
Mobil yang Davin kendarai akhirnya tiba di rumah Opa Nathan. Deysa dan Debora keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah beriringan, sementara Davin langsung meminta anak buah Opanya untuk memindahkan semua barang bawaan mereka ke dalam rumah.
"Lama sekali kalian, kak..?" tanya Maora.
"Kami masih menunggu kak Davin lagi PDKT dengan pujaan hatinya, Oma.." ucap Debora.
"Pujaan hati..? Siapa memangnya..?" Tanya Maora penasaran.
"Oma benar-benar tidak tahu..?" tanya Debora pada Omanya yang langsung menggelengkan kepala.
"Oma selalu ketinggalan informasi, Dek.." ucap Deysa tersenyum meledek.
"Siapa sih..kasih tahu Oma, benar-benar ini Oma mana tahu.." ucap Maora penasaran. Debora mendekati Omanya dan kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Omanya.
"Oma tidak tahu kalau Davin menyukai Rani selama ini..?" Maora langsung melebar matanya setelah mengetahui hal itu, lalu melihat ke arah Debora dan Deysa bergantian.
"Benar-benar yang kamu katakan..?" tanya Maora masih terkejut.
"Iya, Oma, benar..tapi Rani kayaknya tidak tertarik dengan Kak Davin..cuma tadi, aku tidak tahu bagaimana Kakak pakai jurus apa sehingga Rani mau bicara sama Kak Davin, bahkan Kakak sekarang selalu tersenyum, Oma.. kayaknya ada yang membuat dia bahagia.." ucap Debora saat bercerita.
"Emm..begitu.., Oma tidak tahu masalah itu..!" ucap Maora.
"Kalian sedang membicarakan apa sih sayang..?" tanya Nathan yang menghampiri istri dan cucunya di dapur saat itu.
"Papa tahu soal Davin?" tanya Maora.
"Soal Davin..! Soal apa memangnya..?" ucap Nathan yang belum tahu mengenai pembicaraan istri dan cucunya tentang Davin.
"Debora bilang Davin menyukai putri tertua Gerath.." ucap Maora yang membuat Nathan baru mengerti.
"Emm..masalah itu..kira-kira papa masalah lain.. Iya..papa dengar begitu!" jawab Nathan.
"Lagi membicarakan apa sih kalian..?" tanya Dean yang baru saja bergabung dengan mereka dan kemudian mengambil minuman dan meminumnya.
"Davin..D.." ucap Deysa.
"Owh..Opa, aku sudah selesai melakukan pekerjaanku..aku mau ke rumah sakit.." ucap Dean ingin pergi.
"Tunggu, D! Aku mau ikut.. Opa..Oma..aku ikut Dean.." Deysa langsung berlari mengejar kembarannya.
"Aku juga..bye, Oma..Opa.." Debora juga mengikuti langkah Deysa mengejar Dean.
"Aku senang kalau Davin bisa sama Rani, anaknya baik kok..!" ucap Maora.
"Saingan cucumu, Ricko..Mama.." ucap Nathan yang membuat Maora kaget.
__ADS_1
"Astaga..!! Kenapa begini, pa..jangan bilang nanti mereka akan bertengkar mengenai ini..!" ucap Maora.
"Biarkan saja...aku ingin melihat siapa di antara mereka yang bisa memiliki putri Gerath nanti.." ucap Nathan sambil meneguk minumannya.
"Papa ngomongnya kenapa begitu..! Cucu sama ponakan kamu, loh.. bukan orang lain itu!" ucap Maora mengingatkan suaminya.
"Aku tahu, Ma.. mau gimana lagi, biarkan saja, tidak akan terjadi apa-apa nanti, tenanglah..!" ucap Nathan.
"Baiklah, Pa..tapi kenapa mereka belum datang ya, sudah ku suruh kesini kemarin!" ucap Maora.
"Masih mendarat, Ma.. Aku lanjut lagi membantu mereka, Bareil.." ucap Nathan yang kemudian langsung mencium bibir istrinya sebelum pergi ke halaman rumah, sementara Maora menuju kamar karena merasa sedikit lelah setelah berdiri lama di belakang.
Di rumah sakit, rombongan mereka Andreu masih berada di sana, masih mengobrol bersama Mita, anak-anak, dan menantu mereka. Saat itu, mereka kedatangan Juandra dan Keyra serta putra bungsunya, yaitu Daren.
"Kak Keyra..."
"Ayura.."
Ayura langsung beranjak dari tempat duduknya lalu langsung berpelukan dengan Keyra sementara Juandra langsung bersalaman dengan Mita dan menghampiri Gerath dan Gerson.
"Kangen sekali sama kamu, Ayu.." ucap Keyra yang masih memeluk erat tubuh Ayura.
