Queen Sword

Queen Sword
Eps 10 Bertemu dengannya


__ADS_3

Saat Rubia tengah sibuk berlatih pedang bersama para ksatria di tempat latihan pasukan ksatria tiba tiba Duke Harington datang bersama dengan Putranya dan membuat sebuah pengumuman yang mengatakan bahwa mulai hari ini dirinya akan mengambil pensiun lebih awal karena cidera lengannya yang cukup parah saat berada dimedan perang, dan atas perintah Kaisar Putranya Sir Axel Harington yang akan menggantikannya sebagai ketua pasukan ksatria. Dipilihnya Sir Axel bukan tanpa alasan, sejak Ayahnya pergi ke medan perang Axel lah yang menggantikannya memimpin ksatria yang mengawal keamanan Raja dan Ratu diistana.Setelah itu Duke Harinton dan Axel pergi setelah menyelesaikan urusan mereka bersama para pasukan ksatria, Rubia hanya melihat mereka dari kejauhan.


Fiona menghampiri Rubia "Yang Mulia, Baginda Kaisar meminta anda menemuinya" bisiknya ditelinga Rubia.


Rubia mengangguk dan berjalan keluar dari tempat latihan pedang, sampailah Rubia didepan pintu ruang kerja Kaisar, Rubia segeraa masuk dan Fiona menunggu diluar ruangan.


Ketika Rubia membuka pintu didalam sana telah ada Raja,Ratu, Duke Harington dan Axel Harington yang serentak melihat kearahnya,di atas meja terlihat beberapa piring camilan biskuit dan masing masing secangkir teh dihadapannya, perasaan Rubia sudah tak enak.


Rubia memberi salam kepada Raja dan Ratu "Anda memanggil saya Yang Mulia" ucap Rubia dengan raut wajah kaku khas ksatria.


"Ya, kemari dan duduklah" ucap Kaisar santai.


"Aku sudah membicarakan tentang ini kepada Duke dan Putranya tentang pertunangan kalian berdua" Rubia tak merasa kaget karena ia bisa menilai situasinya begitu masuk kedalam ruangan ini. "Bagaimana menurutmu Rubia?"


Situasi yang canggung sekaligus aneh, untuk apa Kaisar meminta pendapat kepada Rubia jika telah membuat keputusan? Tapi itu adalah pertama kalinya Kaisar meminta pendapat darinya.


"Saya akan mengikuti keputusan anda Yang Mulia" ucap Rubia tenang, ia tak memiliki pilihan lain selain menyetujuinya, jika ia menolak maka ia akan dianggap telah menghina Kaisar dan Duke Harington.


"Keputusan yang bagus Rubia, kau harus memiliki pendamping yang bisa menutupi kekuranganmu sebagai wanita, dan sir Axel Harington adalah pasangan yang paling tepat untukmu"


Deg, lagi lagi Rubia harus mendengar kata kata seperti itu dari Kaisar, Kaisar sengaja menekankan kata katanya dengan maksud bahwa dirinyalah yang lebih hebat dari Putrinya, dan Rubia harus menerima bantuan dari pihak luar untuk menjadi Kaisar masa depan.Rubia hanya bisa mengepalkan tangannya untuk menahan kata kata yang melukai harga dirinya sekian kalinya.


"Pertunangan kalian akan dilaksanakan bersamaan dengan pesta perayaan kemenangan perang dua hari lagi" ucap Ratu yang sesekali menyeruput minumannya.


"Baik" jawab Rubia dan Axel bersamaan.


"Karena kalian berdua sudah dekat dari kecil pasti kalian akan menjadi pasangan yang sangat harmonis, benar kan Duke? hohoho"


"Ya, tentu Yang Mulia" jawab Duke sembari melirik kearah putranya.


Kedua orang tua tampak bahagia dengan rencana tersebut, namun Axel dan Rubia sendiri mengetahui dengan jelas tentang bagaimana hubungan mereka berdua selama bertahun tahun, Axel melirik kearah Rubia yang hanya terdiam, dia sangat tahu bahwa Putri tak menyukainya tapi terpaksa harus menerimanya,Axel tersenyum dengan kecut di hadapan Raja dan Ratu.


Rubia kembali ke kamarnya setelah mengalami situasi yang tak menyenangkan itu, ia duduk dengan menyenderkan kepalanya di meja, Fiona yang berada dibelakangnya memperhatikan


Tuannya itu.


"Apa ada yang membuat anda kesal Yang Mulia?" tanya Fiona.


"Ya, ada"


Fiona segera mengangkat pedangnya "Siapa itu?"


"Kaisar"

__ADS_1


"Ha?Emm eheemmmm" ia berlaga membetulkan rangka pedangnya.


Rubia bangun dari duduknya "Aku harus ke suatu tempat"


"Apa yang akan anda lakukan?" ia mengukuti Rubia yang berjalan ke hadapan lemarinya.


"Kau juga ikut, gantilah bajumu dengan ini" Rubia memberikan baju yang biasa dipakai oleh rakyat biasa dan jubah hitam tebal yang menutupi kepala dan setengah wajah.


"Apa ini, anda mendapatkan ini dari mana?"


"Rahasia"


"Apa kita akan keluar diam diam Yang Mulia?"


