Polisi Dan Gadis Penakluk

Polisi Dan Gadis Penakluk
kebencian


__ADS_3

usai dari pengadilan vanila dan yudha buru -buru datang ke rumah sakit untuk menjenguk umi yang mendadak masuk UGD


"yuna umi gimana? " tanya yudha


"umi di ICU mas, nafasnya sesak jadi butuh oksigen " jawab yuna


"syukur lah umi tidak apa -apa " vanila lega


"tunggu, vanila kamu tidak boleh masuk cukup mas yudha saja yang masuk " tangan yuna menarik vanila


"tapi, vanila dan mas juga khawatir " tatap yudha


"mas ini juga gara -gara vanila, istri mu ini keterlaluan nekat membuka kembali kasus paman samer otomatis ayah juga terlibat, harusnya vanila bersyukur memiliki mertua yang begitu menerima dan mencintai nya tapi malah apa ini? sok bela ayahnya yang sudah bejat " umpat yuna


"mbak yuna " yuka mengeleng


vanila pun menatap yuka dengan perasaan sedih dan kesal


"aku minta maaf untuk ulah ku yang sudah buka kembali kasus paman samer, tapi aku gak Terima kamu bilang jika ayah ku itu bejat, makanya biarkan sidang ini berlanjut agar kita tahu siapa yang baik dan sebenarnya brengsek " vanila makin mendekati yuna


"sudah cukup, ini rumah sakit kalian tidak boleh berisik, silahkan masuk tapi cukup.. 2 orang " berry memecah perselisihan


"aku tetap tidak mau vanila masuk " yuna makin marah


"mas kamu saja yang masuk, aku menunggu di luar " vanila pun mengalah


untuk mencegah perdebatan berry pun mengajak vanila ke kantin untuk minum coffe


"bagaimana sidang hari ini lancar kan? " tanya berry


"ya, sesuai yang aku mau tapi kamu lihat masalah baru sudah muncul " vanila menghela nafasnya


"memiliki ipar tempramen seperti yuna kamu harus banyak belajar lebih sabar lagi gadis penakluk " berry tersenyum


"kamu benar, tapi minggu depan sidang saksi kunci akan di hadirkan, semoga saja semua berjalan lancar " vanila yakin pada dirinya


"wah.. kamu sudah mirip detektif, gadis nakal juga cerdik " berry mengusap rambut vanila


namun dari kejauhan Olivia yang ingin ikut menyusul berry di kantin terhenti langkahnya, aku cemburu melihat berry perhatian pada vanila, bathin Olivia..


di ruang ICU, umi nampak lemah dengan alat bantu pernafasan


"Assalamu'alaikum, umi yudha datang " bisik yudha


"mas, kamu sudah di sini " umi pun sedih


"umi kenapa? kok bisa ada di ICU " yudha mendekati wajah umi


"umi cuma capek mas, vanila dimana istri mu? " tanya umi sambil melirik ke segala arah

__ADS_1


yudha pun menarik nafasnya dan memeluk erat uminya


"mas umi tanya kamu tidak ribut dengan menantu umi kan, ayo jawab " umi khawatir


"aku tidak ribut, tapi yuna berdebat kecil vanila tidak boleh masuk ke sini " jelas yudha


"mas ini yang umi takut kan akhirnya terjadi saat umi tahu vanila anak dari Abraham, gadis cantik pemberani itu pasti akan meminta keadilan untuk ayahnya " umi sedih


"umi tidak marah kan? " tatap yudha


"tidak mas, vanila hanya ingin keadilan, umi cuma syok, karena bagaimana pun jika kasus ini kembali di buka, ayah ikut andil di dalamnya "


"makasih umi.. " yudha mencium umi


vanila pasti senang jika tahu, umi begitu bijaksana bathin yudha


namun bathin umi yudha berkata lain, mas yudha umi takut, ayah memang salah dan hari itu makin dekat hari pertanggungjawaban semuanya, dan bikin syok lagi anak Abraham itu vanila istri yudha menantu ku yang cantik dan pintar, vanila tidak mungkin berani membuka kasus ayahnya jika dia tidak memiliki bukti banyak.. umi menangis dalam hatinya..


