
di pintu masuk bioskop berry sudah memberi 2 buah pop corn dan satu botol teh dingin kemasan..
"Olivia ayo kita masuk " ajak berry
"iya " oliv pun mengikuti langkah berry dari belakang
rupanya no kursi berry dan Olivia itu nomor 25 dan 26 di sisi pojok
"ternyata kita dapat di pojok , baguslah " berry tersenyum
"dokter apa maksud anda jika ini bagus? " Olivia menaikan alisnya
"gak apa -apa, emang apa yang kamu pikirkan " berry kembali tersenyum
bioskop sudah dalam keadaan gelap, penuh dengan pasangan muda mudi yang bak drakor yang saling berpegangan tangan, apalagi ini film horor..
tepat di barisan depan ada yudha dan vanila yang nampak tersenyum bersama yudha dengan tangan saling mengait erat
"kenapa? di tempat begini harus ketemu mereka sih " Olivia bete
vanila yang mendengar sayup.. suara oliv pun menoleh ke belakang
"Olivia, berry kalian juga di sini? " sapa vanila
"wah, vanila kamu juga di sini " jawab berry
"iya, aku ingin nonton romantis bersama suami ku "
mendengar ucapan vanila terkesan sweat, rupanya bikin telinga oliv panas juga
"romantis kok, nonton horor " Olivia manyun
"justru itu romantisnya, jika hantunya muncul.. vanila akan memeluk ku erat " yudha ikut menoleh ke belakang..
"thats right, jendral itu paling romantis " sahut berry..
dokter berry bela aja terus gadis itu..
"ya udah, ngadep depan filmnya udah mulai tuh " olive judes
"iya dong, ayo sayang kita lanjutkan scene romantis kita " peluk yudha pada vanila
mata Olivia tidak bisa bohong jika dia bete setengah mati..
"katanya udah move on, pegang tangan ku aja biar kamu gak baper lihat yudha vanila " berry genggam erat tangan Olivia
"gak, kita bukan muhrim " olive menolak
kalau begitu, besok aku halalin kamu "bisik berry
__ADS_1
salting.. olive makin salting..
satu setengah jam.. film pun usai vanila dan yudha pun brniat ingin makan malam
" vanila kalian mau kemana? "tanya berry
" makan, aku sama mas yudha laper "
"kita double date yuk, kita makan satu meja "
vanila melirik aneh pada berry dan menatap suaminya
"ok, aku setuju, mungkin dokter berry dan dokter Olivia ingin melihat ke romantisan kita sayang " yudha pun tersenyum
prayudha erlangga polisi, kaku dan sedikit bicara hari ini begitu berubah banyak senyum di wajahnya, terlebih mata yudha menatap vanila penuh cinta sungguh yudha yang dingin sudah hilang, berubah jadi yudha penuh cinta.. dan itu karena vanila si gadis penakluk.. bathin Olivia yang terus menatap yudha menyuapi vanila
"dokter berry, aku rasa aku ingin pulang " Olivia pun pergi
"oliv tunggu " berry pun mengejar
sedih dan menangis, olive berjalan menuju mobilnya
"seperti nya dokter olive gagal move on, matanya masih benci menatap ku mesra padamu " ucap vanila
"itu bukan urusan ku sayang, dari dulu aku hanya anggap Olivia itu teman sejak ada halida dan sampai halida tiada Olivia tetap cuma teman " yudha singkat..
"bagus lah.. awas saja jika kamu.. masih baper sama dokter itu.. maka aku "
"wah.. wah.. suami polisi ku sudah kendor baut nya tidak sedingin salju lagi " vanila tertawa
"benarkah, sayang ku vanila aku sangat mencintai mu, jadi apapun itu selama untuk kebaikan aku akan mendukung mu " yudha pun mencium pipi vanila
"nakal.. ini tempat umum " vanila malu..