"Ya, tentu saja kita harus melakukan hal seperti saat di medan perang kan"


"Yang Mulia, bagaimana jika Baginda Kaisar tahu dan anda dihukum?"


"Makannya jangan sampai tahu, cepatlah"


"Ya, baiklah"


Tak lama mereka berdua keluar diam diam melalui jendela dan berjalan melewati atap, tak heran jika ada penjaga yang melihat dan mengira mereka adalah penyusup, untunglah disekitar istana Rubia tak banyak penjaga yang berjaga,karena istana Rubia yang jauh dari istana Raja dan Ratu, sehingga mereka bisa melompat pagar dengan mudah. Mereka berjalan bersama melewati kerumunan di tengah pasar dipinggir jalan. Suara para pedagang yang berisik menawarkan dagangan mereka hingga suara riuh anak anak tertawa menandakan bagaimana kehidupan para rakyat di tanah ini, dan pemimpinnya, namun ada sesuatu yang mengusik Rubia tentang hal yang tak sengaja ia dengar di perbatasan.


"Kita sedang menyamar, jangan panggil aku seperti itu"


"Yayaya, tapi anda harus mengatakan apa yang sedang anda cari sehingga saya bisa membantu anda"


"Sesuatu yang kudengar dari orang orang diperbatasan"


"Apa maksud anda yang itu?"


"Ya, kuharap fikiran kita sama"


Dukkkkkk! Langkah Rubia Terhenti karena menabrak sesuatu, ia melihat pria yang ditabraknya tampak sibuk menatap apel apel merah yang jatuh dan berserakan di tanah, bahkan beberapa dari apel itu terinjak oleh orang yang berlalu lalang.


Rubia memberikan isyarat kepada Fiona untuk memberikan uang ganti rugi apel tersebut, Fiona melemparkan kantong kecil berisi koin emas,yang bisa membeli lebih dari segerobak apel merah kepada pria itu, pria itupun menangkapnya dengan kaget, Rubia kembali berjalan dan melalui pria yang masih menatap sayang apel apelnya.


Tiba tiba seseorang pria yang memakai jubah hitam seperti dirinya memegang lengannya dan menghentikannya, Rubia menoleh ke arah tangan pria itu yang sudah menyentuhnya.


"Hei, apa yang kau lakukan, siapa dirimu berani beraninya kau menyentuh tangan Nona yang berharga!" teriak Fiona sembari mengangkat pedangnya.


"Tunggu Fiona, sepertinya ada yang ingin pria ini katakan kepadaku, masukkan kembali pedangmu, anak anak yang melihat akan ketakutan" ia mengamati sekitarnya, mereka yang mulai menjadi pusat perhatian.

__ADS_1


"Baik"


"Ikut aku!" Pria itu menarik tangan Rubia dan menyeretnya ke sebuah gang sempit yang tak jauh dari sana, Fiona lekas mengikuti sembari waspada, ia kembali mengeluarkan pedang tajamnya, namun Rubia menghentikannya dengan tangannya dari kejauhan.


"Kai, kemarilah" ucap pria itu menyuruh adiknya menghampiri mereka.


"Kau, minta maaflah kepada adikku" ucapnya galak kepada wanita yang dia anggap tidak sopan itu.


"Kak Ferderick, sudahlah"


"Tidak bisa, wanita ini harus minta maaf padamu"


Rubia masih melihat tangan pria itu yang belum melepaskan tangannya "lepaskan dulu baru bicara" rubia mendongakkan wajahnya melihat wajah pria dihadapannya, mata mereka berdua saling bertemu, mata biru laut yang dingin seakan mampu membekukkan siapapun yang menatapnya, itulah kesan pertama Ferderick melihat mata Rubia.


Ferderick segera melepaskan tangannya sembari mengalihkan pandangannya, Fiona maju melindungi Rubia.


"Apa yang kau lakukan? bukankah kami sudah memberikan uang ganti rugi apel?"


"Hahhh.. perilaku tidak sopan seperti itu kau anggap sebagai ganti rugi, dasar bangsawan menjijihkan!' gumam Ferderick lalu menarik tangan Kaisan menjauh. Ia pikir tak ada untungnya berurusan dengan seorang bangsawan.


"Hei, apa yang barusan kau katakan, dasar manusia rendahan" Fiona meneriaki Ferderick yang terus menjauh dan mengabaikannya.


"Cukup Dame Fiona, redakan amarahmu"


"Dasar laki laki muda mengesalkan, dia pikir siapa dia, berani beraninya mengatai saya menjijihkan, haruskah kubunuh saja Yang Mulia?"


Rubia kembali berjalan dan Fiona mengikutinya  "Apa kau yakin bisa membunuhnya"


"Mengapa tidak?"


"Aku merasakan aura dan mana pria itu yang tak dimiliki oleh orang biasa"


"Apa anda benar bisa merasakan hal seperti itu?"


"Tentu saja, begini begini aku tetaplah keturunan Baginda Alexander"


"Apa maksud anda begini begini? Saya tahu anda orang yang luar biasa"


"Terimakasih atas pujiannya, tapi aku tak tersentuh"


"Eyyyy.. ayolah Yang Mulia tersenyumlah kalau anda senang dengan pujian saya"


Bersambung................

__ADS_1


__ADS_2