di kantin akhirnya dengan bete Olivia tetap datang mendekati Berry


"hm.. asyik amat ngobrolnya boleh aku ikut gabung " olive datang


"olive, tentu silahkan duduk " ucap vanila


aura wajah jutek Olivia kembali terlihat jelas, vanila sadar jika Olivia cemburu dan semakin ingin menggoda nya


"kepala ku sedikit pusing, Berry mengajak ku untuk minum coffe, aku ikut aja " vanila santai


"apa jadi dokter Berry duluan yang ngajak kamu " olive melirik Berry


"iya, aku yang ngajak duluan, vanila itu kan adik ku juga sekarang tidak salah kan " Berry tersenyum


"tidak dokter bukan sekedar dokter, aku pun teman wanita mu yang sangat cantik, pasti kamu rindu moment seperti ini berdua dengan ku kan " vanila makin sengaja


vanila.. sudah tahu Olivia bete.. sengaja makin membakar, tapi tidak apa lah sekaligus test seberapa banyak kadar cintanya untuk ku, bathin Berry


"benar sejak menikah dengan polisi itu aku tidak punya kesempatan untuk nostalgia dengan si gadis penakluk yang cantik, jadi tidak apalah sesekali " Berry ikut menggoda


"jadi kalian sengaja, benar -benar ingin nostalgia begitu, kamu vanila bukannya bersyukur sudah punya suami polisi yang sangat mencintai mu, tapi malah masih berpikir dengan untuk minum coffe dengan pria lain " olive marah


melihat ekspresi marah Olivia, vanila dan Berry tertawa lucu..


"ha.. ha.. Berry ternyata benar yang kamu bilang tentang Olivia " vanila tertawa


"apa maksud mu vanila, kenapa tertawa? " Olivia bingung


saat seru menggoda vanila chat masuk jika yudha menyuruh vanila segera datang ke ICU


"ok, suami ku yang tampan sudah menyuruh ku kembali, aku permisi dulu " vanila pergi sambil tersenyum

__ADS_1


"vanila tunggu, kamu belum jawab pertanyaan aku " olive juga hendak bangun


"jangan pergi, tetap di sini " cegah Berry


"tapi vanila tidak meneruskan kalimatnya, aku kesal " oliv cemberut


"aku yang akan jawab, dokter Olivia apakah kamu jealous? " tatap Berry


"jealous, ti.. ti.. tidak " olive gugup


namun Berry makin mendekati wajah Olivia


"kalau tidak berarti kamu tidak menyukai ku " Berry memancing


deg.. jantung olive makin berdebar


"sudah lah berarti aku sia -sia deketin kamu " Berry hendak pergi


"iya, aku cemburu melihat anda dan vanila ngobrol di sini, bukan kah anda bilang akan membuktikan keseriusan anda dalam satu bulan, tapi kenapa? malah ngobrol asyik dengan vanila di sini "


mendengar ucapan Olivia, Berry tersenyum


"Terima kasih sudah menyukai ku, vanila itu cuma masa lalu dan statusnya adik ku, dan kamu masa depanku calon nyonya Berry nugraha " Berry mencium tangan Olivia


seketika hati Olivia pun berbunga -bunga...


vanila pun akhirnya masuk ke ruangan ICU


"umi, tidak apa -apa? " tanya vanila


"vanila mantu umi, umi tidak apa, sini peluk umi " pinta umi


akhir nya umi dan vanila pun berpelukan


"vanila, umi minta maaf untuk kasus Abraham, umi tahu pasti di hati mu ada banyak kebencian pada samer , iya kan " bisik umi


"umi harusnya aku yang minta maaf, kalian adalah keluarga ku, tapi aku sudah berani membuka luka ini, aku minta maaf " vanila menangis


"tidak sayang, kamu sudah benar yang kamu minta itu cuma keadilan, umi paham, umi cuma minta maaf jika ayah prasetyo terlibat di dalamnya "


dugaan ku.. benar ayah prasetyo juga terlibat..


ya.. Allah dilema apa ini?


aku menyayangi keluarga mertua ku...


.


tapi semua ini akan menimbulkan kebencian, apalagi jika ayah di tahan, yuna pasti makin benci aku....

__ADS_1


__ADS_2