
Sore itu Meira baru keluar dari kampusnya,tapi dia tidak lansung pulang melainkan masih perpustakaan untuk kembali meminjamkan buku untuknya belajar.
Saat bersamaan dia ingin masuk kedalam perpustakaan,dia kembali tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang yang saat itu dengan sigap menahan tubuhnya.
"Maaf"Ucap pria itu yang tak lain adalah Elvano yang kemudian melepaskan tubuh Meira.
"Emm.." jawab Meira,entah kenapa dia sedikit gugup saat tidak sengaja menatap mata Elvano yang saat itu mengunakan kacamata dan maskernya menatap kearahnya.Meira masuk kedalam yang di ikuti Elvano dari belakangnya.
"Kamu sering kemari..?" tanya Elvano membuat Meira menengok kearahnya."Ia.."Jawab Meira namun dia menghentikan langkahnya membuat Elvano juga menghentikan langkahnya.
"Ada apa?" Tanya Elvano namun dia lansung mengerti mata Meira melihat buku yang saat ini dia pegang.Elvano mengangkat sedikit buku itu keatas.
"Kamu mau membaca buku ini?" tanya Elvano.
"Jadi kamu yang meminjam buku itu selama ini..?Aku sudah lama mencari buku itu." Ucap Meira.
"Ini.." Elvano memberikan buku itu kearah Meira membuat Meira kembali menatap kearah Elvano.
"Memangnya kamu sudah selesai membacanya..?" tanya Meira.
"Sudah..." jawab Elvano.
"Kemarilah.."Elvano berjalan duluan menuju tempat duduk dalam perpustakaan itu.Meira mengikuti Langkah Elvano dan mereka berdua tengah duduk berhadapan saat itu.
"Buku ini hanya satu disini dan ada lagi sambungan keduanya namun susah di dapatkan,tapi aku bisa mendapatkannya.Jadi aku akan meminjamkan untukmu."Jelas Elvano. Meira belum menjawab,dia memegang 2 buku itu lalu melihatnya kemudian kembali menatap Elvano.
"Benaran aku boleh meminjam buku ini..?" tunjuk Meira kearah buku yang kedua asli milik Elvano.
"Ia.Asal kau jaga saja dan jangan sampai merusaknya." Jawabnya membuat Meira sedikit mengeluarkan senyumnya yang terlihat oleh Elvano.
"Baiklah,aku berjanji tidak akan merusaknya."Ucap Meira.
"Bagaimana keadaanmu,apa sudah benar sehat dari Demammu..?"
Deg! Meira terkejut karena pria itu tau dia sakit sebelumnya.
"Ternyata kamu fobia dengan jarum suntik."sambungnya membuat Meira semakin terkejut lagi.
"Jadi kamu Dokter yang nolongin aku malam kemarin itu?" tanya Meira.
"Aku masih mahasiswa fakultas kedokteran." Jawabnya membuat Meira masih terdiam.
"Ems..terimakasih sudah menolongku." Ucap Meira.Elvano mengambil sesuatu di tasnya lalu menyodorkan kedepan Meira.
__ADS_1
"Ini Nomorku,kau bisa menghubungiku jika sudah selesai membaca bukuku." Ucapnya kemudian pergi meninggalkan Meira masih melihat kearahnya.Meira mengambil Kartu nomor Elvano namun disana tidak di tuliskan namanya siapa,namun ada sebuah gambar kecil dia selipkan disamping nomornya yaituβELπ.
"Apa nama panggilannya EL ya..?, Sepertinya Ia.." Guman Meira menyimpan nomor itu kedalam ponselnya dan menuliskan nama Elvano 'Dokter EL' , kemudian Baru Meira menyimpan kartu itu kedalam Dompetnya. Meira menyimpan 2 buku itu kedalam tasnya lalu keluar dari perpustakaan .Meira tidak menyadari,di bangku lain Elvano yang masih disana,Menyunggingkan senyumannya karena Bahagia keinginannya dikabulkan Tuhan,di pertemukan Dengan Wanita yang ingin dia cari tau siapa sebenarnya dia itu.
"Beb...?" Meira terkejut melihat Devi berada di depannya.Is.."Kamu beb ngagetin deh." Ucap Meira.
"kamu kenapa senyam senyum aku lihat keluar dari perpustakaan,ada dapat apaan sampai ngak sadar lihat aku hah?." Meira menarik tangan Devi menuju mobil lalu mereka berdua masuk kedalam.
"Nanti aku ceritakan,Ayo kita pergi ketempat biasa." Ucap Meira masih tersenyum membuat Devi semakin bingung dan dia pun mengikuti ucapan sahabatnya itu melajukan kendaraaannya menuju cafe tempat mereka sering menyantai.Devi tadi di telepon Meira untuk menunggunya di parkiran kalau dia sudah selesai dengan kelasnya.
"Ikuti mereka." Ucap Dean menyuruh Doni mengikuti mobil Devi dan juga Meira.Dean sudah sejak tadi menunggu Meira keluar dari perpustakaan.
Dari kejauhan tadi,Elvano yang juga mengikuti Meira,sekarang dia juga melajukan kendaraannya mengikuti mobil Meira dan Devi.
"Itu kan Mobil Dean,kenapa dia mengikuti Wanita itu juga?,ini tidak bisa aku biarkan" Guman Elvano melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi kemudian mengaktifkan mobilnya menyetir mode robot.Elvano mengambil laptopnya lalu mengotak atik sesuatu disana.
tit...
