
"Kenapa kak Deysa terlihat kesal..?" Debora lansung berjalan mendekati kakak sepupunya itu.
"Kak,kau kenapa..?seperti sedang kesal sekali..?" Ucap Debora.
"Tidak ada." Jawab Deysa membuat Debora tersenyum.
"Aku tau! Kak aku mau mengatakan sesuatu.kakak tau,pertama kali aku melihat kak Raymond,aku lansung jatuh hati padanya namun melihatmu selalu memperhatikan kak Raymond.Aku memutuskan kesukaanku dengannya hanya sebatas menganguminya saja.. Aku mendukung kakak,Kakak kesal karena dia mencueki kakak kan?" Ucap Debora menebak.
"Tidak!sama sekali bukan tipeku!" Ketus Deysa.
"Aaa benarkah..!tapi kenapa harus kesal begini..?" Ucap Debora.
"Kamu bisa diam!,jangan bahas masalah pria bermulut pahit dan sok kepedean itu..Dia benar-benar pria menyebalkan.." Deysa lansung pergi masuk kedalam rumah.
"Aku merelakan kalau kakak benar menyukainya kak,tapi kita belum tau entah dia sudah memiliki kekasih atau belum..aku akan membantumu menyelidikinya kak.." Ucap Debora tersenyum.
"Boleh aku duduk disini nona..?" Ucap Doni.
"Dudulah.."Ucap Debora lalu meneguk minumannya.
"Kenapa melihatku seperti itu? Aku akui aku seksi dan cantik..!" Ucap Debora.
"Tidak nona..nona salah paham.." Jawab Doni.
"Kau menyebalkan!" kesal Debora.
"Aku menyebalkan! Maksud nona..?" Doni kebingungan mendengar ucapan Debora.
"Jangan pikir aku tidak tau..Jangan menghantuiku dengan pesan gilamu itu..!" Ucap Debora mengejutkan Doni yang saat itu lansung terdiam kaku tidak berani bicara karena ahkirnya dia ketahuan juga.
"Maafkan aku nona,aku tidak akan melakukannya lagi..!" Ucap Doni.
"Awas saja kau menghentikannya,aku akan membunuhmu!" Debora menatap tajam kearah Doni.
"Maksud nona..kau selalu membuatku bingung nona.." Ucap Doni. Debora lansung menarik kerah baju kemeja Doni hingga wajah mereka menjadi sangat dekat. Doni lansung gugup sekali saat itu.
"Ap..apa yang mau nona lakukan..? lepaskan aku nona,nanti Tuan besar melihat kita seperti ini salah paham..!" ucap Doni.
"Aku sudah memperingatkanmu untuk jangan mempermainkanku sialan.. jangan mengirim pesan gilamu untukku tapi kau selalu mengirimnya terua menerus..kau harus tanggung jawab..!" Debora terus menatap tajam kearah Doni.
"Ta..tanggung jawab,maksud nona..?" Ucap Doni.
__ADS_1
"Doni..apa yang kau lakukan dengan putriku!!" Triak Bareil karena melihat posisi mereka berdua sangat dekat sekali saat itu.
Memdengar itu Semua keluarga Debora berkumpul mendekati Bareil begitu juga dengan Keluarga Meira.mereka semua terkejut melihat apa yang Debora lakukan dengan Doni saat itu.
"Aku mau menikah dengannya Pa.." Ucap Debora mengejutkan Mereka semua.
"Debora..sadar kamu dengan ucapanmu itu?" Tanya Bareil.
"Sangat sadar..pa,Papa tidak setujui..? Tapi aku tidak perduli.." Ucap Debora.
"Tu..tuan anda ja..jangan salah paham.. Nona..nona hanya.."
"Diam kau!!" Triak Bareil memotong pembicaraan Doni.
"Kenapa kau mempersulit hidupku nona.." Bisik Doni namun hanya mendapat senyuman dari Debora.
"Apa kau yakin tidak mau menikahiku, bukankah kau menyukaiku! Kau menginginkanku!" bisik Debora kemudian.
"Aku menyukaimu tapi tidak seperti ini nona.." Bisik Doni lagi.
"Debora lepaskan Doni.." Ucap nathan meminta cucunya melepaskan Doni.
"Opa..kalian harus menjawab ucapanku..Aku mau menikah dengannya..!" ucap Debora.
