Pesonamu

Pesonamu
96


__ADS_3

"Bos di depan,Ada nona Anelika.." Ucap Beni.mendengar itu Deysa menghentikan makannya lalu menoleh kearah Raymond.


"Katakan padanya,tunggu aku di ruangan biasa!" ucap Raymond.


"Baik Bos.." Ucap Beni kemudian keluar dari ruangan itu untuk segera menyampaikan pesan Raymond dengan Anelika sedangkan di dalam Raymond menyudahi makannya.


"Kamu tunggu disini!" Ucap Raymond kemudian bangun lalu keluar dari ruangannya itu menuju ruangan yang di sudah ada Anelika disana.


"Siapa Anelika? Apa dia kekasihnya.. Benarkah..? Aku harus mencari tau?" Deysa pun keluar dari ruangan Raymond keluar mencari ruangan tempat Raymond dan Anelika bertemu.


"Nona,Anda mau kemana?" Tanya Beni melihat Deysa keluar.


"Ems..Raymond tadi kemana?" Tanya Deysa.


"Bos sedang metting bersama Nona Anelika.nona,Bos berpesan anda tunggulah beliau di ruangan.." Ucap Beni.


"Baiklah,Ems..kalau boleh tau Nona Anelika itu siapanya Raymond..?" Ucap Deysa bertanya.


"Maaf nona,sebaiknya Nona tanyakan saja dengan Bos..saya permisi." Ucap Beni kemudian pergi dari sana. Melihat itu Deysa kembali kesal.


"Dia kenapa sih,susah sekali ngasi tau.. Tinggal jawab pun susah banget..ya ampun kok aku penasaran gini sih.." kesal Deysa dengan dirinya sendiri yang ingin tau sekali mengenai Raymond. Deysa masuk keruangan Raymond lagi lalu duduk disana sembari memainkan ponselnya namun karena merasa Raymond belum juga kembali,Perlahan Deysa memejamkan matanya yang kemudian dia tertidur lelap.


Di ruangan lain.


"Ray,Aku dengar kau kemari bersama seorang wanita,apa dia kekasih kamu?" Ucap Anelika yang ternyata kakak sepupunya Raymond.


"Bukan siapa-siapa hanya teman.." Sautnya.


"Payah kamu,selalu saja hanya teman..?" kesal Anelika membuat Raymond tersenyum.


"Lalu kau mau aku apa? Jangan membahas masalah wanitaku! Bagaimana kehamilanmu sehat..?" Ucap Raymond.


"Hais kau selalu mengalihkan pembicaraan,tentu saja aku sehat.. Kalau nggak aku nggak mungkin bisa kemari.." Ucap Anelika.


"Baiklah,Beritahu Rehan jangan tiap saat.." ucap Raymond mengoda Anelika yang lansung mendapatkan tabokan dari Anelika.


"Menikah sana..Enak tau aku aja ketagihan.." ucap Anelika membuat Raymond lansung tertawa lepas.


"Dasar bucin..belum saatnya." ucap Raymond.


"Baiklah,Ray bagaimana dengan adik?,aku dengar dia sedang di perebutkan dua pria yang tidak biasa.." Ucap Anelika.


"Biarkan dia memilih..tapi sekarang bukan itu yang aku pikirkan melainkan hal lain Ane..!" Ucap Raymond lalu murung.


"Semangat ya..Beritahu kami kalau ada apa-apa dengan Meira,dia juga adik kami juga..ya sudah aku mau pulang, kalau bisa mampirlah kerumah Mama, ingin bertemu denganmu.segera temui wanitamu itu,nanti dia berpikir yang lain mengenai kita sekarang.." Ucap Anelika.

__ADS_1


"Kau! aku sudah bilang bukan wanitaku, kau ini..sudahlah,jaga ponakanku baik - baik..Ayo aku antar kamu sampai depan.." Ucap Raymond lalu membawa Anelika keluar.saat bersamaan Deysa juga keluar namun dia terkejut melihat Raymond tengah di gandeng oleh seorang wanita membuat Deysa bersembunyi dari balik pintu.


"Siapa wanita itu? Kenapa Raymond perduli sekali,bahkan sepertinya wanita itu sedang hamil..kenapa dia sampai merangkul tangan Raymond..?" Pikiran Deysa yang penuh pertanyaan sudah berkeliaran kemana mana.


"Tidak mungkin..tidak mungkin.."


"Tidak mungkin apa??" Ucap Raymond mengejutkan Deysa yang saat itu lansung menggelengkan kepalanya.


Raymond mendekati Deysa sampai Deysa tersudut kedinding.Saat itu juga Raymond menyentil kening Deysa.


"Aukh..sakit tau.." Keluh Deysa mengusap keningnya baru saja di sentil Raymond.


"Buang Jauh-jauh pikiran kotormu itu..!" Ucap Raymond lalu berjalan menuju sofa.