Elvano menyeringai melihat mobil Dean terhenti karena rambu lalu lintas berubah menjadi merah semuanya.
Dean mengumpat karena lampu lalu lintas tiba-tiba merah,menghalangi niatnya mengikuti Meira.
"Sial....,kenapa lampunya tiba tiba merah?,**** puck..kehilangan jejak lagi." Umpat Dean sangat kesal.
***
Sekarang Meira dan Devi sampai di restoran,Begitu juga Elvano,dia juga sudah sampai disana lalu masuk mencari tempat duduk yang tidak jauh dari Meira dan Devi duduk.
"Beb kasi tau akulah,apa yang membuat kamu senyam senyum tadi...?" tanya Devi yang sudah tidak sabar ingin tau apa yang membuat sahabatnya itu terlihat senang sekali. Meira perlahan membuka tasnya kemudian dia lansung memperlihatkan bukunya kearah Devi.
Taraaa..."Lihat ahkirnya aku mendapatkan buku yang aku mau beb,iiiih senangnya aku..." Ucap Meira memeluk erat kedua buku itu. Hal itu membuat Elvano yang tidak jauh dari mereka ikut tersenyum melihat tingkah lucu Meira.
"Sungguh sangat Aneh,karena buku itu dia sampai seperti itu." Guman Elvano.
"Astaga beb,aku kirain apaaan,taunya karena buku itu.benar benar kau ya beb." Ucap Devi kesal.
"Ialah,ini buku sudah lama pengen aku baca beb..,aku mau cerita sama kamu gimana aku bisa dapatin buku ini." Ucap Meira yang ingin menceritakan mengenai pertemuannya dengan Elvano tadi.
"Kamu tau,tadi aku ngak sengaja bertabrakan dengan seorang pria, kamu tau dia siapa beb...?" Devi menganggukan kepalanya ingin mendengar kelanjutan cerita sahabatnya."Siapa?" tanya Devi.
"Dia dokter yang nolongin aku Demam kemarin lalu tu beb..,ternyata dia mahasiswa di Fakultas kedokteran." Terang meira.
"Serius kamu,trus...?" Ucap Devi.
__ADS_1
Meira mengambil bukunya lalu menaikan keatas.
"Buku-buku ini dia yang meminjamkan untukku beb,ya ampun senang banget aku ketemu Doktam itu,yang ahkirnya aku bisa ketemu juga sama buku ini." Ucap Meira kembali memeluk kedua buku itu membuat Devi memgernyitkan keningnya.
"Kamu bilang apa beb?,Doktam, Apaan itu beb..?" tanya Devi penasaran.
"kamu ini beb,itu artinya Dokter tampan beb.." bisik Meira seketika itu membuat Elvano yang tidak jauh dari mereka lansung terkejut.
Apa!!dia bilang Doktam yang artinya Dokter tampan!!
Batin Elvano bicara yang kemudian dia tersenyum senang dalam maskernya.
Dasar wanita Aneh!.
Batin Elvano bicara kemudian dia kembali fokus mendengarkan pembicaraan Meira dan Devi melalui alat di telinganya yang bisa dia mendengar pembicaraan mereka meskipun berbisik.
"Dokter tampan,memangnya kamu lihat wajah aslinya,bukanya dia memakai masker dan kacamatanya beb?,kalau dia buruk rupa bagaimana?" Ucap Devi membuat Meira memukul bahu Devi.
"kamu ini ngomongnya ngina banget sih beb." Ucap Meira kesal.
"Bukannya kamu lebih parah kalau sudah ngatain orang,ia aku kan belajar dari kamu." Ucap Devi menjulurkan lidahnya membuat Meira mengacakan rambut Devi.
"Pokoknya Aku yakin kalau dia sebenarnya aslinya tampan beb.." Ucap Meira kekeh kembali membuat Elvano menyunggingkan senyumannya.
"Aku doakan semoga saja...," Ucap Devi kemudian memeluk tubuh Meira.
Kemudian Mereka berdua memulai memakan makanan mereka.
"Beb..soal buku itu,benaran dia mau pinjamin sama kamu ngak bayar?, setau aku buku itu susah nyarinya." Ucap Devi sambil mengunyah makanannya.
"Benaran beb,kamu taukah dia itu tinggal di lantai berapa sih?,Soalnya mau nanya tadi dia malah pergi begitu saja beb." Ucap Meira.
"Nggak tau aku,sama kayak aku semalam ketemu dia,dia nanyain kamu kan,ia aku jawab,eh trus dia malah pergi begitu saja udah aku jawab itu.bikin aku menyesal saja ramah sama dia." Ucap Devi mengomel.
"Dia nanyain aku semalam?"
"Emm..emm" Jawab Devi dengan mengunyah makanannya.
"Beb,aku hampir lupa.aku mau kasi tau kamu sesuatu yang menurutku aneh sih.itu samalam Frans nanyain sama aku Soal plat mobil seseorang yang tinggal satu gedung sama kita.
tunggu selesai makan aku ceritakan." Ucap Devi kembali memakan makanannya yang di angguki Meira.
Elvano yang mendengar, sedikit tertarik dengan apa yang mau Devi beritahukan kepada meira.
__ADS_1