Pesonamu

Pesonamu
57


__ADS_3

"Papi tau..??" Ucap Juandra menatap Andreu.


"Papi masih belum yakin jika dia yang melakukannya..??" sahut Andreu membuat Juandra mengernyitkan keningnya.


"Maksud papi,Gerson atau putranya?" Ucap Juandra masih mengira Gerson atau pun putranya mencoba mempermainkan dirinya.


"Bukankah kamu masih mengingat pesan itu,dia memanggil papi dan kamu, Paman dan Kakek..,Dari situ kita sudah bisa tau ini bukanlah perbuatan Gerson dan juga putranya.." Ucap Andreu.


"Lalu siapa?"


"Apa kau ada berkomunikasi dengan Gerson berapa hari ini?" Tanya Andreu yang lansung menyadarkan Juandra dengan ingatannya kemarin lalu dia bicara dengan Gerson.


"Tidak! Ini tidak mungkin,tidak mungkin dia.." kali ini Andreu yang mengernyitkan keningnya melihat Juandra.


"Tidak mungkin apa son?" Tanya Andreu.


"Aku rasa ini pasti perbuatan putra Dante..,pi.."Ucap Juandra memandang papinya yang itu sedikit terkejut.


"Putra Dante! Dante sky Alexander..?" Tanya Andreu.


"Ia..pi.. Hais...ini semua pasti karena cucu papi,Dean dan putra Dante itu sama-sama menggilai putrinya Gerson pi..apa Dean tidak bisa mengetahui lawannya siapa??" kesal Juandra.


"Kau tau son,cucuku kau tempatkan dimana?? Negara E,itu memang wilayah Dante sky Alexander di tambah lagi gerbang utama mereka Gerson."


"Papi benar aku melupakan hal penting itu...,tapi aku masih tidak percaya dan tidak habis pikirku,bagaimana bisa dia lansung mengetahui tempatku,bahkan sebelum Dean membukanya tadi..pi.." Ucap Juandra masih terheran miliknya bertahun lama tidak pernah di bisa diretas siapa pun namun sekarang dengan mudah bisa di diretas begitu saja.


"Papi rasa,Dean sudah mengusiknya.. son.." sahut Andreu

__ADS_1


"Anak itu..!! Tentunya pi..kalau tidak mana mungkin putra Dante itu mau melakukan ini pada kita.." Kesal juandra.


"Aku akan memberitahu Dean,lawannya bukan orang yang bisa dia remehkan..!" Ucap Andreu.


"Papi mendukung mereka memperebutkan putri Gerson itu??" Ucap juandra tidak menyangka papinya itu bisa -bisanya mendukung hal yang putranya lakukan.


"Ini takdir yang tidak bisa terelakan Juandra,siapa pun pemenangnya nanti,disaat itulah kita sebagai orang tua memberikan mereka pengertian. Bahwa mencintai seseorang tidak seharusnya kita juga memiliki,tapi jika ada kesempatan tidak bisa mengalah kenapa tidak di gunakan dengan baik.."


"Papi..sudah tua masih saja bermain licik..!" Ucap Juandra membuat Andreu tersenyum.


"Kau hadir bukankah karena kelicikanku terlebih dahulu..,dan kau mendapatkan istrimu..??" Ucap Andreu menaik turunkan alisnya.


"Baiklah,aku tidak bisa melawanmu berdebat sekarang,aku tidak mau penyakit jantungmu kumat lagi.." ledek Juandra.


"Aku tidak semudah itu mati son..." Ucap Andreu kemudian berjalan menuju Lif keluar dari ruang rahasia milik putranya..


"Dad..aku menghuatirkan putraku!. aku tidak tau kekhuatiranku karena apa..? Yang pastinya aku merasakan ada sesuatu yang akan putraku lewati dengan begitu pahitnya dad.." lirih Juandra ada ketakutan sendiri dia rasakan saat itu namun dia tidak bisa menebak karena apa.


Elvano masih memasang senyuman kepuasannya karena sudah mengerjai Dean.


"Rafa..apa kau sudah mencari yang aku minta..?" tanya Elvano.


"Tuan menurut saya,kenapa tidak anda saja lansung bertanya dengan nona siapa pemilik gelang tersebut atau bukan? Jika bukan Nona lalu darimana dia bisa mendapatkannya.." Ucap Rafa.


"Kau ini mengaturku,siapa Bosnya disini hah.."kesal Elvano.


"Dari pada mencari tau lagi,anda pun sudah tau betapa sulitnya mencari data Nona Reyna.." Ucap Rafa tidak perduli gerutuan Elvano.

__ADS_1


"Gelang itu benar-benar sama persis dengan Gelang yang setiap tahunnya aku berikan kepada wanita mata biruku tapi kenapa Gelang itu bisa berada di tempat Reyna..." Ucap Elvano begitu herannya dia.


"Apa mungkin Reyna adalah wanita mata biru??" Guman Elvano masih terdengar oleh Rafa.


"Apa anda lupa Bos,mata kita ini bisa mengunakan Soflen..?" Ucap Rafa membuat Elvano menatap kearahnya.


"Kau memang asisstennku yang paling berguna..." Ucap Elvano kemudian mencoba menghubungi Meira yang saat itu masih berbaring lelap di dalam kamarnya


tut...tut...tut...Meira belum juga mengangkat telepon dari Elvano.


"Kemana wanita ini?" Guman Elvano kembali mencoba menghubungi Meira.


"Hmm Hallo,siapa...Ini..?" Jawab Meira dengan matanya masih terpejam.


"Bangun pemalas..!!."Meira lansung membuka matanya terkejut menyadari yang menghubungi dirinya adalah Elvano.


"Ada apa menghubungiku pagi begini?" Tanya Meira kembali menguap merasakan kantuknya masih menguasai matanya.


"Ini bukan pagi,ini sudah siang..." Ucap Elvano.


"Aku tau..,Aku lambat tidur semalam karena mengerjakan tugasku,makanya aku telat bangun sekarang.!" Saut Meira.


"Makan siang aku jemput kamu.." Ucap Elvano.


"Aku lagi nggak berada di Apartemen.." Ucap Meira.


"Lalu kamu dimana?,biar aku jemput nanti siang kesana.."

__ADS_1


"Maaf kak lain kali saja kak..,Aku mau masih mengantuk.." tut...Meira lansung mematikan telepon dari Elvano membuat Elvano menatap tidak percaya Meira akan mematikan teleponnya.


"Baiklah,kali ini aku biarkan kamu lolos dariku.." Seringaian Di wajah Elvano kemudian dia menyimpan kembali ponselnya lalu lanjut berdiskusi dengan Rafa mengenai pekerjaan mereka.


__ADS_2