"Sama kak..aku juga, sudah lama kita tidak bertemu lagi.. bagaimana kabarmu?" ucap Ayura lalu mereka berdua mengurai pelukan.
"Sama, Kak, kami juga sehat semuanya.." ucap Ayura.
"Syukurlah kalau begitu..Sayang, salam Opa..Oma..terus salam Om sama tante ya..!" ucap Keyra, menyuruh Daren untuk menyalami satu persatu tangan mereka di sana, begitu juga dengan Ayura dan Gerson.
"Kamu sangat tampan sayang.." ucap Ayura sambil mengusap pipi Daren.
"Sudah lama kita tidak bertemu, Ger.." ucap Juandra sambil berpelukan dengan Gerson.
"Kau benar..!" jawab Gerson menanggapi ucapan Juandra, lalu melepaskan pelukannya dan mendekati Geril yang terbaring di ranjangnya, sementara Gerson mendekati Daren.
"Hey.." Gerson mengangkat tubuh Daren ke dalam pelukannya.
"Bagaimana, kau senang bertemu dengan Om?" ucap Gerson menoleh hidung Daren yang hanya mengangguk.
"Om sangat tampan..!" ucap Daren yang membuat mereka semua tertawa kecil.
"Ya, Om memang tampan..bahkan kakak perempuan kamu memuja Om..kamu tahu, Tante Ayura sampai cemburu melihat kakak kamu..!" ucap Gerson.
"Itu tidak benar kok, Nak..Om mengada-ngada saja.." ucap Ayura, membuat semuanya tertawa.
"Bagaimana rasanya, Om..?" ucap Juandra yang sudah mendekati Geril yang terbaring dan bersandar di ranjang dengan nada sedikit meledek.
__ADS_1
"Tidak sakit!" jawab Geril sambil tersenyum.
"Benarkah..?"
"Juand..jangan meledek Om kamu, lihat ulah papa kamu, perban Om harus diganti tadi karena lukanya papa kamu tekan jadi berdarah lagi...!" ucap Elisa.
"Payah kau, Om..ini hanya luka kecil..!! Kamu tidak ingat aku dulu, aku bahkan bisa membobolkan gawangku!" ucap Juandra sambil meraba perut Geril sehingga membuat Geril meringis kesakitan.
"Sialan kau, Juand.." ucap Geril yang menahan sakitnya.
"Juandra..!" tegur Mama Amira.
"Maafkan aku, Om..aku serius sekarang, bagaimana kondisi Om..?" tanya Juandra.
"Om tinggal tahap penyembuhan saja.. Mungkin besok Om sudah bisa dibawa pulang ke rumah dan di rawat di rumah saja..!" ucap Mita memberitahu.
"Begini ya.. cepat sembuh, Om.. Ger, kenapa kamu tidak meminta obat mujarab dengan Dante..?" ucap Juandra lalu berbicara dengan Gerson.
"Aku sudah menghubunginya, sepertinya manusia itu tidak sedang berada di rumahnya..!" ucap Gerson.
"Baiklah.." ucap Juandra.
"Ayura, di mana anak-anak kalian?" tanya Keyra, baru ingat mengenai Meira dan juga Raymond.
"Kalian telat! Putriku baru saja pulang ke rumah karena ingin mengerjakan tugas kuliahnya. Kalau yang sulung kami belum datang kemari pagi ini. Dia masih menggantikan Ander melihat pekerjaan kantor," ucap Ayura memberitahu Keyra.
"Hmmm, begitu. Sayang sekali aku tidak bertemu dengannya," ucap Keyra.
"Calon cucu menantu memang sangat cantik, Keyra," ucap Mama Elisa.
"Benarkah? Aku jadi nggak sabar menemuinya," ucap Keyra tersenyum.
"Itu benar. Kami semua sudah melihatnya, Juand. Kalau kamu melihatnya, entah pakai gaya apa Gerson membuat putrinya secantik itu," ucap Andreu membuat mereka semua kembali tertawa.
"Itu benar, menantuku! Aku saja ingin mengulang masa muda melihatnya," ucap Dio menimpali ucapan Andreu yang kembali membuat mereka semua tertawa.
"Aku akui Gerson memang tidak bisa ditebak!" ucap Juandra.
"Kau mengakui itu? Baguslah," ucap Gerson.
Pintu ruangan terbuka, membuat mereka semua menoleh ke arah pintu, melihat ternyata Dean bersama Deysa dan Dobera masuk ke dalam ruangan itu.
...****************...
Hai, semuanya, terima kasih selalu setia menunggu kelanjutan cerita ini. Jangan lupa berikan dukungan dengan like dan komentar yang baik untuk author, biar semangat terus update. Beberapa hari ini belum up karena lagi kurang sehat. 😊🙏
__ADS_1