Pesonamu

Pesonamu
94


__ADS_3

"Ikutlah sebentar denganku.." Ucap Dean menatap Meira.


"Kemana?"Tanya Meira.


"Ikut sajalah sebentar,nanti aku yang akan mengantarmu pulang.." Ucap Dean. Mendengar itu Meira menoleh kearah Devi yang saat itu menganggukan kepalanya menyuruh Meira pergi bersama Dean.


"Baiklah.."Ucap Meira setuju.


"Kamu berhati-hati pulangnya Beb.." Ucap Meira mengingatkan Devi.


"Tenang saja,Brayen sedang di jalan menuju kemari.."Ucap Devi lalu menoleh kearah Dean yang sudah berdiri menunggu Meira.


"Jaga Baik-baik Sahabatku.." Ucap Devi mendapati anggukan kepala dari Dean.


"Kami Pergi.." Ucap Meira di angguki Devi kemudian Meira mengikuti langkah kaki Dean keluar dari Restoran itu menuju mobil.sampainya di Mobil,Dean membukakan pintu mobilnya untuk Meira masuk kedalam setelah itu barulah dia masuk dan tak lama Dean melajukan mobilnya pergi dari sana.


"Kita mau kemana?" Ucap Meira menoleh kearah Dean.


"Jangan khuatir,aku hanya ingin mengajakmu jalan-jalan di taman..aku tidak akan melakukan hal aneh-aneh." Ucap Dean menoleh sebentar kearah Meira kemudian kembali serius menyetir.


"Boleh aku bertanya sesuatu?" Ucap Dean membuat Meira menoleh kearahnya lagi.


"Mau menanyakan apa?" Ucap Meira.


"Kamu kan sudah lama tinggal di negara ini,pernahkah kamu mendengar cerita mistis mengenai Negara ini..?"Ucap Dean.


"Cerita Mistis..?setau aku bukan mistis sih lebih tepat kisah nyata tentang Kota Negara ini yang di juluki rumahnya Vampir ratusan tahun lalu,Itu yang mau kamu tanyakan?" Ucap Meira membuat Dean menatapnya lagi.


"kisah Nyata?" Ucap Dean sedikit terkejut.


"Ia..Itu bukan asing lagi kami dengar disini,tapi itukan hanyalah cerita masa dulu.jika benar,itu sudah berabad yang lalu.."Lanjut Meira menceritakan sedikit yang dia tau.


"Jika mereka masih ada di dunia kita sekarang,Apa kamu percaya..?" Ucap Dean membuat Meira tertawa kecil.


"Menurutku mustahil jika mereka masih ada di dunia sekarang..,kenapa kamu tertarik sekali mengenai itu?.." Ucap Meira kemudian memikirkan pembicaraan mereka saat itu.


"Aku sangat penasaran dengan buku yang aku tengah teliti saat ini..disana tertulis bahwa Vampir tidak pernah di katakan musnah melainkan mereka berevolusi menjadi manusia bahkan mereka seperti manusia asli seperti kita.." Ucap Dean.


"Benarkah,tapi itukan hanya sebuah buku,belum tentu benar.. Setauku Vampir kan tidak menyukai tempat terbuka bahkan panasnya matahari.." Ucap Meira merasa kurang setuju dengan pemikiran Dean.


"Negara ini di juluki Negara Es..kamu lihat matahari saja disini sedikit sekali menampak cahayanya.Udaranya juga selalu dingin,jarang sekali merasakan panas disini.." Ucap Dean.


"kalai itu benar,pertama kali aku kemari memang Negara ini sangat berbeda dengan negara lain dan dulu aku juga merasa sama,sama kamu,ngerasa aneh karena pergantian musim tapi perubahan udara disini tidak berubah sama sekali seperti ini terus.." Ucap Meira.

__ADS_1


"Bukankah itu sangat Aneh..?" Ucap Dean.


"Aneh sih tapi bagi orang disini maupum orang luar sering kemari mengatakan ini penomena yang sangat unik bahkan siatuasi ini sudah di akui di seluruh dunia.Aku rasa setuju dengan mereka.." Ucap Meira.


"Itu memang benar,tapi tetap saja aku masih penasaran.."


Tidak terasa mereka sampai di taman dan lansung keluar dari mobil lalu berjalan menuju kedalam taman.


"Elvano..aku dengar dia itu putra dari sahabat Daddy kamu..?" Ucap Elvano bertanya.


"Ia,dia putra sulung Om Dante teman Daddy,aku baru-baru ini mengetahuinya.."Jawab Meira membenarkan ucapan Dean barusan.


"Meira.." Dean memanggil Meira membuat Meira menoleh kearahnya.


"Aku menyukaimu..!" Ucap Dean serius namun Meira malah tersenyum mendengar apa yang barusan Dean katakan padanya.


"Aku akui malam ini kamu sangat santai bicara tidak seperti biasanya.."Meira menatap Dean tampa senyuman kali ini.


