
Di Apartemen Dean,dia sedang mondar mandir gelisah ingin segera mengetahui bagaimana keadaan meira saat itu.
"Bagaimana?" Tanya Dean saat itu tengah menjawab telepon dari anak buahnya yang menyelinap disana.
"Maaf Tuan,kami tidak bisa meretas cctv gedung itu,seseorang menghancurkan jaringan kami." Jelas Anak buahnya,Membuat Dean sangat kesal lalu mematikam sambungan teleponan itu
Akh..."Sial..sial...sial..,sulit sekali meretas keamanan gedung itu,siapa sebenarnya pemilik gedung itu?"
Dean benar benar geram karena hacker miliknya bahkan tidak bisa menembus sistem pertahanan pemilik Gedung itu.
"Tidak mungkin Uncle Gerson memiliki semua Gedung ini,bukankah dia hanya mengawasi lintas bisnis disini..?" pikir Dean.
Dean Kembali menghempaskan tubuhnya keatas tempat tidurnya.
"Aku harus meminta bantuan Opa.." Ucap Dean kemudian mencoba menghubungi Opanya.
"Apa ada boy?" jawab Andreu dari sana.
"Opa,Aku ingin meminta sedikit bantuan dari Opa." ucapnya membuat Andreu disana mengeryitkan keningnya.
"Bantuan apa yang kamu mau Boy? Apa ini mengenai gadis mata birumu itu?" tanya Andreu.
"Aku bahkan belum bisa menemukan keberadaannya Opa.yang ini sedikit lain.ini mengenai wanita juga,dia membuat Dean ingin sekali mengetahui dirinya,ada hal yang berbeda Dean rasa di wanita itu Opa..bisakah Opa membantuku.nanti aku akan memberitahu Opa." Ucap Dean yang di pahami Opanya.
"Baiklah,kirimkan pada Opa sekarang juga." Ucap Andreu.seketika itu Dean mengirimkan apa yang dia suruh Opanya lakukan.Andreu lansung menerima apa yang cucunya kirim. Andreu mengotak atik laptopnya, namun kemudian Andreu menghentikan tangannya saat sudah mengetahui apa yang Cucunya suruh dia lakukan.
"Dean,sepertinya Opa tidak bisa membantumu soal ini.itu akan melanggar aturan lintas bisnis.
Gedung yang kamu suruh Opa lacak,
__ADS_1
Gedung itu kemungkinan salah satu tempat tinggal seseorang berpengaruh di Negara itu.
Sebaiknya urungkan niat kamu boy,
kita tidak bisa melanggar aturan Negara mereka,ingat kamu juga baru berada disana Boy." Ucap Andreu menjelaskan kepada cucunya bahkan memberikan pesan yang penuh ketegasan kepada Cucunya.
mendengar itu Dean terdiam masih menatap Opanya.
"Bisa aku tau siapa orang itu Opa.?" tanyanya penasaran.
"Opa tidak tau banyak mengenai mereka tapi Uncle Gerson kamu pernah mengatakan kalau mereka adalah keluarga Alexander.Mereka berhubungan baik dengan Uncle Garson mu." Jelas Andreu.
"Baiklah Opa,terimakasih informasinya Opa.."Ucap Dean yang di angguki Andreu.
"Jangan membuat kesalahan Boy, apalagi berurusan dengan mereka boy." pesan Andreu lagi.
Di Apartemen Meira,Meira mulai tersadar dan perlahan membuka matanya namun dia terkejut melihat keadaan dirinya saat itu.
"Aaaaaa.....,ja..jaruuum..."
Devi lansung menghampiri Meira yang berteriak karena melihat jarum infus tertancap di tangannya. Devi pun segera memeluk tubuh meira untuk menenangkan sahabatnya.
"Tenanglah beb,tadi kamu demamnya tinggi banget panas kamu,suhu badan kamu sampai 49,7 beb,terpaksa kami harus memasang infus untuk memberikan obat penurun panas kedalam tubuh kamu." Ucap Devi kembali merasakan kening Meira.
"Puji Tuhan, kamu sudah ngak panas kayak tadi beb." Ucap Devi.
"Beb..,bi..bisakan sekarang di lepaskan,A..aku mohon..lepas beb.." Meira benar benar ketakutan melihat jarum infus di tangannya saat itu, dia bahkan sampai gemetaran saat itu.
"Tenanglah Beb,nanti tangan kamu berdarah.aku kasi tau kak kenzi dulu ya." Ucap Devi yang di angguki meira masih dalam pelukannya.Saat bersamaan,Kebetulan kenzi datang kesana.
__ADS_1
"kak,Meira menyuruh melepaskan infusnya,dia takut sekali kak..,kasian dia sampai gemetar gini.." Ucap Devi.
Mendengar itu Kenzi lansung menghubungi nomor yang pria tadi berikan kepadanya. pria itu lansung mengangkatnya,kenzi pun memberitahu perihal Meira meminta untuk melepaskan infusnnya.pria itu mengatakan pada kenzi kalau dirinya akan kesana melepaskan selang infusnya.
"Nona tunggu sebentar,dokter tadi akan segera kemari.dia yang akan melepaskan infus nona." Ucap Kenzi.
Meira tidak menjawab,karena dia sangat ketakutan melihat tangannya.
"Beb...ce..cepat..." Ucapnya terbata bata.
"Tenanglah..,tidak akan lama beb.." Ucap Devi menenangkan Meira.
Tidak lama,pria itu datang dengan sama seperti tadi penampilannya,
mengunakan masker dan kacamatanya.
"Dokter,sahabat saya fobia jarum suntik,bisakah anda segera melepaskan infusnnya?." Ucap Devi.
"Baiklah."Ucap Pria itu dengan menatap Meira sebentar lalu perlahan mulai melepaskan selang infus di tangan Meira.Dengan masih bergetar,Meira mencoba untuk diam tapi dia tidak melepaskan pegangnnya di tubuh Devi.
"sudah selesai." Ucap Pria itu,
membuat Meira perlahan membuka matanya dan saat itu juga dia terkejut mengetahui jika dia tidak merasa kesakitan saat pria itu melepaskan jarum infusnya.
"Terimakasih Dokter." Ucap Devi.
"Segera berikan obat untuknya,biar demamnya segera sembuh,kalau bergitu saya permisi." Ucap Pria itu yang di iyakan Devi dan Kenzi. Kenzi kembali mengantar Pria itu sampai keluar dari Apartemen Meira.
"Siapa wanita ini sebenarnya? pria itu bicara dengan langkahnya kembali menuju Apartemennya.
__ADS_1