
Di Negara E
Pagi ini Elvano tidak pergi kekampusnya melainkan kekantor papanya namun saat dalam perjalanan itu dia kembali mendapatkan pengelihatan yang membuatnya menghentikan laju kendaraannya.
"Ada yang berusaha melacakan keberadaanku,Aku harus memberitahu Papa.." Ucapnya lalu kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju kantor.Tidak lama dia datang dan lansung berjalan masuk menuju ruangan kerja Papanya.
"Pa aku melihat mereka yang ingin mencari keberadaanku.." Ucap Elvano memberitahu.
"Cepat atau lambat mereka akan tau siapa kita sebenarnya..Kita harus mempersiapkan semuanya untuk mengalahkan mereka.." Ucap Dante.
"Papa Benar..Mengenai senjata itu bagaimana pa,apa mungkin bisa memusnahkan mereka..?" Ucap Elvano.
"Papa sudah mengujinya dengan Mengorbankan salah dari kita,berhasil.. Tapi papa masih ragu El,yang papa takuti,mereka ketika memiliki Ramuan keabadian." Ucap Dante kemudian terdiam.
"Papa jangan terlalu khuatir..aku akan melakukan apapun untuk menyelamatkan kita semuanya.." Ucap Elvano.
"Aku akan mengurus semuanya,kamu lindungi Meira..Meira wanita yang mereka inginkan Al.." Ucap Dante mengejutkan Putranya.
"A..apa maksud papa..?" Ucapnya.
"Ia..semalam Papa mendapatkan penampakan dari kakek buyutmu..Meira lah wanita yang berdara suci itu..Dia lah yang di cari mereka." Ucap Dante membuat Elvano semakin takut.
"Ba..bagaimana mungkin...?" Ucap Elvano masih tidak percaya.
"Ini takdir Al..Kamu juga tidak akan bisa menentukan takdir seseorang.Mulai sekarang Awasi Meira,jangan sampai lengah.."Ucap Dante memberi putranya peringatan.
"Bagaimana dengan Om,apa dia tau mengenai ini..?" Ucap Elvano bertanya. Dante mengusap wajahnya dengar kasar.
"Hari ini Om Gerson kemari,nanti papa memberitahunya.." Ucap Dante
__ADS_1
"Baru kali aku melihat papa seperti ini pa..papa sangat khuatir sekali.." Ucap Elvano melihat papanya.
"Aku tidak takut dengan mereka tapi aku takut mengecewakan Om Gerson kamu..Dia tidak tau putriNya lah yang di takdirkan untuk menentukan kehidupan kita El." Ucap Dante menatap putranya.
"Aku tidak akan membiarkannya terjadi Pa..Aku kerumah sakit dulu..!" Ucap Elvano pamit lalu pergi dari ruangan papanya untuk segera menuju kerumah sakit.
Di lain tempat,di kampus Meira.
Meira tengah berjalan menuju ruangan kelasnya namun dia bertemu dengan Stefan.
"Hay..."Stefan menyapa Meira dengan tersenyum namun Meira tidak menjawabnya.
"Aku belum mengerjakan tugasku!" Ucap Stefan.
"Itu Urusanmu,bukan urusanku..!" Jawab Meira meneruskan langkahnya yang di ikuti Stefan.
"Sebagai teman,bantulah aku sedikit saja..aku tidak tau satu saja.." Ucap Stefan.
"Kau pelit sekali..!" Stefan berpura-pura kesal dengan Meira.
"Aku tidak perduli..!" Ucap Meira masuk kedalam kelasnya begitu juga dengan Stefan.
Sejak tadi Stefan terus mengembangkan senyumannya melihat kearah Meira.
Meira menyadari itu,namun dia sengaja tidak memperdulikan Stefan.
"Menarik!Dia wanita yang sangat menarik..Sepertinya dia juga wanita yang sangat cantik..tapi dia sengaja menyembunyikan kecantikannya..!" Batin Stefan bicara.
"Ingat tujuanmu Tuan.."Suara menghentikan Stefan membayangkan Meira.
__ADS_1
"Aku tau,apa salahnya aku menganguminya..!"Ucap Stefan.
"Jika Ketua tau,kau akan mendapat masalah..!" Suara itu bicara lagi.
"Diamlah!!" Kesal Stefan.
Kelas mereka di mulai,mereka semua serius mendengar pembelajaran dari Dosen sampai 1 jam lebih kemudian barulah mereka selesai.Meira mengemas Bukunya lalu ingin keluar dari ruangan itu.
"Tunggu!" Meira terpaksa menghentikan langkahnya lalu menoleh kearah Stefan.
"Ada Apa?"Tanya Meira
"Kamu kan sudah lama tinggal di kota ini,pasti tau dimana letak toko barang antik..?" Ucap Stefan. Mendengar itu Meira jadi bingung apa harus mengatakan dia tau atau tidaknya. Kalau berbohong rasanya tidaklah baik pikir Meira.
"Pergilah kejalan jalur kiri sebelum toko bunga mawar kamu akan menemukan tokonya."Ucap Meira lalu dia pun pergi dari sana meninggalkan Stefan tersenyum.
"Aku punya rencana lain..!" Gumanannya.
"Aku yakin tidak akan berhasil Tuan, jangan melakukan hal yang membuat ketua marah..anda hanya di suruh memastikan kalau wanita ini adalah benar wanita yang di takdirkan untuk kelansungkan kehidupan kita Tuan..!" seru suara itu.
"Kau berisik sekali..!" Kesal Stefan melangkahkan kakinya menuju kebawah menuju parkiran.sampainya di bawah, dia melihat pria yang sama semalam bertemu dengannya.
"Bukankah kau bukan anak kampus disini,lalu kau disini??" Stefan sengaja bertanya seperti itu.
"Jauhi Meira..!"
"Kenapa aku harus menjauhinya,apa dia kekasihmu..bukan kan??" Ucap Stefan tersenyum sinis.
"Kau..!!" Geram pria yang tidak lain adalah Dean.
__ADS_1
"Aku tidak pernah takut dengn ancamanmu,mulai sekarang kaulah yang harus berhati-hatilah bicara denganku,aku bahkan bisa melenyapkan nyawamu saat ini juga jika aku mau..!"Ucap Stefan yang saat itu bola matanya sudah berubah menjadi memerah hitam.Dean yang melihat itu sedikit terkejut melihat perubahan Mata Stefan sedangkan Stefan lansung pergi dari sana.
"Siapa dia sebenarnya?Aku baru melihat orang seperti dia..Aku harus bertemu dengan Elvano,dia pasti tau mengenai Stefan..! Aku mengkhuatirkan Meira.." Ucap Dean masuk kedalam mobilnya lalu melajukannya menuju suatu tempat.