"Heh..apa kamu bilang..tapi aku akui sih..tentu saja..dia kan cucuku" ucap Maora membuat mereka semua tersenyum.
"Aku tidak bisa menikahkan kalian sekarang,kalian masih sama-sama menyelesaikan pendidikan!" Ucap Bareil.
"Kalau papa tidak menyetujuinya,kami nikah lari saja.." ucap Debora mengejutkan Doni.
"Kau sungguh gila Dek..kau masih muda,kenapa ingin menikah hah.. Doni juga masih muda.." kesal Davin.
"Mama..beritahu papa,Ma.." Ucap Debora merengek.
"Nikahkan saja B.. Aku percaya dengan Doni,bukanya dia sama dengan orangtuanya selalu setia dengan kita.. Jangan menilai mereka dari umur,aku yakin mereka akan bahagia.. Aku mempercayakan kebahagiaan Debora dengan Doni.. "Ucap Andreu.
"Kalian ini..!!Bertunangan saja,bulan depan kalian menikah..!" Ucap Bareil ahkirnya setuju,membuat mereka semua ikut tersenyum bahagia.Debora lansung tersenyum kearah Doni tampa malunya dia bahkan mencium bibir Doni.
"Astaga Debora..!!" pekik Bareil melihat putrinya lah yang duluan mengoda Doni.
"Besok urus surat nikah kalian,aku tidak mau kau jebol duluan sebelum menikah.." Ucap Bareil membuat mereka semua tertawa.
__ADS_1
"Selamat Bareil,kau duluan memiliki seorang menantu.." Ucap Gerson.
"Jangan mengejekku! Putriku itu memang sungguh centil sekali..." Ucap Bareil membuat semua tertawa.
"Aku bukan centil Pa,aku lebih memilih pria yang mencintaiku di bandingkan pria yang aku cintai.." Jawabnya memeluk Doni yang hanya terdiam saat itu.
"Jangan sakiti putriku,kalau kau sampai menyakitinya..aku sendiri memenggal kepalamu!" ucap Bareil serius.
"Nyawa saya taruhannya Tuan.." Ucap Doni.
"Selamat ya Doni..hidupmu akan di penuhi Adikku!" Ucap Dean mengejek.
"Itu kan keinginannya kak.." Saut Davin ikut mengejek Doni.
"Baiklah semuanya,sepertinya kami harus pamit pulang..karena besok kami awal berangkatnya.." Ucap Gerson.
"Baiklah Ger..terimakasih sudah mau datang..terimakasih..semoga perjalanan kalian lancar.." Ucap Juandra lalu berpelukan dengan Gerson kemudian giliran dengan Bareil,Andreu,nathan dan juga yang lain.Di samping mereka,Dean saling pandang dengan Meira begitu juga dengan Raymond dan Deysa. namun kemudian mereka saling mengalihkan,kemudian Raymond dan Meira pamit dengan keluarga Dean.
"Darma University" Bisik Raymond sembari mengedipkan sebelah matanya kearah Deysa membuat Deysa seketika itu melebarkan matanya.
Gerson dan keluarganya lansung pergi dari kediaman Nathan menuju rumah Geril.
"Dia mengetahui kampusku! Darimana dia bisa tau,dasar menyebalkan.." Gerutu Deysa.
"Kau kenapa?" Dean mendekati kembarannya.
"Tidak ada.." Jawab Deysa membuat Dean tersenyum.
"Kenapa tersenyum! Ada yang aneh!" Ucap Deysa bertambah kesal.
"Giliran jauh kau mengingatnya,giliran dekat kau saja tidak berani mengatakannya..kasian.." Ledek Dean lansung mendapatkan pukulan keras dari Deysa.
"Jangan meledekku,kau tidak malu kau saja di tolak mentah-mentah..payah!" Kesal Deysa lalu meninggalkan Dean ikut kesal karena kembarannya.
"Ahh Dia tau..sialan.." Kesal Dean lalu pergi menuju kamarnya.
Tring sebuah pesan masuk kedalam ponsel Dean.
"Waktunya di mulai!"
Begitulah bunyi pesan tersebut dari nomor yang tidak di ketahui dari mana. Bahkan lansung menghilang seketika setelah di baca Dean.
__ADS_1
"Apaan ini..waktu di mulai,siapa yang berani mengancamku! Awas kau.." Geram Dean.