
"Tuan Gersonander di depan semua keluargaku dan Kamu orangtua Meira.. Aku Dean ingin mengatakan kalau aku menyukai Zameira Reyna..Ijinkan aku menjadikan Meira Menjadi Kekasihku.." mendengar Ungkapan perasaan Dean saat itu membuat semua keluarganya dan juga orangtua Meira saling pandang sedangkan Meira sungguh terkejut sekali dia mendengar apa yang Dean katakan di hadapan kedua orangtuanya dan juga keluarganya yang lain begitu juga keluarga Dean juga.
"Aku menolakmu!"
~
"Kak.." Davin menyentuh tangan kakaknya itu membuat Dean tersadar dari lamunannya.
Dean baru menyadari kalau barusan dia hanya perasaan halunya.Dean menoleh kearah Meira yang saat itu sedang sibuk bicara dengan saudara sepupunya.saat itu mereka sudah selesai dengan acara makan malam itu. Para orangtua mereka tengah mengobrol bersama.
"Kau kenapa kak..?" Tanya Davin.
"Tidak!" Jawabnya bangun lalu berjalan mendekati Meira.
"Ikut denganku!" Dean menarik tangan Meira membawa Meira menuju kearah tepian kolam yang tidak jauh dari taman itu.
"Kenapa membawaku kemari?" ucap Meira.
"Apa kau menyukai Elvano?" Meira bingung dengan Dean saat itu.
"Kenapa menanyakan itu terus,itu privasiku menyukainya atau tidak..!" Jawab Meira.
"Jawab Aku! Supaya aku menyadari dan aku bisa menerima kenyantaan!" Ucap Dean.
__ADS_1
"Kamu ini kenapa?aku tidak mau menjawab!" ucap Meira menatap Lekat Dean.
"Kalau begitu jadilah kekasihku!" Ucap Dean mengejutkan Meira dan perlahan Meira mengangkat tangannya lalu menempelkan tangannya kekening Dean.
"Tidak panas.." Ucap Meira seketika itu tangannya di tahan Dean.
"Aku serius!" Ucap Dean yang saat itu lansung mendapatkan senyuman dari Meira.
"Ini kedua kali kamu mengatakan itu padaku! Maafkan aku,aku belum ingin menjadi kekasih siapapun..aku harap kamu mengerti ucapanku!" Ucap Meira.
"Apa ini karena Elvano itu?" Tanya Dean.
"Kenapa kamu selalu menyangkut pautkan semuanya dengan Kak Elvano, ini selama sekali tidak ada berhubungan dengan dia,sama sekali..! Kamu lihat kesana.." Ucap Meira lalu menyuruh Dean menoleh kearah samping mereka yang ternyata Velysa tengah mengawasi mereka.
"Berani sekali kau!" Amira menatap kesal Dean.
"Aku tidak pernah menerima penolakan!" Ucap Dean semakin membuat Meira kesal.
"Dan aku tidak suka di paksa..! Lepaskan aku!" Ucap Meira.
"Berusahalah lepas dariku kalau kamu bisa.." Ucap Dean mengedipkan matanya kearah Meira.Meira mengangkat tangannya lalu memegang kedua pipi Dean perlahan Meira mendekatkan wajahnya kearah Dean membuat dada Dean perlahan mulai berdegup kencang.
"Kau mau apa?" Tanya Dean namun tidak di jawab Meira,malahan Meira semakin mendekatkan wajahnya kearah Dean seakan seperti ingin menciumi bibir Dean.seketika itu Dean memejamkan matanya,dan saat itu juga Meira mengambil kesempatan lepas dari Dean dengan mencubit kulit perut Dean dengan kuatnya.
__ADS_1
"Aukh...****..hey kau berani sekali mengerjaiku!!" pekik Dean yang saat itu mendapat juluran lidah dari Meira sembari tersenyum puas karena sudah mengerjai Dean.
"Tunggulah,aku bahkan tidak akan melepaskan kamu Meira.." Ucap Dean tersenyum.
Di lain tempat.
Raymond tengah duduk dengan Doni namun mereka kedatangan Deysa bergabung duduk dengan mereka. Melihat itu,Doni lansung pamit pergi membiarkan Raymond dengan Deysa berdua.
"Maaf soal kemarin!" Ucap Deysa yang saat itu membuat Raymond menoleh kearah Deysa yang saat itu juga menoleh kearahnya.Raymond tidak menjawab melainkan kembali meneguk minumannya.
"Kamu masih marah dengan kami?" Ucap Deysa lagi namun lagi-lagi tidak di jawab Raymond.
"Jawab aku?" Ucap Deysa.
"Apa maumu mendekatiku?" Ucap Raymond tampa menoleh kearah Deysa.
"Heh..aku ingin mendekati kamu? Jangan terlalu kepedean jadi orang..!" Ucap Deysa mulai kesal.
"Alasanmu kemari meminta maaf,bukan tujuanmu!" Ucap Raymond membuat Deysa melototkan matanya.
"Menyesal aku merasa bersalah dengan kau!" Deysa lansung pergi dari sana dengan perasaan kesal sekali dengan perlakuan Raymond.
"Menarik!" Gumanan Raymond tersenyum melihat kepergian Deysa.
__ADS_1