Beberapa jam telah berlalu, namun Gilang masih betah berlama-lama di cafe itu sambil menikmati indahnya ciptaan Allah.
Bagaimana tidak, Sintya selalu tersenyum kepada nya walaupun dia sedang sibuk karena pekerjaan nya menumpuk.
Seperti saat ini, Sintya yang lewat di depan Gilang hanya bisa tersenyum sambil memperhatikan gerakan pria itu.
"Kenapa masih disini ya.. Bukan kah sudah berjam jam dia duduk di sana. Gak capek atau apa gitu." Pikir Sintya.
Sementara Gilang juga sibuk dengan pikiran nya sendiri. Walaupun sudah menghabiskan lima gelas juz alpukat, namun dia masih betah berlama-lama di cafe itu.
"Masya Allah... Sungguh sangat sangat indah ciptaan MU ya Allah. Aku sungguh tidak ingin kehilangan jejak dia lagi. Rasa nya aku gak akan sanggup jika harus berada jauh dari nya lagi." Gilang bergumam dalam hati.
Sementara itu di tempat lain, seseorang yang tampak sedang memperhatikan gerakan mereka berdua tampak sangat bahagia sekali. Dia merasa kalau orang yang sedang duduk di meja nomor satu itu adalah sumber kebahagiaan sahabat nya.
Siapa lagi kalau bukan Leni, sahabat sekaligus teman yang selalu memotivasi Sintya selama ini. "Mudah mudahan kamu bisa bahagia Sin, mungkin orang itu yang bisa buat semangat hidup kamu pulih kembali." Ucap Leni.
...****************...
Hari sudah mulai sore, karena saking sibuknya Sintya tidak menyadari kalau Gilang sudah beranjak pergi dari tempat itu.
Gilang memilih pergi dari tempat itu karena dia takut nanti akan menggangu aktifitas Sintya. Dia merasa tidak enak kalau harus berlama-lama di cafe tempat Sintya bekerja.
Walaupun sebenarnya dia betah dan bahkan sangat betah karena bisa melihat orang yang dicintai nya tersenyum lebar.
Sore pun berganti malam, namun Sintya Bella dan Leni masih tetap bekerja karena pelanggan cafe mereka semakin banyak. Mereka akhirnya memilih untuk lembur bekerja.
Walaupun sebenarnya dia merasa sangat lelah karena dari tadi siang tidak ada waktu istirahat, waktu istirahat hanya sekedar untuk makan siang saja.
Namun dia berusaha untuk tetap kuat dan bertahan, dia bekerja hanya untuk masa depan yang lebih baik lagi.
"Semangat Sin, kamu harus bisa dan kamu harus kuat. Demi masa depan mu nanti." Sintya berusaha menyemangati diri nya sendiri.
__ADS_1
Tiba-tiba dari arah belakang, dia di kaget kan oleh seseorang yang datang seperti hantu.
"Doorrr... " Leni terkekeh melihat reaksi Sintya.
"Ahhh... kamu apaan sih Len, bikin kaget aku aja tau. Lagian kamu gak ada kerjaan lain apa selain ngagetin aku." Sintya tampak kesal.
"Yeeehhh.. Itu aja kok marah sih, lagian aku liat kamu dari tadi ngelamun aja. Kamu mikirin apa sih." Rasa ingin tau Leni semakin besar.
"Aku gak papa kok Len, lagian kamu kurang kerjaan ya. Liatin aku aja dari tadi." Sewot Sintya.
"Ya bukan nya gitu Sin, sebagai sahabat kamu yang baik aku takut terjadi sesuatu yang buruk pada mu. Lagian aku liat kamu dari tadi kadang kadang tersenyum dan kadang melamun. Aku kan cemas aja gitu." Jelas Leni panjang lebar.
"Ya gak papa Len, makasih ya kamu sebagai sahabat udah perhatian banget sama aku. Makasih banyak ya... " Sintya tersenyum sambil memeluk sahabatnya itu.
