
hari ini sesuai jadwal aku pun mengadakan acara jumat berkah di rumah lapas tempat mas yudha bekerja
"ibu jendral ide mu sangat cemerlang mengadakan acara jumat berkah" puji yudha
"iya, tentu bukankah kita memang harus berbuat baik pada semua orang "
"good kamu yang terbaik sayang.. "
"selamat siang jendral, semua acara sudah siap, kita kumpulkan semua tahanan di lapangan atau? " tanya Felix
"jendral.. boleh aku minta perubahan, aku ingin membagikan bingkisan itu langsung ke lapas mereka, maksud ku, aku ingin mendatangi mereka satu persatu, biar tidak ada jarak " pinta vanila
"kamu yakin, ini rumah tahanan kamu tidak takut " yudha ragu
"polisi apa anda lupa siapa? aku? istri jendral, mana mungkin takut " vanila tersenyum
akhirnya yudha setuju, namun aku tetap di kawal secara ketat, bersama para anggota persit yang lain dan di temani ibu agustin, satu persatu aku datangi
kamar 123 milik siapa?
saat otak ku sedang berfikir, aku pun tiba di kamar lapas narapidana gembong narkoba, iya itu milik Leonardo
"assalamu'alaikum, jumat berkah semoga bermanfaat" ucapku
iya bingkisan berupa alat sholat sarung dan peci tak lupa Al-quran kecil, dan roti juga cemilan seadanya
"aprilia tunangan ku " senyum Leon mengembang
"bagaimana kabar mu? " tanya ku
"baik.. kamu makin cantik.. tapi aku kesal bukan aku yang jadi suami mu, tapi polisi sialan itu "
yudha memperhatikan dari jauh dan langsung datang
"siapa yang kamu sebut polisi sialan " bentak yudha
"sudah, jendral jangan baper semakin kamu kesal Leon makin senang, yang penting kamu suamiku bukan Leon " vanila gandeng tangan yudha
"tapi tetap saja aku lebih cocok padamu vanila daripada polisi galak mu " Leon makin sengaja
"Leon sudah lah cukup., kalau kamu makin nakal aku akan adukan pada danielo putra mu "
"jangan vanila aku rindu sekali padanya "
"sebentar lagi liburan sekolah, danielo akan datang ke Jakarta " tambah ku
"benarkah, seperti biasa tolong kirim foto putra ku "
"ok, tapi berhenti lah goda polisi ku "
"ha.. ha.. siap ibu jendral cantik "
ekspresi yudha tetap.. tidak suka
berhenti lah di kamar 123 tapi kamar ini begitu tertutup
"mas, kok di kunci juga rapat bangat siapa di dalam? "
"jangan sayang, itu ******* kelas kakap.. dan mantan gembong narkoba juga "
__ADS_1
"boleh aku masuk? " pinta vanila
Felix pun datang dengan ekspresi tidak enak
"maaf jendral narapidana kamar 123 sudah seminggu ini tidak mau makan, mungkin dia sakit "
"mas tolong ijinkan aku melihatnya "
"baik lah, buka pintunya " perintah yudha
kamar yang sangat sempit.. juga lampu kecil.. hanya ada tikar dan tumpukan baju sebagai bantal
aku melihat seorang pria yang rambutnya separuh memutih sedang menggigil dingin
"bapak anda tidak apa -apa " vanila panik
"stop, sayang jangan sentuh dulu biar dokter klinik di tahanan dulu yang periksa "
wajahnya nampak pucat..
"mas pria ini siapa namanya? " aku sangat penasaran..
"Abraham Khan asal keturunan Turki tapi ber passport Singapura "
aku tetap mendekat dan duduk di samping si bapak
"air.. aku harus tolong ambilkan air " matanya tertutup
"ini pak, aku punya botol air mineral, ayo aku bantu minum "
namun kaget lagi, rupanya si bapak hanya memiliki satu mata, yang sebelahnya luka..
tim medis pun segera memeriksa, rupanya si bapak terkena tipes harus di bawa ke rumah sakit polri untuk dapat perawatan..
"mas, sebelum pulang aku boleh jenguk narapidana 123 ya? "..
