
semua senang dengan hasil bukti pengakuan leon
pak yudha pun mentraktir kami minuman coca cola dan Pepsi tak lupa burger dan pizza juga
"nila kok pak yudha gak makan? " tanya donna
"pasti pak yudha cemburu kali lihat vanila mesra sama leon " ucap semua tertawa
benar kah pak yudha cemburu, itu kan hanya acting
ku bawakan cola dan burger, menyusul naik ke atas tempat yudha berdiri
"apa mas yudha mau minum? " nila memberi botol cola
"tidak kamu saja "
"kenapa sih? kok diam saja, bukan nya harus nya kamu senang kita sudah lebih banyak dapat bukti " nila sambil terus makan burger
"iya aku senang aku bangga kamu sangat pintar tapi aku cemburu melihat ke kasih ku mesra dengan pria lain " yudha melihat ku
polisi ku cemburu?
"ini kan cuma acting kalau aku tidak mesra mana mungkin leon percaya aku mencintai nya, lagi pula ini kan rencana mu "
"benar ini rencana ku, tapi aku terjebak saat cinta ini mulai mekar dan tumbuh aku ini posesif, aku tidak bisa melihat mu terus berpelukan dengan pria lain " yudha masih terlihat kesal
"pak mayor bukankah ini misi negara, demi kepentingan orang banyak, aku harapkan mengerti lah" vanila asyik makan burger
saat saus burger menempel di pipi nila, gerakan yudha sungguh cepat mengelap pipi nila dengan bibir nya
"mas yudha, nanti ada yang lihat" nila kaget
"biar kan saja, apa salah nya "
"kita masih harus Backstreet sampai misi ini selesai, aku tidak ingin ke 4 teman bodoh ku itu jadi aneh menatap ku" jelas ku
"ya, aku pun tidak ingin orang berpikir an buruk tentang mu, tapi ingat jaga hati mu hanya untuk ku " tangan yudha memeluk pinggang ku
"iya, tapi apa pun yang aku lakukan saat bersama leon, berhentilah cemburu itu hanya acting"
"iya sayang" bisik yudha
polisi ku cemburu, gemas sekali melihat pria yang selalu tegas dan berwibawa, cemburu seperti abg
saat kami di balkon, ada telfon dari umi yudha
umi menyuruh ku, untuk datang ke rumah nya
yudha pun binggung, kenapa? umi menyuruh vanila ke rumah
aku pun sampai di rumah, umi sudah me nunggu kami di ruang keluarga dengan cake vanila kesukaan ku
"ayo vanila di makan ya " pinta umi
__ADS_1
"ma kasih ya, umi sudah buatin cake vanila kesukaan vanila " aku senang
"dulu saat kamu masih sekolah bareng yuka, kamu sering bantu umi bikin kue "
"iya benar, itu sudah 7 tahun lalu, yuka saja sudah menikah dan punya anak, umi masih ingat "
"kamu ada lah salah satu teman yuka yang paling pintar juga cantik, cuma agak nakal" umi senang
"umi dulu aku ke sini gak pernah lihat mas yudha, dia kemana? waktu itu" tanya ku
"mas yudha belajar akademik di bandung dan sempat ikut pelatihan di libanon "
"memang dulu gadis nakal ini sering ke rumah kita umi " tanya yudha yang tiba-tiba duduk di samping ku
melihat yudha di samping ku, umi tersenyum..
