
Beberapa bulan telah berlalu begitu saja, tanpa terasa kini Sintya dan teman teman nya sedang mengikuti ujian akhir yang akan menentukan lulus atau tidak lulus nya mereka nanti.
Hari pertama ujian sudah berlalu. Kini mereka memasuki hari kedua ujian. Sintya tampak terburu buru karena sudah terlambat dan sebentar lagi bel akan berbunyi.
Tiba-tiba... Bug... Tanpa sengaja ternyata Sintya menabrak seseorang yang ada di depan nya. Karena terlalu kuat tabrakan dari Sintya membuat seseorang tersebut kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjatuh.
Kini posisi badan Sintya berada di atas badan seseorang itu yang tak lain adalah Gilang. Wajah mereka sangat dekat sekali hanya berjarak satu sentimeter saja.
Dalam keadaan seperti itu jantung mereka berpacu dengan sangat kencang. Sintya bisa merasakan betapa kencang nya detak jantung Gilang saat ini, begitu juga dengan Gilang.
Untuk sesaat mereka berdua kehilangan kesadaran masing masing. Gilang bisa merasakan wangi tubuh wanita sederhana nan cantik yang berada di atas badan nya saat ini. Begitu juga dengan Sintya, dia hilang ingatan sesaat karena mencium betapa harum nya bau nafas Gilang Ramadhan.
"Ngapain tiduran di sini, kalau mau tiduran di kamar sana. " Kesadaran mereka berdua kembali setelah mendengar perkataan dari seorang siswa yang kebetulan lewat di dekat mereka.
Gilang berusaha duduk setelah Sintya beranjak dari tubuh nya. Sintya berusaha membantu Gilang berdiri.
"Maaf ya lang, aku gak sengaja. Tadi aku terburu buru karena hampir terlambat." Sintya merasa tidak enak karena telah menabrak Gilang dan membuat nya terjatuh.
"Ya udah lah, santai." Gilang langsung pergi meninggalkan Sintya dan menuju ke arah kelas mereka.
"Yahh... pergi dia." Dengan sangat terpaksa Sintya mengikuti langkah kaki Gilang dari belakang.
__ADS_1
...****************...
Jam istirahat pun tiba. Mereka berhamburan keluar karena sudah sangat lapar, tadi mereka mengerjakan ujian matematika yang membuat kepala serasa mau pecah.
Tampak Diva dan Andini berjalan menghampiri meja Sintya. "Makan yuk Sin, lapar banget nih." Diva dengan wajah lesu nya.
"Iya nih lapar, kepala aku juga mau pecah kayak nya. Soalnya susah semua." Rengek Andini dengan nada manja nya.
" Biasa aja sih, soal matematika yang tadi udah kita pelajari semua kok." Jawab Sintya santai.
"Kamu sih santai sin, karena otak kamu pintar di atas rata rata. Nah aku yang otak nya di bawah standar ini gimana nasib nya." Jawab Andini sambil memperlihatkan wajah memelas nya.
"Gak boleh gitu din, kita sama aja kok asal mau berusaha." Sintya berusaha menenangkan Andini.
"Ayang kok lama banget sih, aku udah nunggu dari tadi di luar. Udah lapar nih." Rendi bicara dengan nada manja nya kepada Andini sang kekasih.
"Iya yang nih udah mau berangkat." Andini tampak bergelayut manja di lengan Rendi.
"Kita di tinggal nih ceritanya." Tanya Sintya dengan memonyongkan bibirnya.
"Kita gabung aja sin, kebetulan ada Rio juga dikantin." Ajak Rendi basa basi.
__ADS_1
"Ogah." Diva langsung protes.
"Udah ah Div, gak papa kok. Yuk kita gabung aja sama mereka." Bujuk Sintya.
"Iya deh iya." Jawab Diva tanpa bisa protes lagi.
Di kantin sekolah dari kejauhan tampak Rio dan Gilang duduk manis sambil melambaikan tangan ke arah Sintya dan teman teman nya.
"Sini aja." Rio menunjuk ke arah kursi yang masih kosong.
"Oke." Jawab Rendi sambil mengangkat jempol nya.
...****************...
Sepulang sekolah, Sintya memilih untuk langsung pulang ke rumah nya. Dia merasa sangat lelah saat ini karena terlalu lama duduk di kantin sekolah nya sambil bercanda dengan teman teman nya.
"Assalamualaikum bu.. Sintya pulang." Sintya mengetuk pintu rumah nya.
Tak lama kemudian terdengar suara seseorang sedang membuka pintu. Yang tak lain adalah ibu nya sendiri. "Waalaikumsalam nak, ehh udah pulang sayang." Ibu Sintya tampak senang menyambut kedatangan putri semata wayangnya.
"Iya bu.. Capek banget rasanya." Sintya bergelayut manja di lengan ibu nya.
__ADS_1
"Kalau capek istirahat aja dulu ya sayang, Sintya udah makan?" Tanya ibu nya.
"Udah tadi bu, di kantin sekolah. Sintya langsung ke kamar ya bu, mau istirahat." Sintya meninggalkan ibu nya di ruang tamu dan langsung menuju kamar nya.