"Ihh terharu deh, tapi gak usah peluk peluk. Ntar pacar aku cemburu lagi." Jawab Leni dengan nada di buat selembut mungkin.
"Kamu mah lebay, biasa aja kali Len." Sintya tampak memukul pelan tangan Leni.
"Yang mana sih Len, perasaan banyak cowok ganteng yang datang dari tadi siang deh." Jawab Sintya pura pura tidak tau, padahal sebenarnya dia udah tau yang di maksud Leni adalah Gilang.
"Kamu serius lah Sin, aku lagi gak bercanda. Aku marah nih." Leni memasang wajah seserius mungkin agar dia terlihat sedang tidak bercanda.
"Jangan marah dong Len, aku serius sekarang. Cowok yang kamu maksud tadi tuh nama nya Gilang. Gilang Ramadhan, dia dulu nya sama sekolah dengan ku di SMA. Kami seangkatan gitu, setelah kami lulus aku tidak pernah bertemu lagi dengan nya." Jelas Sintya.
"Beberapa hari yang lalu saat aku di goda oleh seorang pria, dia yang menyelamatkan aku dari pria jahat itu." Tanpa sadar Sintya kembali mengingat kejadian beberapa waktu lalu yang membuat dirinya hampir ternoda.
"Maaf ya Sin kalau aku membuat suasana hati mu sedih, aku gak bermaksud seperti itu." Rasa bersalah kini menghantui pikiran Leni karena membuat sahabat nya bersedih.
"Udah gak papa kok Len, aku minta maaf juga karena belum sempat menceritakan tentang Gilang ke kamu."
"Lain kali aku akan menceritakan banyak hal tentang dia, pria tampan yang kamu maksud tadi itu adalah cinta pertama nya Sintya Bella." Jujur Sintya.
__ADS_1
"What.. Bagaimana cerita nya? Kamu kok gak pernah cerita sama aku. Kamu berhutang penjelasan ke aku." Tuntut Leni.
"Siap bos, nanti akan aku ceritakan semua nya. Tapi nanti ya, sekarang kita sedang sibuk bekerja. Yuk kita lanjut kerja dulu." Ajak Sintya sambil menggandeng tangan sahabat nya itu.
"Ayo lah.. " Leni pun ikut menggandeng tangan Sintya Bella.
Mereka berdua sama sama bekerja dan saling membantu satu sama lain, sampai akhir nya pekerjaan pun selesai.
Pelanggan cafe mereka sudah mulai pergi satu persatu dan kini cafe itu sudah mulai sepi karena mungkin hari sudah terlalu malam.
"Akhirnya selesai juga Len. Kita bisa pulang dan beristirahat sejenak." Ucap Sintya.
"Iya Sin, aku capek banget pengen bobo cantik lagi." Jawab Leni.
Beberapa saat kemudian terdengar suara seorang pria memanggil mereka berdua. "Sintya, Leni.. Kesini sebentar." Panggil pria itu.
Mereka berdua langsung menuju ke arah meja kasir. "Ada apa bos?" Tanya mereka kompak.
"Oh gak ada apa apa kok, saya hanya mau memberikan bonus untuk kalian berdua. Karena hari ini kalian sudah bekerja sangat keras dan pelanggan cafe pun sangat ramai, maka dari itu kalian berdua saya kasih bonus." Jelas pria itu.
Pria itu tampak tersenyum sedikit sambil memberikan amplop kepada Sintya dan Leni satu persatu.
"Terima kasih bonus nya bos, yes... dapat tambahan gaji deh." Ucap Leni sambil tersenyum senang.
"Terima kasih bos.. " Sintya pun mengucapkan terima kasih sambil tersenyum menundukkan kepalanya.
"Iya sama sama, sekarang kalian berdua boleh kembali ke rumah masing-masing. Silahkan beristirahat sejenak dan jangan sampai besok datang terlambat."
"Oke pak bos." Ucap Sintya dan Leni serentak.
Mereka akhirnya meninggal tempat itu untuk kembali ke rumah masing-masing dan beristirahat sejenak sampai pagi menjelang.
__ADS_1