
"Reyna!" Meira menegang mendengar suara yang memanggil namanya,begitu juga Dean,dadanya lansung bergemuruh mengetahui siapa yang memanggil Meira saat itu. Meira menoleh kearah belakangnya.
"Kak El.."
Tenggorokan Meira rasanya tercekat saat melihat Elvano benar berada disana juga.
Elvano mendekat dengan matanya dan Dean sudah saling memberikan tatapan tajam mereka tapi kemudian Elvano melihat kearah Meira.tampa meminta persetujuan,Elvano lansung duduk mendekati Meira,hal itu membuat Dean memgepalkan kedua tangannya di bawah sana.
"Kenapa kakak disini?" tanya Meira. Dada Dean semakin kembang kempis mendengar Meira memanggil Elvano dengan sebutkan kakak,berbeda sekali dengannya.
"Aku sedang mengurus pekerjaanku disini." jawabnya namun matanya menatap kearah Dean.
"Kami tidak mengundang orang lain." Elvano mengerti ucapan Dean barusan tertuju untuknya namun dia tidak perduli, dia malah kembali melihat kearah Meira.
__ADS_1
"Aku harus pergi.."Mendengar itu Meira menganggukan kepala,sedikit ada kelegaaan hati Meira rasakan Elvano pergi karena jika Elvano masih tetap bersama mereka,lama-lama mereka berdua pasti akan berdebat lagi seperti semalam,Meira tidak mau hal itu terjadi.Elvano bangun dari tempat duduknya lalu pergi dari hadapan Dean dan Meira.
"Apa kau tidak bisa seramah itu padaku..!" Meira mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Dean.
"Tidak bisakah kamu memanggil aku seperti dia.." ucap Dean.
"Kalau aku tidak mau...?" ucap Meira menatap Dean.
"Jadilah kekasihku!" Meira menautkan alisnya mendengar ucapan Dean,yang kemudian menyeringaikan senyumannya.
"Bisa jadi..."
"Aku tidak berniat menjadi kekasih siapapun untuk saat ini...!" jawab Meira serius. Dia tidak menyukai pembicaraan mengarah kepada hubungan terikat seperti pacaran.
__ADS_1
"Apa aku terlihat seperti orang tidak serius bagimu?" tanya Dean.
"Bukan begitu maksudku,aku tidak ingin menjalinkan hubungan lebih dari teman denganmu ataupun pria lain.kau tidak bisa memaksa kehendak orang lain terlebih itu aku,aku bukan wanita yang bisa kau paksa.lagi pula kau belum mengenalku dan bagaimana aku.." ucap Meira tegas.
"Karena itu,aku ingin kau menjadi kekasihku biar aku bisa lebih jauh mengenalmu..?" Meira rasanya ingin menjitak kening Dean saat ini mendengar ucapannya.kenapa pria di depannya ini tidak mengerti sekali dia beritahu.
"Kau harus bisa menghargai keputusan orang lain,jika tidak,sama saja kau akan menyakitinya.sebuah hubungan terjalin harusnya mau sama mau bukan adanya pemaksaan.Aku sangat membenci pria seperti itu." Ucap Meira.
"Baiklah,Aku tidak memaksamu.." Ucap Dean,tidak menyangka dirinya seorang Dean Albert Edizon akan di tolak seperti ini,tapi Dean kembali berpikir,apa yang Meira katakan adalah benar.
"Aku akan menerima keinginan pertamamu.." Dean mengeryitkan keningnya mendengar apa yang Meira katakan lalu tersenyum.
"Itu lebih bagus,Ayo kita makan dulu.." tampa menunggu jawaban Meira,Dean mengambil makanannya dan mulai memakannya.Meira masih melihat kearah Dean yang saat itu sudah membuka maskernya. Dalam benaknya kembali berputar,berpikir Dua pria mengelilinginya sama-sama memiliki wajah yang tampan,begitu pula dengan body mereka.Meira masih belum mengerti kenapa mereka berdua selalu ingin mengejarnya,sebenarnya apa tujuan mereka berdua.Karena itu juga Meira tidak ingin menaruh hati kepada keduanya,dia takut kedua pria itu ada niatan lain padanya.bohong! Kalau Meira tidak terpesona dengan ketampanan keduanya,namun dia bukan tipe wanita yang menampakan kesukaannya di depan orang.
__ADS_1
Meira mulai memakan makanannya, dengan sesekali matanya meliirik kearah Dean,yang saat itu seperti orang sudah terbiasa makan dengannya.tidak kecanggungan apapun dia rasakan, begitu juga dengan Meira.