
"Beb..aku lihat pria itu sejak tadi melihatmu,kau mengenal dia?" Bisik Devi dengan Meira.saat ini mereka tengah berada dalam perpustakaan.
"Dia mahasiswa baru di kelas kami..?" Ucap Meira mengejutkan Devi.
"Jadi dia yang baru itu..? tampan sih, tapi maaf aku selalu mencintai Brayen..!" Ucap Devi membuat Meira tersenyum kecil.
"Kenapa kau tersenyum..?" Tanya Devi.
"Dasar budak cinta..menikah saja sana.." Meira menekan ujung bolpoinnya kearah kening Devi.
"Sakit bodoh..!!" keluh Devi mengusap keningnya.
"Sudah kan,ayo.." Ucap Meira lalu di ikuti Devi berjalan menuju kearah kasir untuk membayar pinjaman bukunya. Setelah selesai,mereka berdua berjalan beriringan keluar menuju kearah parkiran menemui Morgan yang selalu setia menunggu mereka.Mereka masuk kedalam mobil dan tidak lama Morgan melajukan mobilnya menuju suatu tempat tampa mereka ketahui kalau Irfan mengikuti mereka.
"Aduh...Bray..kau gila hah! Kenapa mengerem mendadak bodoh!" pekik Meira sakit keningnya terbentur kening Devi.
"Sialan kau Bray.." Kesal Devi mengusap Keningnya juga.
"Maafkan aku..Diamlah kalian sebentar.." Ucap Morgan sangat Dingin membuat Meira dan Devi lansung terdiam saling pandang dengan kebingungan.
"Siapa dia beraninya mengikuti kami,ini bukan kekuatan biasa..siapa dia..?." Batin Morgan bicara dengan matanya terpejam.
"Bray...hey..kau tidak apa?" Meira menanyai Morgan dengan memegang pundak Morgan dengan perlahan.
"Tutup mata kalian,sebelum aku mengatakan boleh di buka,jangan kalian buka.." Ucap Morgan kembali Dingin membuat Meira dan Devi saling pandang lagi.
__ADS_1
"Baiklah.." Ucap mereka menuruti ucapan Morgan.Meira dan Devi memejamkan matanya dan saat melihat mereka berdua memejamkan matanya, Morgan lansung menghilangkan Mobil mereka dengan kekuatannya.Demi menghindari kecurigaan kedua sahabatnya,Morgan membuat Meira dan Devi tertidur.
"Dimana mereka..tadi aku melihatnya disini..?" Guman stefan mencari cari keberadaan Morgan membawa Meira dan Devi barusan.Stefan tidak menyadari kalau tidak jauh darinya berdiri,Mobil Morgan berada.
"Apa dia pria yang kak El maksud..siapa dia sebenarnnya..?" pertanyaan keluar dari mulut Morgan saat itu sembari menatap Stefan masih mencari keberadaan Morgan.
"Aku harus menghubungi Kak El.." Morgan memejamkan matanya.
"Kak kau dimana? pria yang kau curigai di depan kami..tapi bagusnya dia tidak bisa melihat kami.." Ucap Morgan memberitahu.
"Pergi dari sana sekarang juga..aku belum bisa memastikan dia atau bukan, tapi melihat dari hawa kekuatannya sekarang kemungkinan besar ia.." Jawab Elvano.
"Baiklah..Aku akan mengantar mereka kembali keApartemen." Ucap Morgan lalu menghentikan komunikasi mereka.
"Apa ini yang papa katakan sudah saatnya,dia akan datang..?" Guman Elvano mengusap wajahnya.
"Pa.." Elvano menyapa Papanya. Elvano duduk menghadap papanya.
"2 bulan lagi Bulan purnama merah! Ini hal yang sangat langka dan tidak pernah terjadi di masa generasi papa bahkan sebelumnya.Itu artinya sudah saatnya apa yang pernah kakek buyutmu katakan mungkin akan terjadi sebentar lagi dan itu artinya kita harus siap melindunginya kalau benar dialah anak manusia yang terpilih..papa tidak pernah percaya akan hal itu tapi saat melihat posisi bulan dan tahun ini sangat tepat sekali dengan perkataan kakek buyut, papa pun merasa ini sangat menakutkan sekali untuk berahkirnya kita El.." Dante mengusap wajahnya begitu nampak di raut wajah Dante terlihat ketakutan.
"Papa sudah memberitahu Om Gerson mengenai ini..?" Ucap Elvano.
"Om sudah mengetahui hal ini bahkan dia tau siapa kita sebenarnya.." Ucap Dante melihat kearah putranya.
"Apa papa tidak bisa mencari cara lain menghentikan ini terjadi..?" Ucap Elvano.
__ADS_1
"Rodolfir sudah di bicarakan 1000 tahun yang lalu bahkan sebelum kakek dan papa di lahirkan.Tahun k 7 purnama merah,mereka akan muncul saat anak manusia yang sudah terpilih genap berusia 17 tahun..itu artinya Tahun ini.." Ucap Dante masih menatap Putranya.
"Menurut kakek buyutmu,jika keturunan Putra Mahkota Alexander yang Ke 7 melakukan pengorbanan dengan penyatuan Darah murni maka besar kemungkinan kita bisa mengalahkan mereka ataupun menghabisi mereka semua tapi hanya saja itu sekedar pembicaraan belaka.."Ucap Dante.
"keturuanan k 7,bukankah itu aku..?"Elvano menebak.
"Itu memang kamu,tapi pergorbanan yang di bicarakan kakek buyut kalian tidak tau mengorbanan seperti apa yang harus di lakukan..Jika papa tau,papa juga tidak mau kamu melakukan itu El.." Ucap Dante.
"kenapa papa tidak mau?Apa yang papa takutkan? Bukankah kita tidak bisa mati?" Ucap Elvano.
"Jangan salah putraku! Jika benar terjadi rodolfir benar muncul seperti dalam surat terahkir kakek buyut kalian, dia melakukan pemandian dengan Darah suci di malam bulan purnama merah,maka kita semua akan musnah El.." jelas Dante membuat Elvano terdiam.
"Aku akan melakukannya kalau itu bisa membuat kita selamat bahkan menyelamatkan Darah suci itu..?" Ucap Dante.
"Bagaimana? Kakek buyut tidak menerangkan bagaimana caranya saat dia membuat surat terahkir itu.." Ucap Dante.
"Kita pasti bisa menemukan caranya pa, papa cukup mengijinkan aku melakukannya.." Ucap Elvano serius.
"Ini sangat mustahil El.." ucap Dante.
"Pa..Generasi ke 7 kami berempat, percayakan kami melakukannya..bukan kah papa menemukan ramuan Keabadian.." Ucap Elvano.
"Papa tidak yakin nak.. Ramuan keabadin berhasil di gunakan kepada mereka berasal dari manusia sesungguhnya,contohnya seperti Mama kamu.." mendengar itu Elvano mendekati papanya lalu memeluk papanya.
"Percayakan semua padaku pa..aku yakin kita bisa melewati semua ini.." ucap Elvano.
__ADS_1
"Papa tetap tidak mengijinkannya tapi papa akan membantu mencari caranya lain selain pengorbanan itu..." Ucap Dante.
"Baik pa.." Ucap Elvano mendapati usapan belakangnya dari papanya.