
Ana dan Ibu Siti keluar dari kamar bersamaan dengan Leon yang keluar dari kamarnya. Leon terpana melihat Ana dengan balutan dress dengan panjang di atas lutut berwarna merah maroon.
''Cantik sekali calon istriku,'' gumam Leon pelan, Ibu Siti dan Ana pun tak mendengar ucapan Leon.
''Kita berangkat sekarang Kak?'' tanya Ana.
''Eh, i iya ayo,'' ucap Leon merasa gugup.
''Nak Leon terpana ya dengan anak Ibu. Ibu tau anak Ibu ini sangat cantik, bahkan di desa kami banyak yang memanggil Ana kembang desa loh,'' ucap Ibu Siti.
''Ibu apaan sih,'' ucap Ana yang tak enak hati kepada Leon.
''Anak Ibu memang cantik kok,'' puji Leon. ''Sampai-sampai aku tak mau berpisah dengannya, walaupun hanya 1 detik,'' batin Leon.
''Emmm, kita berangkat sekarang ya,'' ucap Leon dan di angguki oleh Ana dan Ibu.
Mereka menuruni anak tangga, Leon yang kebetulan berjalan di belakang hanya menelan salivanya, karna ternyata dress yang di gunakan Ana hanya menutupi bagian depan, sedangkan bagian belakang terekpos nyata.
''Jadi dia mau umbar badannya yang putih mulus itu, aku nggak rela An,'' batin Leon menggertakkan giginya karna kesal.
''Eh, kayaknya ada barangku yang ketinggalan di kamarmu deh An,'' ucap Leon tiba-tiba.
''Barang? Barang apa Kak?'' Ana pun menghentikan langkahnya menuruni anak tangga dan membalikkan badannya menatap Leon.
''Jam aku ketinggalan di lemarimu, ayo antar aku ke kamarmu dulu,'' ucap Leon langsung menarik Ana naik ke lantai atas lagi.
''Mas, Mas Leon kan udah pakai jam tangan, kenapa cari yang ada di kamarku?'' tanya Ana yang melihat Leon sudah memakai jam tangan.
Leon terus menarik tangan Ana menuju kamar Ana, mata yang memerah menjadikan Ana takut melihatnya.
''Mas Leon kenapa sih?'' tanya Ana yang saat ini sudah berada di dalam kamar. Ia tak tau kenapa Leon terlihat begitu marah dengannya. Leon juga tak lupa mengunci pintu kamar.
''Mas,'' panggil Ana.
''Lepas bajumu atau pilih aku yang melepasnya?'' Leon menatap tajam ke arah Ana. Ana hanya memundurkan langkahnya karna takut.
''Ke kenapa Mas?'' tanya Ana gugup.
''Masih tanya?'' ucap Leon terus mendekat dan.
Srekkkkkkkkk
__ADS_1
Baju yang di pakai oleh Ana pun di sobek oleh tangan Leon. Entah bagaimana caranya, namun Leon seperti sangat mudah menyobek baju itu.
''Mas Leon!!!'' pekik Ana langsung menutup dadanya yang saat ini sudah setengah terbuka.
''Kenapa, hem?'' tanya Leon tanpa dosa setelah menyobek baju Ana.
''Kenapa di sobek Mas? baju ini baru saja aku buka! Baru kali ini aku pakai, Mas Leon apa-apaan sih,'' Ana pun menuju lemarinya dengan perasaan kesal.
''Kamu yang apa-apaan An! Kamu mau keluar dengan pakaian seperti itu. Kamu itu udah mirip sundel bolong tau nggak!!'' ucap Leon juga tak kalah kesal.
Ana tak menggubris ucapan Leon, ia lebih memilih mengambil baju yang lebih tertutup dan membawanya ke kamar mandi. Setelah berganti pakaian ia langsung keluar begitu saja tanpa melirik ke arah Leon.
''An, Ana! Tunggu!!'' Leon mengejar Ana yang sudah hampir sampai di lantai dasar.
''Lhoh Nak kenapa ganti baju?'' tanya Ibu Siti yang kepo.
''Tadi baju Ana basah ketumpahan air di kamar Bu,'' ucap Ana beralasan.
''Oh ya sudah, Nak Leon kita berangkat sekarang kan?'' tanya Ibu Siti yang sangat begitu antusias.
''Iya Bu, mari,'' ucap Leon keluar dari rumah terlebih dulu.