"Dasar aneh,siapa yang berpikiran macam-macam..!" Kesal Deysa mengerutu.


"Bisakah antar aku pulang,Aku ada janji dengan teman-temanku.." Ucap Deysa.


Mendengar itu Raymond melihat jam di pergelangan tangannya.


"Baru jam 3 sore bukannya kalian janjian jam 7 malam.." Ucap Raymond mengejutkan Deysa.


"Kamu,kamu kenapa bisa tau kalau aku.." Ucapnya terputus.


Mereka berdua keluar dari ruangan itu menuju parkiran.setelah masuk kedalam mobil Raymond melajukannya menuju Apartemen Deysa.


"Kamu tau tempat tinggal aku?" Ucap Deysa terkejut lagi Raymond yang mengetahui Apartemennya.


"Kamu tidak mau mengajakku melihat Apartemen kamu?" bukannya menjawab Raymond melainkan bertanya balik dengan Deysa.


"A..aku tidak pernah membawa seorang pria ketempatku!" Ucapnya.


Mendengar itu Raymond tersenyum tipis.


"Maksudku pria lain selain Dean dan juga Daddyku!" Sambung Deysa.


"Aku mau menumpang mandi sebentar bisa..?" Raymond bicara lalu menatap Deysa membuat Deysa semakin gugup saat itu.


"Ems Baiklah..Ayo.." Ucap Deysa terpaksa membawa Raymond masuk keApartemennya.


Sampainya diatas,Deysa membuka pintu Apartemennya dan saat itu juga mata Raymond menelisik semua ruangan dalam Apartemennya.


"Aku mengira kamu berantakan.." Ucap Raymond membuat Deysa melebarkan matanya ingin kesal.


"Kamu pikir aku wanita yang tidak suka melakukan pekerjaan rumah..?" Ucap Deysa.

__ADS_1


"Aku tidak mengatakan begitu tapi kamu yang bicara.." Ucap Raymond menatap Deysa yang saat itu.Deysa mengalihkan pandangannya lalu masuk kedalam.


"Duduklah,aku mau kekamar dulu.." Ucap Deysa kemudian lansung berjalan menuju kamarnya sedangkan Raymond duduk perlahan di sofa ruang tamu.


"Apartemennya cukup nyaman.." Gumanan Raymond melihat sekeliling ruangan itu yang bernuansa putih.tidak lama Deysa kembali dengan pakaian rumahan menghampiri Raymond.


"Kamu mau minum?" Tanyanya.


"Kalau kamu suguhkan aku minum!" Jawabnya dan saat itu Deysa lansung beranjak menuju dapurnya lalu membuat minuman teh kemudian kembali lagi menghampiri Raymond sembari meletakan air minum itu di depan Raymond.


"Silahkan di minum.." Ucap Deysa.


Raymond mengambil Cangkir itu lalu mencoba minuman teh buatan Deysa.


Tidak buruk pikir Raymond dalam hatinya sembari meneguk air minumnya.


Saat itu tatapan mereka kembali bertemu membuat suasana menjadi canggung.


"Kamu.." Ucap mereka bersamaan yang menambah kecanggungan mereka berdua.


"Bicaralah.." Ucap Raymond.


"Ems..Kamu sering kemari?" Tanya Deysa.


"Tidak juga..Kenapa?"Ucap Raymond yang mendapatkan gelengan kepala dari Deysa.


"Tadi kamu bilang mau mandi kan,kamu bisa Mandi di kamar tamu.." Ucap Deysa.


"Aku hanya bercanda.." Ucap Raymond membuat Deysa mengernyitkan keningnya.


"Aku mau kembali,terimakasih minuman Tehnya,tidak buruk.."Ucap Raymond bangun begitu juga dengan Deysa kemudian berjalan mendekati pintu.


"Aku pergi.." Ucap Raymond yang di angguki Deysa kepalanya.Raymond pun pergi dari sana di lihat Oleh Deysa sampai di menghilang di balik Belokan menuju Lif.


"Astaga tu orang ketempatku hanya ingin minum saja..bikin kesal saja..!" Gumanan Deysa masuk kembali kedalam Apartemennya.


Di luar Raymond bukannya keluar melainkan menekan tombol Lif menuju kamar pribadinya di lantai atas gedung itu.Deysa tidak mengetahui kalau Gedung Apartemen yang menjulang tinggi itu sebenarnya milik keluarga Raymond.


Sesampainya di Apartemennya, Raymond pun lansung masuk kekamarnya lalu berbaring diatas tempat tidurnya.


"Apa apaan aku..!" Gumannya memejamkan matanya lalu kembali membukanya dengan mengukir senyumannya.


"Tapi dia sangat berbeda.." Gumanannya.


"Hais...lebih baik aku mandi saja,aku sudah gila terus memikirkan wanita itu.." Gumanannya lagi lalu bangun menuju kamar mandi untuk segera membersihkan tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2