
"Astaga dimana ini..?" Pekik Devi kemudian baru tersadar kalau dia berada dalam kamar Meira.Dia menoleh kesamping melihat Meira masih tertidur lelap.
"Beb..bangun,beb..bangun.." Devi mengoyang goyangkan tubuh Meira menyuruhnya bangun.
"Apaan sih!aku masih mengantuk..sana jangan ganggu!."kesal Meira kembali memeluk erat guling kesayangannya dengan matanya masih terpejam.
"Ih kau ini! bangun dulu...bangun...kamu sadar nggak kita sekarang dimana..? Bukannya tadi kita berada dalam mobil Morgan? Bangun...hey..Meira.." Devi terus memaksa Meira bangun.dengan terpaksa Meira bangun sembari mengosok matanya.
"Kamu sadar nggak kita sekarang berada di kamar kamu,nggak kah tadi kita di mobil Morgan Beb..." Ucap Devi mengulang ucapannya sembari mengoyangkan tubuh Meira lagi.
"Morgan!"Mata Meira lansung terbuka lebar lalu melihat kearah kiri kanannya.
"Ah ya ini kamarku!,kenapa kita bisa di kamar ya..Aneh tapi bisa jadi Morgan sama kak Kenzi mindahkan kita Devi.. Sudahlah,pastilah itu.." Ucap Meira kembali berbaring lagi.
"Masa sih..?nggak kah kita tadi mau pergi makan bersama dengan Morgan.." Devi lalu mencium bau bajunya lalu baju Meira.
"Kamu apaan sih beb,cium segala baju aku.." kesal Meira.
"Aku masih penasaran kenapa kita bisa berada di kamar ini,kalau kita mabuk mungkinlah kita nggak ingat..aku mencium baju kita mencari aroma minuman tapi nggak ada.." Ucap Devi memberitahu Meira.
"Mabuk dari mana hah,kau lupa Morgan saja nggak pernah ngijinkan kita minum minuman beralkohol.." Ucap Meira membuat Devi tersadar.
"Ia juga sih!tapi kenapa bisa kita tertidur begini sampai nggak ingat kak Kenzi memindahkan kita..serius deh aku belum percaya beb.." Ucap Devi masih penasaran dengan mereka bisa berada di kamar sekarang.
"Tauh ah.." Meira lansung bangun lalu berjalan menuju kamar mandinya.
__ADS_1
"Beb jangan lama di kamar mandinya.." pekik Devi.
"Mau ikut mandi ya tinggal masuk ngapa sih kau..!"Kesal Meira membuat Devi lansung cepat mengikuti Meira masuk kedalam kamar mandi.Mereka berdua mandi bersama saat itu.
Di lain tempat.
Dean tengah memikirkan siapa yang mengirimkan pesan teror padanya tapi dia selalu mencurigai Elvano yang melakukan itu.
"Aku tidak percaya begitu saja dengan kau,Elvano..pasti kau yang mengirimku pesan seperti ini,selain kau tidak ada lagi orang lain lagi bersaing memperebutkan Meira.."Gumanan Dean sembari memutar mutarkan ponselnya.
"Kenapa lagi kau kak..?" Ucap Davin sembari duduk mendekati kakak sepupunya itu dan saat itu juga Dean memberikan ponselnya kearah Davin yang lansung Davin lihat pesan masuk tersebut.
"Pesan misterius ini lagi?kau sudah menanyakan dengan Elvano itu mengenai ini?" Ucap Davin.
"Sudah tapi dia terus mengatakan bukan dia yang mengirimnya dan terus mengatakan juga lagi pula untuk apa dia mengirim pesan tidak penting seperti ini,katanya.." Ucap Dean mengikuti ucapan Elvano tadi.
"Tapi dia selalu memberikan teka teki yang sulit aku mengerti Davin..?" Ucap Dean.
"Teka teki? Maksudnya bagaimana..?" Ucap Davin ikut bingung.
"Tadi Dia mengatakan agar aku ikut Menjaganya meski dia tidak yakin aku akan bisa menjaganya..?" Ucap Dean membuat Dean dan Davin berlarut dengan pikiran masing-masing
"Menjaganya..maksud kakak siapa yang harus di jaga?" Ucap Davin.
"Meira.." Ucap Dean membuat Davin semakin bingung.
__ADS_1
"Meira..kenapa dengan Meira,kenapa harus ikut menjaganya,memangnya dia dalam bahaya saat ini?" Ucap Davin bertanya beruntun.
"Entahlah,Aku juga tidak mengerti dengan ucapan Elvano.musuh Om Gerson tentu saja pasti ada yang mengincarnya tapi aku yakin Om Gerson tidak akan lengah tapi masalah ini,apa yang Elvano bicarakan sepertinya bukan ini tapi hal lain.." Ucap Dean.
"Hal lain? Hal seperti apa?,lebih baik kita cari tau saja kak dari pada kita kebingungan seperti ini..atau baiknya kau baik-baiklah dengan Elvano itu atau berteman saja,ini demi Meira kak.." Ucap Davin lansung mendapat tatapan tajam dari Dean.
"Dengarin aku kak,berteman untuk bisa mencari tau apa yang sebenarnya terjadi maksudku kak..kalau soalnya mendapatkan hatinya Meira tentu saja itu urusan kalian..bagaimana saranku?" Ucap Davin membuat Dean terdiam dan berpikir mengenai ucapan adik sepupunya itu.
"Haruskah aku melakukan itu?" Ucapnya
"Menurutku itu jalan yang terbaik untuk semantara ini,ya kau memang harus berbaikan dengannya.. " Ucap Davin lagi.
"Fran bilang di kelas Meira ada mahasiswa baru,namanya stefan..Dia selalu melihat Meira kak.." Ucap Davin.
"Aku sudah tau,besok aku sendiri yang akan melihat seperti apa pria yang berani mengarahkan matanya dengan Meiraku..!" Ucap Dean.
"Aku mendapatkan gambarnya.." Ucap Davin sembari membuka ponselnya lalu memperlihatkan foto Stefan kepada Dean.seketika itu Dean melihat dengan serius wajah Stefan.
"Pria ini..kenapa wajagnya sangat pucat sekali,bahkan hawanya sangat dingin..?" Ucap Dean.
"Aku juga merasa begitu saat melihatnya tadi kak..sebaiknya kita harus berhati-hati kak..entah kenapa aku merasa setelah melihat wajahnya ada hawa negatif dia keluarkan kak.." Ucap Davin.
"Kau benar..dia sangat berbeda! Besok kita lansung melihatnya." Ucap Dean.
"Ia kak..keluar yuk,aku sangat lapar.." Ucap Davin membuat Dean bangun mengikuti Davin bangun kemudian mereka keluar bertemu dengan Frans dan pergi dari Apartemen itu menuju tempat untuk mereka makan malam.
__ADS_1
"Baiklah,akan aku coba.." Ucap Dean mendapatkan anggukan Davin saat itu.