Ana, Ibu dan Bapak menyusul di belakang, setelah sampai di dekat mobil Ana lebih memilih duduk di belakang.
''Aku di belakang aja Kak. Biar Bapak yang duduk di depan,'' ucap Ana tanpa menatap ke arah Leon.
Mereka pun berangkat jalan-jalan bersama, walaupun di hati Ana terasa dongkol dengan Leon namun Ana terlihat biasa saja, apalagi di sana ada Ibu dan Bapaknya yang selalu memperhatikan gerak geriknya.
Setelah beberapa jam memutari Ibu kota, saat ini mereka tengah berada di mall terbesar di kota itu. Leon sengaja mengajak mereka berbelanja di mall.
''Kenapa Kakak membawa kita kesini?'' tanya Ana kepada Leon.
''Aku ingin Ibu dan Bapak berbelanja di sini,'' ucap Leon enteng.
''Tapi Kak---''
''Aku kesini mengajak Ibu dan Bapak, kenapa kamu yang rewel sih,'' ucap Leon kesal. Sebenarnya sejak dari rumah tadi Leon sudah kesal, di tambah lagi Ana tak mau duduk di sampingnya, dan yang terakhir Ana protes karna Leon mengajak orang tuanya ke mall besar.
''Udah-udah kenapa kalian malah berdebat sih!'' ucap Bapak Husein.
''Maaf Pak, mari kira turun sekarang,'' ucap Leon turun terlebih dahulu. Di susul Bapak dan Ibu yang turun, sementara Ana masih gelisah di dalam mobil.
__ADS_1
''An kamu nggak turun?'' tanya Ibu.
''Eh, i iya Bu,'' Ana pun turun dari mobil, dan tanpa sengaja melihat tatapan mata elang milik Leon.
Saat ini mereka sedang berada di toko pakaian, Leon menyuruh Ana memilihkan pakaian untuk kedua orang tuanya, namun Ana masih enggan beranjak dari tempatnya.
''Ayolah cepat pilihkan, apa kamu nggak ingat waktu toko pindah ke rumah?'' bisik Leon di dekat telinga Ana. Ana langsung mengajak Bapak dan Ibunya memilih pakaian yang ada di toko tersebut.
''An, ini beneran harganya?'' tanya Ibu Siti yang melongo melihat harga 1 baju yang di pilihnya.
''Jangan Lihat harganya Bu. Mas eh Kak Leon nggak mempermasalahkan harga kok,'' ucap Ana.
''Tapi Bapak nggak enak Nak, kita kesini berasa mau ngerampok An,'' ucap Bapak.
''Bapak dan Ibu udah Leon anggap seperti orang tua sendiri, pilihlah sesuai yang Bapak dan Ibu suka, jangan lihat harganya,'' ucap Leon yang tiba-tiba mendekat ke arah mereka.
''Tapi Nak---''
''Udahlah Bu, mending kita kesana, kayaknya di sana bagus-bagus deh,'' Ana langsung mengajak Ibu dan Bapaknya menjauh dari Leon, Ana tau saat ini Leon sedang kesal dengannya.
Saat Ana sudah menjauh, tiba-tiba handphone Leon berbunyi, siapa lagi yang menelpon kalau bukan Dirga yang ingin membahas pekerjaan.
Leon pun keluar dari toko itu, dan menjawab telepon dari Dirga.
Setelah selesai memilih baju, Ana pun mencari Leon kesana kemari, namun tak mendapati. Ana bertambah kesal dengan sikap Leon saat ini.
''Mas Leon niat bayarin nggak sih, kemana juga nih orang,'' gerutu Ana sambil mencoba menelpon Leon, namun nomor Leon tengah sibuk.
''Untung aku tadi bawa atm,'' gumam Ana. Ia segera menuju kasir untuk membayar barang belanjaan Ibu dan Bapaknya.
''Totalnya 26 Juta Kak,'' ucap seorang kasir.
''Apa?!! 26 juta?'' Ana melebarkan matanya saat mendengar total belanjaannya. Di kartu atmnya hanya ada sekitar 15 juta saja. Sedangkan masih kurang sangat banyak untuk membayar sisanya.
''Biar saya yang bayar,'' ucap seseorang yang tengah berdiri di samping Ana dengan tersenyum manis ke arah Ana.
*
Hayoo siapa ya yang mau bayarin belanjaan Ana.
Pantengin terus ya bestiee.
__ADS_1
Dan jangan lupa tinggalkan jejak di sini.
See you😚