aku malu geser perlahan
"iya sering sekali, cuma pas 2 tahun belakangan sejak vanila dekat dengan faris, kamu tidak ke sini lagi, vanila kamu sabar ya melihat faris sudah menikah "
ucapan umi bikin aku cukup sedih
"gak apa-apa umi, mungkin tuhan punya jodoh lain yang lebih baik dari faris "
"Ngomong-ngomong kemarin olive juga melihat kamu katanya sudah punya pacar seorang pengusaha apa itu benar nak" umi penasaran
mata ku dan yudha saling menatap
"vanila leon itu memang pengusaha sukses, tapi umi dengar leon bukan pria baik, jauhi saja ya nak, umi tidak ingin kamu di permain kan pria itu " umi sedih
wajah khawatir seorang ibu ini yang aku rindukan
"umi yudha, bisa jelas in sesuatu, tapi yudha mohon umi janji jangan beritahu siapa pun "
yudha pun ber cerita semua pada umi
"jadi mas yudha buat vanila jadi pancingan, jangan mas kasihan, gadis secantik vanila masuk kandang macan"
"umi tidak apa -apa aku senang jika bisa berguna "
"benar kan umi vanila juga setuju " yudha tersenyum
"umi lagi pula, aku juga tidak sebaik itu, aku " nila gugup
aku bilang saja ya, jika aku tidak sebaik itu
yudha mengeleng tidak setuju
aku takut, umi jadi berubah tidak menyukai mu
"umi aku tidak sebaik itu, aku juga punya Sisi nakal yang luar biasa, makanya mas yudha berani menyuruh ku untuk misi ini"
vanila pun cerita tentang kisah ini, umi cukup kaget
__ADS_1
tidak menyangka vanila seberani itu
"nak umi cukup kaget dengar nya, boleh umi tahu kenapa? vanila begitu berani pada mereka "
"aku sering sekali datang untuk minta Sumbangan para penguasa, mulai dari politikus, pengusaha, sampai pemimpin daerah tapi mereka begitu pelit tapi tiap malam di cafe ratusan juta di buang hanya untuk para wanita penghibur, aku terima jika umi risih dengar cerita ku, aku cuma kesal saat panti terbakar, otak ku mulai berputar untuk mencari uang dengan cepat meski aku tahu itu salah " vanila menunduk malu
aku rasa setelah ini, cinta ku dan mas yudha hanya akan jadi khayalan mengingatkan keluarga yudha Muslim yang taat
"umi, yudha juga salah tidak bilang dari awal " yudha panik
"vanila sayang, tidak apa -apa mungkin itu proses dalam hidup mu, untuk jadi orang lebih baik, umi yakin vanila dalam hati nya cukup baik cuma belum terarah "
ucapan umi yang bijak, bikin aku senang
"terima kasih umi bisa bijak, umi aku mohon jangan beritahu bunda tentang aku dan misi bersama mas yudha, aku tidak ingin darah tinggi bunda kumat " nila me mohon
"iya sayang " umi setuju
"benar kah vanila umi itu sangat baik dan juga bijak " puji yudha
"mas yudha puji umi, apa maksud nya " umi curiga.
"gak apa -apa mi " yudha gugup
"vanila kamu gadis kuat dan hebat, umi tahu dalam hidup kamu mengalami banyak cobaan termasuk ibu faris bunda yang bilang itu ke umi, jangan khawatir wanita baik pasti punya jodoh yang baik "
"benar umi "
"kalau vanila belum punya pacar umi, juga punya keponakan yang siap nikah, nila mau kenalan " umi curiga
"siapa umi" yudha kesal
"ridwan dia kan baik, mungkin jika vanila sudah selesai tugas bisa umi kenalin " umi me mancing
"boleh umi, siapa tahu cocok " nila tersenyum
"hei, kamu lupa ada aku di sini " yudha melirik vanila kesal
umi pun tertawa
"akhirnya umi tahu juga kalau mas yudha cemburu sama vanila, kalian terjadi sesuatu "
semua gara -gara mas yudha
"ayo jawab, kalian cuma diam saja " umi pun menatap kami
"kami saling menyukai umi, dan mas yudha ng aku sudah jatuh cinta pada vanila " tegas yudha
"umi sudah tahu dari awal, melihat senyum mas yudha melihat vanila, umi setuju "
benar kah umi setuju..
aku bahagia sekali..
__ADS_1