" sayang sebenarnya ada apa? kamu begitu tertarik padanya "yudha curiga
" tidak aku hanya ingin menolong, alasan kemanusiaan"vanila meyakinkan
akhirnya yudha pun setuju tapi katanya cukup 20 menit sama seperti jam kunjungan
di kasur itu pria itu tampak berkeringat tapi panas dingin
"ibu jendral, Terima kasih jumat berkah untuk saya anda kesini, akhirnya saya bisa di bawa ke rumah sakit untuk berobat " ucap Abraham
"sama -sama, bapak sudah baikan? " tanya ku yang duduk di samping kasur
"sudah lebih baik, pantas saja jendral memilih mu jadi istri, hatiku secantik wajah mu "
perasaan apa ini? hangat sekali saat berbicara padanya
"Abraham, istriku sudah sangat baik pada mu, apa kamu tidak ingin membalas nya " ucap yudha
"tentu jendral, apa yang bisa saya bantu? " tanya Abraham balik
"beritahu kami, siapa saja komplotan mu? sejak 20 tahun lalu, kamu tidak juga menjawab "
pria itu hanya tersenyum..
__ADS_1
"pak polisi, pengadilan sudah memvonis saya seumur hidup itu sudah cukup bagi saya, tidak guna saya bela diri "jawab Abraham terlihat datar
" tunggu boleh aku tahu apa yang membuat anda di penjara? "tatap vanila
" sayang Abraham di dakwa sebagai *******, pelaku bom gereja dan memiliki pabrik kokain mancanegara "tegas yudha
" jadi anda sejahat itu pak? "vanila kaget
" ibu jendral, polisi mu sudah memvonis aku bersalah selain menerima aku tidak punya pembelaan "
hatiku sakit sekali.. dengar fakta
"apa? aku memang tidak kenal anda dan masa lalu anda? tapi kejahatan anda sudah banyak membuat orang lain menangis dan anak -anak yatim terlantar, contohnya aku tidak memiliki orang tua dari lahir, tapi kejahatan anda sudah membuat anak yang tak berdosa juga jadi yatim" vanila sedih
alarm pun berbunyi tanda 20 menit sudah habis..
"cepat sehat ya, aku segera pamit " vanila pun berdiri dari kursinya
"ibu jendral, boleh kah jumat depan mohon kesini lagi ya, saya senang sekali ini kali pertama saya di jenguk, karena saya asing di Indonesia"
aku melihat sorot mata Abraham menyimpan banyak kesedihan
"mas aku pamit pulang ya " vanila mencium tangan yudha
"tunggu wajah mu, terlihat sedih jangan bilang kamu tersentuh dengan ******* itu " mata yudha tidak suka
"mungkin karena yatim piatu jadi kadang gampang tersentuh apalagi pria itu seumuran ayah kan " jawab ku
"benar bahkan menang ayah mu yang menangkap ******* itu hendak membawa beribu barang haram, 24 tahun lalu "
deg.. kalimat yudha bikin vanila syok.. apa pria tadi yang di maksud ibu pamela?
tapi apakah kenyataan sekejam itu ayahku *******
setelah baksos, vanila pun mampir ke cafe miliknya
"halo semua " ucap ku duduk
"bu jendral ada apa gerangan terlihat tidak karuan? " donna duduk di dekat ku..
"mungkin aku cuma capek " vanila menempel kan pipinya di meja
"makanya jangan jadi istri polisi, jadi istri dokter saja kamu tinggal duduk manis menunggu suami pulang " ucap berry yang baru datang
"berry kamu mau mati ya jika pak yudha dengar habis lah kamu " tatap dona
"aku tidak takut, jika itu memang di pertaruhkan untuk dapat vanila "
"dasar gombal.. " vanila tersenyum
rupanya olive juga sedang ada di mall
sengaja memfoto vanila yang duduk santai dengan berry..
"dasar gadis liar, meski sudah menikah mas yudha harus tahu kelakuan centil mu " olive terus menfoto dan merekam.. video
di tambah lagi berry dan vanila sangat akrab
berry tak sungkan mencubit pipi vanila
__ADS_1
waduh.. jika polisi bucin tahu gimana ya??