"kalau, begitu ayo kita cek in ke hotel " bisik yudha
"polisi nakal.. berani ajak cewek cantik cek in ya.. " goda vanila
"ha.. ha.. tentu yang penting cewek itu istriku sendiri, ayo aku sudah siapkan kamar president suit untuk kita "
rupanya yudha sudah menyiapkan kejutan romantis untuk istrinya..
moment ini akan terasa sangat berarti mengingat akan ada banyak masalah..
sayang ku vanila..
selagi waktu ini masih kita bisa nikmati untuk berdua, aku akan manfaat kan waktunya..
sebab aku takut kehilangan dirimu..
__ADS_1
mobil yudha pun menuju hotel..
sementara Olivia yang menangis berhasil di kejar berry..
"Olivia tunggu " berry berdiri di depan Olivia
"dokter, aku mau pulang, aku kesal sama dokter " olive menangis
"salah aku apa? " tanya berry
"ide double date itu, aku gak suka " Olivia kesal
"kenapa? kamu bilang sudah move on, tapi sekarang kamu masih baper-baperan lihat yudha vanila " tatap berry
"iya, aku gagal move on " olive menangis
"tapi ingat cinta mu itu sudah usai, tidak boleh ada cinta bagi suami orang " tegas berry
Olivia diam menatap berry namun air matanya terus menetes
"aku tahu, itu salah mencintai pria yang sudah menikah itu salah, tapi aku bisa apa? yudha adalah pria yang aku sukai sejak 5 tahun lalu, meskipun ada halida aku tetap menyukainya, tadinya aku pikir setelah kematian halida aku punya celah untuk masuk merebut hati polisi tampan itu tapi tidak, apa kurangnya aku, aku dokter, cantik dan dari keluarga kaya, cocok untuk jendral seperti yudha.. tapi kenyataan dia tidak pernah mencintai ku.. " Olivia terus menangis
"Olivia " berry pun reflek memeluk Olivia erat
seakan menemukan sandaran, Olivia tidak galak dan judes dia malah menangis di dada berry..
"kamu pasti, ketawa ya.. melihat tingkah bucin aku, dokter galak yang gagal move on " Olivia berusaha menghapus air matanya
"jangan suudzon, gak justru aku senang hari ini aku bisa melihat sisi lain dari dokter Olivia Wijaya, dokter cantik tapi judes, sebenarnya kamu memiliki hati yang baik, buktinya cinta mu tidak membuat toxic, kamu ikhlas melepas yudha "
"takdir dokter, yudha bukan jodoh ku, beberapa saat aku pernah berfikir untuk merebut nya dari vanila, tapi aku sadar percuma aku memperjuangkan pria yang tidak pernah mencintai ku, itu akan malah menyakiti diri ku sendiri "
"bagus lah, itu artinya kamu sudah makin dewasa " puji berry
ternyata dokter berry, tidak serese itu buktinya berry jadi teman curhat yang baik ya
“udah dok, udah malem kita pulang yuk "pinta Olivia
" tunggu, Olivia tak bisakah hatimu membuka hati untuk pria lain selain yudha? "tanya berry dengan mata serius
" aku pun sangat ingin melakukannya dokter, tapi menemukan orang yang tulus mencintai kita itu tidak mudah, aku melihat ayahku begitu bahagia saat menikahi ibu ku pamela, sebab ibu pamela bukan cuma menikahi ayah ku, tapi dia menerima seluruh kekurangan ayah ku termasuk, aku anak sambungnya, jadi aku pun berdoa ingin di cintai seperti itu "jawab olive tersenyum tipis
" kalau begitu mulai lah dengan ku, karena aku menyukai mu "
what.. dokter berry nembak aku? dengan ekspresi serius
"boleh, itu pun asal aku yakin kamu sudah move on dari vanila, tapi aku tidak yakin kamu bisa move on, sebab kalian juga terlalu akrab "
"satu bulan, beri aku kesempatan untuk membuktikan rasa cinta ku pada mu, jika dalam satu bulan kamu yakin , aku ingin kita? menikah tapi sebaliknya jika satu bulan tidak ada cinta yang kamu mau, aku ikhlas mundur perlahan "
__ADS_1
Olivia mematung mendengar ucapan dokter berry, bisa -bisanya dia menyatakan cinta sekaligus mengintimidasi..