"Terimakasih menyukaiku..Aku tau maksud ungkapan perasaanmu itu. Boleh aku tau,apa yang membuat kamu bisa menyukaiku..?Ya kalau di pikir-pikir Kamu pasti tau aku Putri Daddyku baru-baru ini kan..?" Ucap Meira.


"Apa aku harus mengulangi menjelaskan denganmu,bagaimana aku bisa menyukaimu?" Ucap Dean kembali membuat Meira tersenyum.


"Menyukai bayi mungil bermata biru,apa itu yakin bisa di katakan kalau kamu menyukaiku..?"Ucap Meira.


"Jangan mengalihkan pembicaraan, jawab aku..? Apa yang membuat kamu menyukaiku?" Ucap Meira serius.


"Aku tidak bisa menjelaskan kenapa aku bisa menyukaimu tapi aku serius,aku sungguh menyukaimu Meira..Aku serius.." Ucap Dean.


Meira jadi terdiam sejenak saat itu, sedang memikirkan bagaimana menjawab ucapan Dean barusan.


"Maaf sekali kak Dean,tapi sungguh saat ini aku tidak bisa menjawab atau pun bagaimana aku menanggapi ungkapan perasaan kakak.." Ucap Meira.


"Tidak bisakah kamu memberikan aku kesempatan..?" Ucap Dean.


"Kesempatan? Kesempatan Apa?" Ucap Meira bingung.


"Kesempatan menjalin hubungan sama kamu,lebih dari sekarang..?" Ucap Dean kemudian perlahan mengambil tangannya Meira lalu mengemgamnya dengan matanya menatap Meira.


"Ems..Maaf kak,Untuk sekarang aku belum bisa.." Ucap Meira.


"Yakinkan aku lebih dari ini kalau kakak serius dengan aku!" Ucap Meira mengejutkan Dean.


"Maksudmu?"Tanya Dean.

__ADS_1


"Kakak sudah tau jawaban dari ucapanku barusan..jangan berpura tidak tau..hems..Bisa kita pulang sekarang, aku masih mau mengerjakan tugasku.." Ucap Meira tersenyum.


"Ems Baiklah.."


Mereka berdua berjalan kembali menuju Mobil dan sampai disana lansung masuk kedalam lalu Dean lansung melajukan Mobilnya menuju Apartemen mereka.


Di lain tempat.


Kepergian Elvano tadi ternyata dia mengikuti stefan yang bergerak menjauhi kota.


"Hutang kegelapan,untuk Apa dia kemari malam-malam begini..?" Gumanan Elvano bersembunyi di dalam mobilnya yang sudah dia ubah menjadi transparan.


"Apa aku harus mengikutinya masuk..?tapi Papa mengatakan jangan pernah memasuki wilayah ini.."Gumanan Elvano yang teringat dengan peringatan papanya.


"Tapi aku sangat penasaran,apa yang dia lakukan di dalam sana,bagaimana dia bisa masuk kesana..?" Elvano terus mencari cara agar dia bisa masuk kedalam mencari tau Apa yang Stefan lakukan di dalam.Seketika itu Elvano mendapatkan sebuah rencana,dia pun memejamkan matanya kemudian tidak lama seekor burung hitam datang menghampirinya.


"Masuklah kesana,lihat apa yang di lakukan dia disana?" Perintah Elvano yang lansung di patuhi Burung hitam itu.


Bersamaan burung itu pergi,ponsel Elvano berdering.


"Ya pa.." Ternyata Papanya menghubungi Elvano.


"Papa tau kamu sedang berada di batas wilayah terlarang,jangan melakukan kesalahan El..!" Ucap papanya mengingatkan.


"Pa..aku melihatnya masuk kesana,apa itu artinya dia bagian dari mereka..?" Ucap Elvano.


"Kemungkinan Ia..kalau Blackker kembali,segera pergi dari sana,sebelum ada yang mengetahui keberadaanmu.." ucap Dante.


"Baik pa..Aku akan mengingat semuanya.." Setelah itu Dante lansung mematikan teleponnya sedangkan Elvano kembali memejamkan matanya mengikuti arah terbangnya Blackker di dalam sana.Blackker tidak bisa menembus fortal ketiga,membuat Elvano sangat kesal lalu menyuruh Blackker kembali.


"Sial..Aku jadi tidak bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana.."Mengingat apa yang papanya katakan, Elvano pun pergi dari sana.


"Kau sudah menemukan,dimana mereka saat ini..?" Suara di balik asap hitam bergumpal itu.


"Maaf ketua,sulit sekali mencari tau keberadaan mereka di dunia manusia.." Ucapnya berlutut.


"Semua rencana kita tidak boleh gagal, kita harus menemukan Alexasky,mereka pasti sudah membuat rencana untuk mengagalkan rencana kita.."


"Aku bertemu dengan anak laki-laki dan dia sangat sulit aku tembus ketua.. Apa mungkin dia bagian keturunan Alexansky..?"


"Kau tidak bisa menembusnya..Cari tau dia,Aku mau melihat seperti apa wajahhya besok.." perintahnya.


"Baik ketua.." lalu pergi dari sana kembali,keluar dari sana.

__ADS_1


__ADS_2